Pilar

November 15, 2006

Injil Thomas

Filed under: Wacana — noviz @ 6:42 am

Yesus Sejarah yang secara kontroversial diramaikan kembali oleh adanya Jesus Seminar sangat berkaitan erat dengan apa yang disebut sebagai ´Injil Thomas´. Injil Thomas bukan saja dijadikan salah satu buaian Jesus Seminar, namun juga dijadikan komoditi cerita-cerita fiksi sekitar kehidupan Yesus, seperti dapat kita lihat dalam film-film fiksi-sains-alkitab seperti ´Stigmata´ (Patricia Arquette) dan ´The Body´ (Antonio Bandeiras).

Pada tahun 1945-1946 di Nag Hammadi sebuah kota di Mesir di tepi sungai Nil dalam penggalian ditemukan perpustakaan kuno Gnostik Koptik. Dalam perpustakaan itu dijumpai banyak sekali naskah kuno yang ditulis diatas papirus dan dijilid dengan sampul kulit. Yang terkenal dari penemuan itu adalah ´Injil Thomas´ yang ditemukan dalam versi terjemahan Yunani yang berserakan yang diperkirakan ditulis pada tahun 150, dan terjemahan Koptik yang bernafaskan Gnostik yang berisi kumpulan 114 ´ucapan-ucapan rahasia dan perumpamaan yang dianggap sebagai ucapan Yesus´ (logion). Setengah dari isi Injil Thomas ada dalam ke-empat Injil dan setengah lainnya baru. Tepatnya, 47 logion ada dalam Injil Markus, 40 ada dalam Q, 17 ada pada Injil Matius, dan empat ada di Injil Lukas, dan lima ada di Injil Yohanes.
(more…)

Iklan

KAJIAN YESUS SEJARAH DAN SUMBANGANNYA BAGI KEHIDUPAN KRISTEN MASA KINI

Filed under: Wacana — noviz @ 6:41 am

Oleh: Ioanes Rakhmat

1. Pendahuluan

Kajian-kajian tentang “Yesus sejarah” memusatkan penelitian-penelitiannya jelas pada Yesus sebagai seorang manusia Yahudi yang giat mengajar dan berkarya di antara rakyat Yahudi di Palestina pada akhir tahun 20-an dan awal tahun 30-an di abad pertama. Pemusatan perhatian pada Yesus yang manusia jelas berbeda dari pemusatan yang diarahkan pada “keilahiannya” seperti yang menjadi isi dari kredo-kredo atau pengakuan-pengakuan iman yang dirumuskan pada abad-abad keempat dan kelima. Karena “sang Firman itu telah menjadi manusia/daging dan diam di antara kita” (Yohanes 1:14), dan karena kriterion iman yang benar itu ditumpukan pada suatu pengakuan mutlak bahwa “Sang Firman” yang adikodrati itu telah tampil dalam tubuh yang dapat “dilihat dan disaksikan dengan mata” dan dapat “didengar” dan dapat “diraba dengan tangan” (1 Yohanes 1:1-4) dan penolakan atas pengakuan ini menjadikan seseorang itu “anti-Kristus” dan “penyesat” (1 Yohanes 4:2-3; 2 Yohanes 7), maka penelitian atas Yesus sejarah itu memiliki dasar teologis skriptural yang kokoh. Suatu komunitas Kristen yang bukan anti-Kristus dan bukan penyesat adalah suatu komunitas yang memberi tempat penting pada sosok Yesus sebagai seorang manusia dalam kehidupan beriman komunitas ini. Penekanan pada kesejarahan Yesus juga mendapat dasar skriptural yang kokoh pada bentuk Injil-injil Kristen intrakanonik (Markus, Matius, Lukas dan Yohanes) sebagai narasi-narasi teologis biografis historis tentang Yesus yang hidup dalam dunia ini, tentang ajaran-ajaran dan karya-karyanya dalam dunia nyata ini semasa ia hidup. Narasi-narasi biografis historis tentang Yesus yang menjadi bagian dari kanon Kitab Suci Kristen ini telah diabaikan begitu saja oleh kredo-kredo Kristen yang disusun pada masa patristik itu.

Dalam Injil-injil intrakanonik itu (yang ditulis dalam rentang waktu tahun 70 sampai akhir abad pertama) terkandung teologi masing-masing penulis Kitab Injil atau teologi yang berasal dari tradisi-tradisi pra-Injil (pra-Markus), dan elemen-elemen sejarah yang dapat diasalkan pada (attributable to) Yesus dari Nazareth. Penelitian Yesus sejarah, dengan demikian, berusaha untuk memanfaatkan seefektif mungkin dan seilmiah mungkin bahan-bahan sejarah yang tersedia tentang Yesus untuk menghasilkan gambaran-gambaran atau potret-potret alternatif tentang Yesus, selain yang telah diberikan oleh para penulis Kitab Injil atau penulis-penulis lainnya dalam Perjanjian Baru. Dengan demikian, frasa “Yesus sejarah” adalah suatu istilah teknis yang mengacu pada Yesus dari Nazareth yang berhasil direkonstruksi dari bahan-bahan sumber yang tersedia, dengan memakai metode penelitian ilmiah yang dapat diandalkan.

Dalam metode untuk merekonstruksi Yesus sejarah ini, tercakup unsur-unsur berikut: penentuan awal bahan-bahan tulisan apa saja yang dapat digunakan; kriteria (atau tolok-tolok ukur) untuk menentukan keaslian atau otentisitas bahan-bahan tulisan tentang Yesus (the Jesus material); pemakaian disiplin-disiplin ilmu yang saling mengisi (antara lain: kritik teks, sejarah, antropologi dan arkeologi) untuk menghasilkan suatu potret tentang Yesus yang tajam fokusnya; penentuan epistemologi yang digunakan, yakni, penegasan apakah suatu gambaran sejarah itu bisa betul-betul obyektif seratus persen (epistemologi positivis atau obyektivis atau historisis), atau malah subyektif seratus persen (epistemologi subyektivis atau fenomenalis atau narcissis atau solipsisme historis), atau merupakan hasil interaksi berimbang antara obyektivitas faktual dan subyektivitas si perekonstruksi fakta sejarah (epistemologi interaktivis); pengidentifikasian teologi si sejarawan peneliti Yesus sejarah yang pasti berperan dalam ia merekonstruksi siapa Yesus dari Nazareth itu sebenarnya. Unsur-unsur metodologis ini akan diuraikan; lalu setelahnya usaha-usaha menemukan relevansi kajian Yesus sejarah bagi kehidupan Kristen di masa kini akan juga diketengahkan.

2. Sumber-sumber Sastra

2.1. Sumber-sumber Kristen

Sumber utama bagi pengkajian Yesus sejarah adalah ketiga Injil Sinoptik (Markus, Matius, Lukas) dalam Perjanjian Baru. Dari pembandingan antar ketiga Injil Sinoptik ini, dapat diketahui adanya tiga sumber lain: yakni Injil “Q”(note 1); sumber “M” (sumber yang khusus dipakai Matius); dan sumber “L” (sumber yang khusus dipakai Lukas). Di luar Injil-injil intrakanonik, tulisan-tulisan rasul Paulus juga dipakai sebagai sumber. Karena sorotan utama teologi Paulus adalah kematian dan kebangkitan Yesus, maka dari dalam tulisan-tulisannya ditemukan tidak banyak bahan yang dapat dikaitkan dengan ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan Yesus.(note 2) Ada sejumlah tradisi parenetis/wejangan di dalam surat Yakobus (misalnya 5:12; bdk. Matius 5:34-37) dan surat 1 Petrus yang kurang lebih paralel dengan ucapan-ucapan Yesus.(note 3) Ada sedikit rujukan kepada Yesus di dalam surat Ibrani (7:14; juga 5:7-8; bdk. Markus 14:32-34 par.; juga Yohanes 12:27-36a). Di dalam Wahyu Yohanes ditemukan gambaran-gambaran apokaliptik yang sudah muncul di dalam ucapan-ucapan eskatologis apokaliptis Yesus di dalam Injil-injil (lihat Wahyu 3:3; 16:15; dan Q 12:39 [Matius 24:43]).(note 4)

Sejenis dengan Injil “Q” adalah Injil Thomas (disusun paling telat tahun 140 M) yang berisi 114 ucapan yang diasalkan pada Yesus, yang susunannya dibuat berdasarkan asosiasi kata. Injil ini adalah salah satu dari sejumlah besar tulisan (52 traktat) gnostik Koptik yang ditemukan tahun 1945 di Nag Hammadi.(note 5) Separuh dari 114 ucapan ini, meskipun di antaranya ada yang bercorak gnostik, paralel dengan ucapan-ucapan Yesus yang ditemukan dalam Injil-injil Sinoptik. Meskipun paralel, ucapan-ucapan di dalam Injil Thomas ini tidak memperlihatkan ketergantungan pada Injil-injil intrakanonik, bahkan beberapa di antaranya tampak lebih tua. Ada juga sedikit ucapan Yesus lainnya di dalam Injil ini (seperti logia 97, 98, 113) yang tidak terdapat di dalam Injil-injil intrakanonik, tetapi dipandang sebagai ucapan-ucapan otentik Yesus.

Injil Thomas jelas menjadi salah satu sumber sangat penting bagi studi Yesus sejarah.(note 6) Bahkan sekelompok pakar internasional peneliti Yesus sejarah di Amerika Utara yang dikenal sebagai the Jesus seminar (didirikan 1985 oleh Robert W. Funk, dengan mula-mula didukung tiga puluh pakar; kini sudah mencapai dua ratus orang) telah menyatukan Injil Thomas dengan keempat Injil intrakanonik lainnya (Markus, Matius, Lukas, Yohanes) sehingga menjadi lima Injil, dan menerbitkan kelimanya sekaligus dalam satu buku dalam terjemahan baru dalam bahasa Inggris yang disebut terjemahan Scholars Version. Terbitan inovatif ini diberi judul The Five Gospels: The Search for the Authentic Words of Jesus.(note 7) Orang tidak perlu tersentak kaget dengan penempatan Injil Thomas ini sederajat dengan Injil-injil kanonik, sebab bagi suatu kajian sejarah tentang Yesus, semua sumber yang tersedia, baik yang ada di dalam kanon Kitab Suci (= sastra-sastra intrakanonik) mau pun yang ada di luar kanon Kitab Suci (= sastra-sastra ekstrakanonik), dipandang memiliki nilai historis yang sama dan berkedudukan setara dan diperlakukan sederajat.

Sastra-sastra ekstrakanonik lainnya dari kepustakaan gnostik Koptik yang juga dapat digunakan sebagai sumber pengkajian Yesus adalah kitab Yakobus Apokrif (note 8) (awal abad kedua), kitab Dialog Sang Penyelamat (note 9) (abad kedua), dan Injil Orang-orang Mesir (paruhan pertama abad dua).(note 10) Ketiga tulisan gnostik Koptik ini tidak menunjukkan ketergantungan pada Injil-injil Sinoptik.

Injil kanonik yang dapat dikaitkan dengan pandangan (anti-)gnostik adalah Injil Yohanes. Injil ini umumnya tidak dipandang sebagai sumber utama bagi pengkajian Yesus sejarah; bahkan ada yang menyingkirkannya sama sekali, seperti yang dilakukan the Jesus seminar. Tetapi, seperti dicatat Gerd Theissen dan Annette Merz,(note 11) ada sejumlah data di dalam Injil ini yang berbeda dari yang disajikan Injil-injil Sinoptik, tetapi dapat merupakan tradisi-tradisi yang tua, yakni: tradisi tentang murid-murid pertama Yesus yang berasal dari murid-murid Yohanes Pembaptis (Yohanes 1:35-42); tradisi tentang Petrus, Andreas dan Filipus yang berasal dari Betsaida (1:44); catatan-catatan tentang pengharapan-pengharapan politis yang dibangkitkan Yesus di antara orang banyak dan motif-motif politis yang menyeretnya kepada kematian diungkapkan dengan lebih jelas di dalam Injil Yohanes ketimbang di dalam Injil-injil Sinoptik (bdk. Yohanes 6:15; 11:47-53; 19:12); sebagai ganti suatu pengadilan Yahudi terhadap Yesus, di dalam Yohanes 18:19-24 dilaporkan berlangsungnya suatu pemeriksaan yang dilakukan Sanhedrin terhadap Yesus yang mendahului pengadilan Romawi oleh Pilatus; menurut kronologi dalam Injil Yohanes, Yesus mati sebelum perayaan Paskah (18:28; 19:31), dan ini dipandang kebanyakan pakar sebagai lebih mungkin ketimbang penyaliban pada hari perayaan itu sendiri.

Terdapat juga fragmen-fragmen tulisan yang berbentuk Injil, yang memuat suatu kombinasi tradisi-tradisi Yohanes dan Sinoptik, yang dapat digunakan dalam pengkajian Yesus sejarah, yakni: Papyrus Egerton 2 (ditulis sekitar tahun 200) yang memuat suatu debat antara Yesus dan para ahli Taurat dan para pemuka Yahudi yang menuduh Yesus telah melanggar Taurat, dan debat ini berakhir dengan suatu usaha yang gagal untuk melempari Yesus dengan batu; Injil Markus Rahasia; Injil Petrus (disusun paruhan pertama abad kedua); Papirus Oxyrhynchus 840 (dari abad pertama).(note 12)

Ada tiga Injil Kristen Yahudi yang juga dapat dimanfaatkan bagi usaha-usaha menelusuri Yesus sejarah (note 13) Injil Orang-orang Nazareth yang isinya kurang lebih sama dengan Injil Matius, tetapi ditulis dalam bahasa Aram atau bahasa Syria, pada awal abad kedua (antara 80-180); Injil Orang-orang Ebion (abad kedua) yang merupakan suatu revisi atas Injil Matius, tetapi juga memakai dan menyunting bahan-bahan dari Injil Markus dan Injil Lukas, tetapi membuang kisah kelahiran Yesus sehingga pengisahan kehidupan Yesus dimulai dari tampilnya Yohanes Pembaptis dan pembaptisan Yesus yang melaluinya Yesus diangkat menjadi anak Allah; Injil Orang-orang Ibrani (disusun dalam paruhan pertama abad kedua) yang isinya dekat dengan pandangan gnostik, antara lain menggambarkan bahwa Yesus Kristus dan Ibunya sudah ada sebelum tampak di muka bumi dalam wujud manusia; pada waktu Yesus dibaptis, Yesus disebut sebagai anak, bukan oleh Allah, tetapi oleh Roh (Ruakh) yang ternyata adalah ibunya sendiri.(note 14)

Bahan-bahan Kristen lainnya yang berasal dari paruhan pertama abad kedua dan yang dapat dipakai untuk menelusuri tradisi-tradisi tentang ajaran-ajaran dan kehidupan Yesus ditemukan dalam tulisan-tulisan para “Bapak Apostolis.”(note 15) Papias, Bishop dari Hieropolis di Asia Kecil, misalnya, pada permulaan abad kedua (sekitar 100-150) menyatakan dirinya sedang mengumpulkan tradisi-tradisi lisan tentang Yesus, dengan cara menanyai orang-orang yang masih mengenal murid-murid perdana Yesus. Tradisi-tradisi yang sedang dikumpulkannya ini dikatakan “berasal dari suara yang hidup dan menetap” yang diturunalihkan dari “para penatua”, yang telah ia “pelajari” dan “ingat.” Hasil penyelidikannya ini disajikannya dalam lima jilid buku yang dinamakan “Tafsiran atas Ucapan-ucapan Tuhan” (logiōn kuriakōn eksēgēsis); tetapi semuanya ini kini telah hilang, dan yang ada pada kita adalah kutipan-kutipan dari buku-buku ini yang ditemukan di dalam tulisan-tulisan Irenaeus dan Eusebius (Historia ecclesiastica III. 39. 1-17).(note 16)
(more…)

Refleksi Film The Passion Of The Christ

Filed under: Wacana — noviz @ 6:39 am

Pengantar

Mel Gibson adalah seorang Katholik yang percaya Kitab Suci. Dua belas tahun yang lalu ia mempunyai ide membuat film tentang Kristus menurut yang dia imani. Film itu sekarang berjudul The Passion of The Christ. Film ini berbeda dengan yang lain karena film ini bukan untuk entertainment, film ini merefleksikan iman kristen atas satu dasar fakta sejarah.

Beberapa film Yesus sebelumnya belum pernah melampaui apa yang telah dibuat dalam The Passion of The Christ.

1. Film ini dipikirkan selama 12 tahun dari jiwa seseorang yang sedalam-dalamnya beriman, mau memperkenalkan apa yang ia imani sebagai fakta sejarah.
2. Film ini bukan untuk mencari uang.
Mel Gibson mengeluarkan uangnya sendiri sebesar 25 – 75 juta US$.
Film ini memakai bahasa Aramic, film mana yang akan laris memakai bahasa Aramic ? Kalau ingin laris pakai bahasa Inggris.
3. Film ini menceritakan 18 jam terakhir kehidupan Yesus sebelum mati disalib.
4. Keakuratan yang melampaui film-film lain di dalam sengsara dan penderitaan Yesus Kristus. Passion mempunyai 2 arti, pertama emosi yang mendalam sekali, kedua sengsara.
5. Waktu shooting, tiap hari dilakukan perjamuan kudus untuk mengingat sengsara, kematian Yesus Kristus dan untuk meminta kekuatan Tuhan.

Inilah keunikan film tersebut.

Paus berkomentar “That is”, maksudnya memang benar sengsara Yesus seperti yang digambarkan film ini. Billy Graham terharu dan menangis menyaksikan film ini. Orang Yahudi marah karena takut menambah kebencian terhadap Yahudi.

Pemimpin Yahudi membawa Yesus ke Pilatus

Benarkah orang Yahudi yang membunuh Yesus?
Jawabannya ya. Jawabannya tidak.

Bukan semua orang Yahudi yang menginginkan Yesus mati. Petrus, Paulus dan Yohanes adalah orang Yahudi, apakah mereka menginginkan Yesus mati ?
Ada orang Yahudi yang membawa Yesus ke Pilatus, tetapi ada orang Yahudi giat memberitakan Injil, kabar baik yang diajarkan Yesus.

Namun demikian film ini harus kompromi, karena setelah Pilatus cuci tangan,  kalimat orang Yahudi “Biarlah darah-Nya ditanggung kami dan anak cucu kami” tidak dimasukkan.

Yahudi benci Yesus karena Yesus terlalu baik. Bayangkan andaikata ada satu kantor yang semua orangnya korupsi, kemudian datang seorang pegawai baru yang tidak mau korupsi. Pegawai baru itu akan dicintai atau dibenci ?
Pegawai baru pasti akan dibenci, dikatakan sok sucilah, gobloklah dan lain sebagainya. Maka jangan heran kalau nabi dibunuh, orang baik dibenci.
Yesus menderita, karena Dia Sang Kudus, hidup di antara sang keji. Dia adalah Anak Allah, hidup di tengah-tengah anak setan.

Sayangnya, anak yang jahil, keji dan jahat justru beragama. Yang paling berani bunuh orang, orang agama atau ateis ?  Orang agama. Orang agama bilang, “Tuhan menyertai aku, maka saya berani membunuh engkau.” Agama kalau sudah rusak, akan lebih rusak daripada yang tidak percaya Tuhan. Kalau agama diperalat, lebih berani berbuat dosa daripada orang yang tidak percaya Tuhan.

Yesus baik, suci, menolong, menyembuhkan orang, membangkitkan orang mati, plus Yesus berani menegur pimpinan agama.  Pimpinan agama kurang kesempatan ditegur orang. Yesus menegur kemunafikan pemimpin-pemimpin agama, membuat mereka marah luar biasa. Mereka kalau berkhotbah tidak laku, tetapi kalau Yesus berkhotbah mengemparkan banyak orang. Ketika Yesus membangkitkan orang mati yang ketiga kali yaitu Lazarus, pemimpin-pemimpin agama bermusyawarah memusnahkan Yesus. Kalau Yesus hidup, agama/budaya Yahudi mati. Kalau Yesus mati, agama/budaya Yahudi hidup.

Pemimpin-pemimpin Yahudi ingin membunuh Yesus, tapi bagaimana karena Hukum Musa mengatakan ‘jangan membunuh’?. Kalau begitu serahkan saja kepada Pilatus supaya Pilatus yang membunuh. Inilah kemunafikan.

Lihat percakapan Pilatus dengan pemimpin-pemimpin Yahudi:
Pilatus : “Apa yang kamu tuduhkan pada Yesus ?”
Pemimpin Yahudi : “Jikalau Dia tidak ada salah besar, tak mungkin kami bawa ke sini”.
Pemimpin Yahudi tidak menjawab pertanyaan Pilatus. Pemimpin Yahudi menjawab dengan jawaban psikologis.

Pilatus capek, jengkel karena bisanya datang ke kantor jam 8, ini pagi-pagi jam 2,3,4,5,6 harus mengurusi pengadilan Yesus. Lihat percakapan berikutnya :
Pilatus : “Adili sendiri menurut hukum agamamu”
Pemimpin Yahudi : “Kami tidak berhak membunuh”.
Lho Pilatus tidak tanya kamu membunuh.
‘Kami tidak berhak membunuh’ berarti kamu yang berhak.
Jadi kami (pemimpin Yahudi) membawa Dia (Yesus) supaya kamu (Pilatus) yang bunuh.  Itulah agama, orang selalu tafsir agama untuk mencelakakan orang lain. Agama memperalat politik untuk melayani agama.

Dari zaman ke zaman politik memperalat agama, agama memperalat politik.
Waktu Yesus lahir, Herodes memperalat agama untuk kepentingan politik.
Waktu Yesus mati, pemimpin Yahudi memperalat politik untuk kepentingan agama.

Mengapa Herodes bisa menjadi raja Israel ? Herodes keturunan Esau, bukan keturunan Yakub (Israel), bukan keturunan Yehuda, bukan keturunan Daud. Dia menjadi raja, karena kerajaan Romawi menjadikannya raja atas orang Israel. Herodes berpikir orang Israel harus menerima dirinya, bagaimanakah  caranya? Herodes membuat Bait Allah yang besar, sehingga orang Israel berpikir ‘Ya sudahlah toh Herodes sudah membuatkan kita Bait Allah yang besar’. Di sini Bait Allah yang dibuat Herodes menunjukkan bagaimana Herodes memperalat agama untuk kepentingan politik.

Dalam film ini ada 3 hal yang harus dipisahkan:

1. Bagian-bagian yang setia kepada Alkitab
2. Bagian-bagian yang sesuai dengan tradisi sejarah Katholik
3. Hal-hal yang mungkin tidak pernah terjadi, hanya merupakan imajinasi produser film, misalnya burung gagak yang mematok penjahat yang tidak mau bertobat.

Dalam film ini Maria dibesar-besarkan. Waktu Petrus bertobat dia berlutut di hadapan Maria. Ini sama sekali berbeda dengan Alkitab. Manusia hanya mengaku berdosa di hadapan Tuhan, bukan di hadapan Maria.

Perkataan Pilatus dengan istrinya dalam  film ini ketika istrinya berbicara memakai istilah kebenaran :
“Kebenaran, engkau tahu tidak, apa itu menurut aku.
Inilah kebenaran yang aku tahu,
Kaisar sudah memberikan peringatan kepada aku 2 kali :
Sudah dua kali di tanah Yudea mengalami pemberotakan, mengalami perdarahan. Kali ketiga darah yang dialirkan adalah darah kamu”.

Jadi Pilatus sudah tahu, sudah sampai pada kesempatan terakhir menjadi gubernur yang harus bertanggung jawab kepada kaisar. Kalau terjadi pendarahan/pemberontakan lagi, dia sendiri harus dibunuh. Itulah sebabnya ketika melihat pemimpin Yahudi membawa Yesus, dia takut.
Kalau aku (Pilatus) membunuh Yesus, akan terjadi pemberontakan karena seluruh tanah Yudea yang berjumlah ratusan ribu orang menganggap Yesus adalah nabi.
Tetapi kalau aku (Pilatus) tidak membunuh Yesus, maka pemimpin-pemimpin agama Yahudi akan berontak kepadaku.
Jadi kalau kalau aku bunuh Yesus aku salah, saya tidak bunuh Yesus juga salah.
Maka Pilatus merengut, tegang, tidak tahu bagaimana mengambil keputusan.

Cambukan kepada Yesus

Akhirnya untuk jalan keluar dari kesulitan ini, Pilatus berkata “Cambuklah Dia”. Film ini memakai banyak waktu untuk cambukan kepada Yesus yang tidak pernah terjadi dalam film-film lain. Alkitab  cuma mengatakan satu kalimat ” “Pilatus menyuruh mencambuk Yesus”.
Tetapi apa yang ditontonkan di dalam film ini benar, Yesus dicambuk sesuai dengan apa yang tercatat di dalam peraturan-peraturan kerajaan Romawi.

Menurut orang Romawi, cambukan hanya dilakukan kepada orang yang bukan warga negara Romawi. Kalau kesalahannya lebih besar dari seharusnya dicambuk, pemberontak tersebut akan dipaku di atas kayu salib. Cambukan itu kalau kesalahannya berat dilakukan 40 kali dan bisa diulangi.
Cambukan 40 kali yang pertama pakai cambuk biasa,
cambukan 40 yang kedua ini memakai cambuk yang mempunyai cakar-cakar kaitan dari sengat besi. Sehingga setiap cambukan ke tubuh manusia semua sengat besi mencantol dalam daging. Setelah mencatol dalam daging, lalu dicabut, kemudian dicambuk kedua kalinya, dan daging-daging yang sudah kena sengat besi tadi itu, semua akan menjadi terbuka dan darah banyak yang mengalir. Dalam hal ini Mel Gibson betul-betul belajar semua pencambukan yang terjadi di Romawi. Kalau orang mengatakan film ini terlalu brutal, terlalu rusak, terlalu menakutkan, terlalu kejam, saya berani katakan bahwa Mel Gibson benar-benar mengerti apa artinya cambukan Romawi.

Kalau seorang sudah dicambuk begitu banyak sampai tubuhnya semua pecah, darah mengalir, mana mungkin masih bisa hidup ?
Jangan lupa Yesus adalah seorang yang inkarnasi sungguh-sungguh mempunyai tubuh yang kuat luar biasa. Mengapa? Dia mau menanggung dosa seluruh umat manusia yang percaya kepada-Nya.
Menurut Kitab Suci seekor domba harus dibunuh untuk menjadi persembahan pada waktu berumur 1 tahun dan dia dibunuh waktu tubuhnya seluruhnya sehat, tidak boleh sakit dan tidak boleh ada cacat, dan adalah domba anak sulung dari ibunya. Ini semua tercatat di dalam Pentateukh, Perjanjian Lama sebagai syarat menjadi juruselamat, mati untuk manusia harus pada saat yang paling sehat, kuat, tidak sakit, tidak cacat, lalu dicambuk, dipukuli, dibunuh, berdarah untuk menebus dosa kita.

Yesus untuk mencapai kemungkinan ini, Dia sengaja pilih dilahirkan di dalam keluarga tukang kayu, sehingga bekerja berat, melatih diri hingga sampai umur 30 tahun dengan tubuh yang begitu sehat, lalu Dia mati bagi orang berdosa.

Setelah dicambuk, darah-Nya berceceran begitu banyak, dan ada yang tidak cocok dengan Alkitab yaitu Maria memakai handuk yang diberikan istri Pilatus untuk membersihkan darah Yesus. Tradisi Yahudi percaya darah mempunyai sesuatu yang tinggi sekali, di dalamnya ada hidup, sehingga Mel Gibson memasukkan adegan membersihkan darah Yesus yang tercecer di tempat itu.

Setelah itu, Yesus disuruh memikul salibnya yang beratnya lebih dari 70 kg. Dengan memikul kayu yang berat itu membuat Yesus terjatuh beberapa kali. Alkitab tidak mengatakan jatuhnya berapa kali.

Pada waktu Yesus di tengah-tengah jalan, ada seorang perempuan yang namanya Veronica. Ini tidak dicatat di Alkitab. Ia membawa satu handuk lagi dan datang untuk melap darah yang ada di mata Yesus. Pada waktu dilap, kain itu selesai lalu dipegang oleh tangannya, dia terus melihat dan pada saat tertentu, kain itu menjadi kain yang yang mempunyai muka Yesus yang dicap di atasnya. Menurut tradisi, itu adalah satu-satunya kain yang kita dapat mengetahui muka Yesus itu seperti apa. Ini adalah legenda yang tidak ada fakta menunjangnya.

Kemudian Simon dari Kirene dipaksa untuk memikul salib Yesus. Dalam film ini, Yesus dan Simeon, 2 orang bersama memikul salib. Ini adalah benar.

Golgota

Golgota adalah satu-satunya tempat Tuhan tidak menyatakan diri. Di seluruh Kitab Suci di mana Yesus berada di mana orang mungkin salah mengerti kepada Dia, Tuhan Allah langsung campur tangan.

1. Waktu Yesus dibaptis oleh Yohanes
Waktu itu semua melihat  seolah Yohanes lebih besar karena membaptiskan Yesus. Allah tidak tega melihat Yesus, Anak-Nya disalah mengerti, maka Dia membuka langit dan berkata “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, dengarkanlah Dia”. Sehingga orang beralih dari mementingkan Yohanes Pembaptis menjadi mementingkan Yesus.
2. Waktu Yesus menyatakan kemuliaan-Nya
Waktu Yesus menyatakan kemuliaan-Nya di atas bukit yang sangat tinggi, wajah-Nya bercahaya lebih terang dari matahari dan muncullah 2 orang yaitu Musa dan Elia. Pada waktu 3 orang murid-Nya yang semula mengantuk sekarang bangun melihat Musa dan Elia, dan mereka begitu gentar. Mereka berkata, “Mari kita bikin tenda untuk Yesus, untuk Musa dan untuk Elia”. Tuhan tidak ingin manusia menyamakan Yesus dengan Musa dan Elia, kemudian Tuhan membuat awan yang menutup, sesudah itu 2 orang menghilang, di sini kemudian muncul suara dari sorga lagi “Ini Anak-Ku yang kukasihi, dengarkanlah Dia”.
Jadi hanya Yesus yang harus diutamakan.

Lalu Yesus dipaku di atas kayu salib. Itu adalah saat yang paling Dia perlukan kesaksian dari Allah Bapa. Namun justru saat disalib di atas Golgota, Allah tidak menyatakan diri-Nya.

Golgota adalah total kekosongan kasih. Di atas Golgota tidak ada kasih Allah yang bisa turun kepada Yesus, karena dosa manusia semua sudah terkumpul kepada Dia sehingga Allah menghakimi Dia, Allah tidak mengasihi Dia.

Golgota juga satu-satunya tempat tidak dinyatakan mujizat, tidak dinyatakan kuasa ilahi, tidak dinyatakan penyertaan Tuhan Allah, tidak dinyatakan bijaksana surgawi.

Tetapi justru pada waktu Yesus terpaku di kayu salib terjadi 7 mujizat yang tidak menyembuhkan,menolong, melepaskan atau membebaskan. Mujizat ini terjadi dalam 6 jam. Jam 9 pagi Yesus dipaku, jam 3 sore Yesus mati. Di sini hanya dibahas beberapa mujizat :

1. Jam 12 siang, langit menjadi gelap gulita
Ini merupakan Allah seolah-olah tutup mata  membiarkan Yesus mati.
Ini merupakan tanda matahari malu melihat manusia jahatnya seperti ini. Orang yang terbaik sepanjang sejarah dibunuh seperti ini, mataharipun tidak mau.
2. Gempa bumi
3. Mujizat yang lain yang paling penting adalah tirai yang dari atas sampai bawah pecah menjadi 2 di dalam Bait Allah. Ini adalah mujizat yang bersimbolik besar sekali. Tirai yang begitu besar dengan lebar kira-kira 3/4 balai sidang JCC dan tingginya juga tidak kalah dengan tinggi balai sidang, begitu berat dari atas sampai bawah bisa robek, tak mungkin terjadi kecuali karena tangan Tuhan Allah sendiri. Tirai yang pecah dari atas sampai bawah melambangkan jalan yang menghalangi kita yang berdosa kembali kepada Tuhan Allah sudah dibongkar. Pintu sudah dibuka, manusia sudah boleh kembali kepada Tuhan Allah.

Beberapa rekan dari agama lain yang percaya Yesus tidak disalib karena mereka percaya Yesus terlalu saleh,  sehingga Tuhan sangat kasihan kepada Dia. Mereka percaya waktu Dia berada di Getsemani, maka Tuhan merubah wajah Yesus  menjadi Yudas, dan wajah Yudas menjadi wajah Yesus. Akhirnya mereka menangkap Yesus padahal yang ditangkap itu Yudas, sehingga Yesus yang asli lolos. Mereka percaya itu berdasarkan satu buku yang namanya Injil Barnabas. Injil Barnabas adalah injil yang belum pernah muncul sampai beberapa ratus tahun yang lalu. Injil Barnabas penuh kesalahan lebih dari 110 kali termasuk kalimat ini “Yesus naik kapal ke Nazaret”,  padahal Nazaret di atas gunung. Mungkinkah Yesus naik kapal ke atas gunung? Itu membuktikan bahwa buku yang disebut Injil Barnabas bukan Firman Tuhan.

Tujuh perkataan salib

Yesus yang dipaku di atas kayu salib, tidak mungkin Yudas yang dipaku. Kalau Yudas yang dipaku, tidak mungkin keluar dari mulut Yudas kalimat-kalimat yang paling agung dalam sejarah.

1. Pada waktu Yesus dipaku, paku itu menusuk ke dalam tangan-Nya, dia mulai kesakitan, mengatakan dengan kalimat pertama “Bapa ampunilah mereka karena apa yang mereka perbuat, mereka tidak tahu”.
2. Kalimat kedua adalah Dia jawab perampok yang menerima-Nya dengan kalimat,”Sesungguhnya aku berkata kepada-Mua, hari ini engkau dan Aku berada di dalam Firdaus”.
3. Kalimat ketiga Dia katakan kepada Yohanes,”Lihatlah ibumu,  ibu lihatlah anakmu”. Mulai hari itu Maria diterima oleh Yohanes untuk tinggal di rumahnya karena Yesus tidak lagi menjaganya.
4. Kalimat keempat, kalimat yang begitu sakit dan begitu susah sehingga Ia teriak, “Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
5. Kalimat kelima “Genaplah sudah”.
Sudah sempurnalah, sudah genap tugas kewajiban yang Yesus jalani.
6. Kalimat keenam Yesus mengatakan, “Aku haus”.
Setelah Yesus mengatakan ‘Aku haus’, mereka menaruh spon ke dalam suatu cuka kemudian diberikan kepada Yesus. Kemudian Yesus merasakan, tetapi tidak mau minum, mengapa ?
Orang disalib di atas Golgota disediakan satu ember cuka. Cuka kalau diminum banyak, orang itu tidak akan menderita rasa sakit sehingga meringankan penderitaan. Tetapi Yesus tidak mau minum cuka itu, Yesus mau dengan penderitaan sepenuhnya untuk menanggung dosa yang bertobat dan beriman kepada-Nya. Mengapa Yesus mau merasakan? Karena Yesus tidak ingin mengecewakan orang yang hatinya baik.
7. Kalimat ketujuh Yesus mengatakan “Ya, Bapa, ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawa-Ku”. Sesudah mengatakan hal itu, Yesus mati. Yesus secara aktif menyerahkan nyawa-Nya.

Ini semua menyatakan siapakah Dia? Tak mungkin ini Yudas. Yudas tak mungkin mengatakan “Bapa, ampunilah mereka”. Tidak ada orang baik seperti ini. Tidak ada orang pernah mengatakan “Berkatilah musuh, pada waktu ia menderita sengsara”.  Inilah pertama kali kalimat tersebut disebut.
Inilah puncak dan titik tolak apa yang disebut etika Kristen. Inilah puncak dan titik tolak apa yang disebut cinta kasih yang sejati.

Di dalam 7 kalimat yang terjadi dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore ini ada 3 fase:
1. Bapa, kalimat pertama
2. Allah, kalimat keempat
3. Bapa, kalimat ketujuh
Mengapa kalimat pertama dan  ketujuh   ‘Bapa’?
Mengapa kalimat keempat  ‘Allah’?
Waktu Yesus mengatakan kalimat pertama dan ketujuh adalah kalimat dari Anak yang diutus oleh Bapa untuk menjalankan tugas sebagai pengantara.
Kalimat keempat dikatakan Yesus waktu Dia sedang mati menjadi satu wakil yang menggantikan orang lain. Di sini membuktikan  Dia betul-betul menjadi manusia.

Di dalam Injil, pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut Yesus lebih dari 100. Di antaranya ada beberapa yang tidak ada jawaban.  Di antara pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab dan tidak ada jawabannya adalah satu yang paling penting yang ditinggalkan untuk engkau dan saya harus jawab adalah kalimat keempat “Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku”. Jawabannya: “Karena Yesus menanggung dosa anda dan saya”.

Wajah-wajah dipaparkan

Yesus rela mati, rela menderita sengsara, sampai tiba suatu hari yang disiapkan untuk dipaku di atas kayu salib. Dalam film ini engkau melihat wajah-wajah yang berbeda:
– wajah pemimpin agama yang begitu jahat
– wajah Pilatus yang hanya tahu mati dan hidupnya sendiri
– wajah dari orang-orang Romawi yang begitu kejam mencambuk Yesus
– wajah dari semua orang yang mengikut Yesus yang tidak berdaya menolong Yesus.

Peperangan benih ular dengan benih perempuan

Golgota adalah tempat Tuhan Allah memaparkan wajah setiap oknum dan Dia sendiri tidak menyatakan diri. Mengapakah kalau Yesus yang adalah Anak Allah, begitu susah dan Allah menyembunyikan diri?

Karena pada waktu Yesus dipaku di atas kayu salib, itu adalah hari peperangan antara benih perempuan (Yesus) dan benih ular (Setan). Waktu Yesus berdoa di taman Getsemani, Mel Gibson khusus memakai seorang wanita yang mewakili Setan, diam-diam menonton Yesus dan mengirim seekor ular datang mendekat Yesus. Ini tidak dicatat di Alkitab, tetapi Mel Gibson tidak salah. Ini adalah merefleksikan apa yang dijanjikan Tuhan Allah waktu Adam dan Hawa jatuh di dalam dosa. Tuhan Allah berkata, “Benih ular akan memusuhi benih perempuan, dan benih perempuan akan memusuhi benih ular. Benih ular akan meremukkan kaki benih perempuan, dan benih perempuan akan menginjak kepala ular.” Ini membuktikan adanya peperangan rohani yang tidak bisa dilihat, perang antara Yesus dan Setan, baik dan jahat, cahaya dan gelap. Dengan demikian tidak heran kalau anak-anak Tuhan akan dibakar dan dianiaya karenanya.

Dalam film ini waktu Yesus dicambuk, wanita yang melambangkan Setan datang menggendong seorang anak bayi. Anak bayi ini mukanya seperti orang tua. Menurut Mel Gibson, ini seolah-olah anak tadi mengatakan, “Perang belum selesai, nanti keturunan benih ular ini akan menganiaya pengikut Yesus sebagai benih perempuan.”
Ini menandakan gereja akan dianiaya tidak habis-habis, dan Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya, “Jika mereka membenci Aku, menganiaya Aku, berarti mereka juga akan menganiaya kamu, karena sebelum mereka membenci kamu, mereka sudah membenci Aku”. Ini adalah teologi yang sangat penting yang dinyatakan tidak terlalu nyata di dalam film ini.

Perampok bertobat

Meski Allah tidak menyatakan diri di Getsemani, tidak menyatakan diri di Golgota, tidak menyatakan diri di atas kayu salib, tetapi orang pertama menjadi  Kristen adalah seorang perampok. Orang pertama yang mengerti kerajaan Allah bukan Petrus atau Yohanes, tetapi perampok. Orang yang mengatakan Yesus adalah Anak Allah bukan imam besar, tetapi pimpinan prajurit dari tentara romawi. Inilah cara Allah menyatakan diri dengan tidak menyatakan diri.

Sejarah akan terus berjalan dengan prinsip-prinsip yang sama, saudara akan melihat orang yang katanya beragama mungkin yang paling rusak dan jahat, orang yang berdosa besar mungkin akan bertobat dan kembali ke surga, pemimpin-pemimpin politik yang katanya berjuang untuk rakyat mungkin perampok rakyat paling besar, tentara-tentara yang kejam mungkin mereka sadar perlu Allah dan juruselamat. Allah yang tidak menyatakan diri, menyatakan diri dengan cara yang berbeda-beda.

Kesimpulan

Akhirnya disimpulkan, saya tidak 100% setuju film ini, tetapi harus diakui bahwa film ini agung luar biasa. Ini adalah film yang menggetarkan hati sedalam-dalamnya sanubari orang yang disebut manusia.

Passion of The Christ, mengapa harus The Christ mengapa bukan Passion of Christ? Ini termasuk hasil pikiran Mel Gibson yang mendalam. The Christ berarti satu-satunya Kristus. Sepanjang sejarah mungkin lebih dari 300 orang menyatakan dirinya mesias dan kristus. Mel Gibson akan membuktikan satu-satunya Kristus, The Christ, yang telah menderita sengsara. Tidak ada manusia di bawah kolong langit dapat menderita sebesar itu. Tidak ada orang menderita seberat itu tanpa ada balas dendam yang ada hanya cinta kasih. Kemungkinan satu-satunya adalah The Christ, kecuali dia adalah Anak Allah,kecuali dia sungguh-sungguh Raja di atas segala raja, tidak mungkin.
Akhirnya kemenangan bukan pada orang yang melukai, menganiaya. Kemenangan ada pada orang yang dibuat luka, dibuat menderita, dipaku di atas kayu salib. Itu adalah benar Firman, benar kuasa dari Allah.

Film ini membawa kita kepada pengertian siapa Allah, siapa manusia. Apa kotornya politik, apa kotornya agama, apa kotornya masyarakat, apa kotornya hukum, apa kotornya massa, apa kotornya militer, dan apa yang benar dari Allah yang menanggung penderitaan bagi orang berdosa. Ini cara Tuhan mengasihi dan menebus umat-Nya.
Sudahkah engkau menerima Yesus ?

Sumber: <a href=”http://www.pemudakristen.com/artikel/ringkasan_seminar_refleksi_the_passion_of_the_christ.php”>http://www.pemudakristen.com/</a&gt;
<span style=”font-style:italic;”>Ringkasan Seminar Refleksi Film The Passion Of The Christ
Pembicara : Pdt Dr Stephen Tong
JCC Jakarta 11 Mei 2004
Pukul 16.00 – 19.00
</span>

Kitab-kitab APOKRIPA

Filed under: Wacana — noviz @ 6:39 am

Ada perdebatan tentang kitab-kitab mana yang termasuk dalam kanon Perjanjian Lama. Ada yang berpendapat bahwa kitab-kitab Apokripa yang ditulis tahun 250 SM sampai dengan Kristus termasuk kanon Perjanjian Lama.

Katolik Roma berpendapat  bahwa kitab-kitab yang termasuk dalam kanon Aleksandria harus dimasukkan dalam kanon  Perjanjian  Lama.
Kristen Protestan berpendapat bahwa hanya kitab-kitab yang yang termasuk dalam kanon Palestina bangsa Yahudi yang diwahyukan.

Kitab-kitab yang diperdebatkan adalah:
1. Esdras (III Esdras)
2. II Esdras (IV Esdras)
3. Tobit
4. Yudit
5. Tambahan kitab Ester (Ester 10:4 –  16:24)
6. Hikmast Salomo
7. Sirak
8. Baruk dan surat Yeremia (Baruk)
9. Doa Azaria dan Nyanyian tiga orang muda (Daniel 3:24-90)
10. Susanna (Daniel 13)
11. Bel dan Dragon (Daniel 14)
12.Doa Manase
13. I Makabe
14. II Makabe

Alasan-alasan penerimaan kitab-kitab Apokripa:
1. Perjanjian Baru mengutip langsung buku Henok (Yudas 14) dan menyinggung II Makabe (Ibrani 11:35)
2. Beberapa kitab apokripa ditemukan dalam komunitas Yahudi abad pertama di Qumran
3. Beberapa Bapa Gereja awal yaitu Origen (185-253M), Atanasius (293-273M), dan Cyril di Yerusalem (315-386M) mengutip dari beberapa kitab Apokripa.
4. Beberapa manuskrip Yunani awal seperti Kodex Vatikanus (325 M) dan Kodex Sinaitikus (350M) mengandung apokripa
5. Agustinus menerima semua kitab-kitab apokripa yang diumumkan oleh Trent (1546)
6. Beberapa Sinode awal seperti Sinode Paus Damaskus (382 M),Sinode Hippo, dan 3 sinode di Kartage (393,297,419) menerima apokripa
7. Beberapa bishop dan dewan?  di antara abad ke 9 dan 15 mencamtumkan kitab-kitab apokripa sebagai kitab yang diwahyukan.
8. Konsili Trent menyatakan kitab-kitab apokripa sebagai bagian kanon kitab suci.

Meski banyak yang mendukung kitab-kitab aprokripa, namun argument di atas ditolak dengan mempertimbangkan:
1. Tidak ada kitab-kitab apokripa yang dikutip sebagai Firman Tuhan oleh Perjanjian Baru. Perjanjian Baru juga menyinggung dan mengutip puisi dari kitab milik bangsa yang tidak percaya Allah Yahweh.
2. Komunitas Qumran bukan suara resmi bangsa Yahudi
3. Banyak Bapa Gereja awal termasuk Origen, Cyril dari Yerusalem, Atanasius. dan Bapa-Bapa gereja penting sebelum Agustinus dengan jelas menolak Apokripa. Mereka mengutip bukan sebagai kitab yang diwahyukan.
4. Penerimaan Agustinus terhadap Apokripa ditolak oleh Yerome, yang merupakan sarjana Alkitab terbesar saat itu
5. Tidak ada sinode atau kanon yang mencantumkan kitab-kitab apokripa dalam 4 abad pertama gereja.
6.  Saat reformasi (1517) beberapa sarjana Katolik Roma termasuk Kardinal Cajetan yang bertolak belakang dengan Luther tidak menerima kitab-kitab Apokripa sebagai bagian Perjanjian Lama.
7. Ketidakseragaman pemakaian kitab-kitab apokripa tahun demi tahun.
8. Trent tidak konsisten karena hanya menerima 11 dari 14 kitab apokripa. Mereka menolak Doa Manasse, 1 Esdras (3 Edras), dan 2 Esdras (4 Esdras) yang mengandung  ayat-ayat yang kuat menentang doa  untuk orang mati  dan menerima buku-buku yang mendukung doa untuk orang mati (1 Makabe 12:45(46))

Ada pertanyaan yang harus dipertimbangkan, buku-buka mana yang termasuk dalam Perjanjian Lama di mana Yesus menyatakannya sebagai Firman Allah yang berotoritas dan tidak dapat dibatalkan?
Jawabannya: tidak lebih dan tidak kurang daripada 24 (39) buku dalam Perjanjian Lama bangsa Yahudi, di mana Kristus mengakuinya.

a. Kitab suci Yahudi pada zaman Yesus
Sumber yang layak dipercaya untuk menentukan kanon Perjanjian Lama bangsa Yahudi adalah sejarahwan Yosepus.

Yosepus mencantumkan 22 buku,
“5 buku Musa,
nabi-nabi setelah Musa … dalam 13 buku,
4 buku sisanya berisi hymn kepada Tuhan dan aturan-aturan dalam kehidupan manusia”. Ruth dijadikan satu dengan Hakim-hakim, Ratapan dijadikan satu dengan Yeremia.
Kanon ini sama dengan yang dipunyai Protestan yang berjumlah 39 buku, karena dalam dalam kanon Yosepus ini:
1 Samuel dan 2 Samuel dijadikan 1 buku,
1 Raja-raja dan 2 Raja-raja dijadikan 1 buku,
1 Tawarikh dan 2 Tawarikh dijadikan 1 buku,
Ezra dan Nehemia dijadikan 1 buku,
12 nabi-nabi kecil dijadikan 1 buku,
Ruth dijadikan satu dengan Hakim-hakim,
Ratapan dijadikan satu dengan Yeremia.

Yosefus menyatakan ke 22 kitab (39 kitab PL Protestan) sebagai lengkap dan final, dapat dibaca jelas dalam pernyataannnya bahwa suksesi nabi-nabi Yahudi berakhir pada abad 4 SM. Dan juga Talmud mengajarkan, “Setelah nabi Hagai, Zakaria, dan Maleaki, Roh Kudus pegi dari Israel’.

b. Kanon Perjanjian Lama dari Yesus dan para rasul
Yesus dan para rasul menerima secara tegas kanon yang berisi 22 atau 24 atau 39 buku Perjanjian lama Protestan. Ini dibuktikan dengan tidak ada satu buku apokripa yang yang pernah dikutip sebagai ‘Kitab Suci’ baik oleh Yesus maupun para rasul, meskipun mereka memilikinya dan kadang menyinggungnya. Fakta bahwa Yesus dam para rasul pernah mengutip 18 kitab dari 22 (24) kitab Perjanjian Lama Yahudi menunjukkan penolakan Yesus dan para rasul terhadap kita apokripa.

Kesimpulan
Dengan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa kitab-kitab Apokripa tidak termasuk dalam kanon, dan harus ditolak sebagai Firman Tuhan. Tetapi meskipun demikian kitab-kitab itu punya andil di mana kita bisa belajar banyak hal mengenai sejarah dan situasi masayarakat saat itu.

Sumber :
<span style=”font-style:italic;”>Geisler, Norman L. Christian Apologetics. Baker Book House, Grand Rapids, Michigan 49516</span>

KONTROVERSI SEPUTAR ‘THE JESUS SEMINAR’

Filed under: Wacana — noviz @ 6:38 am

KONTROVERSI SEPUTAR ‘THE JESUS SEMINAR’

Kaum Kristen percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah, dilahirkan
dari Perawan Maria dan suaminya yang tukang kayu, Yosef.
Dengan penyalibannya, ia menebus atau menyelamatkan umat
manusia. Dengan kebangkitannya kembali, ia menjanjikan
kehidupan kekal. Tetapi sekelompok ahli teologi dan sejarawan
di Amerika Utara mempertanyakan tentang Yesus — serta
keakuratan Perjanjian Baru.
(more…)

SLOGAN TEOLOGI SUKSES

Filed under: Wacana — noviz @ 6:37 am

Para penginjil penganjur Teologi Sukses biasanya mengucapkan slogan-slogan kemakmuran seperti berikut:

“Kalau Mafia bisa naik mobil Lincoln Continental, mengapa anak-anak Raja tidak?” (Fred Price)

“Allah menghendaki anak-anak-Nya makan makanan terbaik, berpakaian pakaian terbaik, mengendarai mobil yang terbaik, dan menghendaki mereka untuk memperoleh segala sesuatu yang terbaik.” (Kenneth Hagin)
(more…)

PLURALISME DAN PLURALITAS

Filed under: Wacana — noviz @ 6:36 am

Penutupan mesjid dan gedung pertemuan Ahmadyah belum lama ini ditengah-tengah ditutupnya puluhan gereja khususnya gereja-gereja rumah tangga menyusul Fatwa MUI yang mengharamkan Pluralisme agama mencuatkan kembali pemikiran kearah toleransi beragama dan diskusi Pluralisme agama-agama.

PLURALISME

Istilah ‘Plural’ sudah jelas kita mengerti sebagai ‘jamak’, dan ‘Pluralitas’ adalah kenyataan yang harus diterima bahwa kita berada dalam kondisi di Indonesia dan dunia masakini dimana kita menghadapi kejamakan cara berfikir, cara hidup, dan cara beragama. Sampai di sini, Pluralitas hanya menyadari adanya kepelbagaian di dunia.

Lain halnya dengan ‘Pluralisme,’ istilah ini berkembang ditengah-tengah ‘eksklusivisme agama’ yang makin berkembang pada era reformasi sebagai akibat reaksi terhadap fundamentalisme dan modernisme, atau yang dikenal sebagai salah satu cabang reaksi ‘posmo.’ Dalam hal agama, eksklusivisme ditujukan pada kenyataan bahwa setiap agama cenderung mengklaim sebagai satu-satunya agama dimana terdapat jalan keselamatan dan diluar itu tidak ada jalan lain.

Sejak dulu eksklusivisme tidak menjadi masalah, namun eksklusivisme itu menjadi tiran ketika bergabung dengan kekuatan politik kolonial dan menjadi mayoritas sehingga menganggap yang lain yang mayoritas itu sebagai lebih inferior dan harus ditobatkan (proselitasi). Kondisi ini dalam abad kolonialisme menempatkan kekristenan sebagai agama mayoritas dan eksklusif di tengah-tengah bangsa dan agama ditempat jajahan yang semula dianggap inferior.

Dengan latar belakang demikianlah, ketika pada akhir abad-XIX dan awal abad-XX terjadi gerakan nasionalisme dan kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah, keseimbangan menjadi berubah dimana bangsa-bangsa jajahan mendirikan negara sendiri dan menentukan identitas sendiri (termasuk tradisi budaya agama) yang juga di klaim sebagai eksklusif. Perbenturan peradaban inilah yang melahirkan usaha-usaha yang mengarah pada penerimaan kejamakan dalam beragama atau dikenal sebagai ‘Pluralisme’ yaitu ‘suatu situasi di mana berbagai agama berinteraksi dalam suasana saling menghargai dan dilandasi rasa kesatuan sekalipun berbeda faham.’

Jadi kalau eksklusivisme menganggap agama sendiri benar yang lain tidak maka pluralisme menganggap semua agama itu benar jadi harus diterima dengan terbuka sekalipun berbeda dengan agama sendiri. Sikap demikian tentu berdampak pagi pandangan ‘Fundamentalisme’ dalam agama-agama yang cenderung mengklaim agamanya sendiri sebagai jalan kebenaran satu-satunya. Selain fundamentalisme, reaksi eksklusif lainnya adalah ‘Proselitisme’ ynag menolak kebenaran agama lain dan menjadikan pengikut agama lain menjadi pengikut agama sendiri dengan berbagai cara. Sebaliknya, ada juga reaksi ‘Sinkretisme’ yang bersifat kompromistis dengan cara mencampur-adukkan keyakinan agama-agama yang bertemu itu.

INKLUSIVISME

Reaksi keempat berjalan lebih jauh dari Sinkretisme dan dikenal sebagai ‘Inklusivisme’ yang berusaha untuk menggapai kesatuan agama-agama, dan berbeda dengan eksklusivisme, di sini ada usaha untuk ‘menjadikan agama-agama yang banyak itu sebagai salah satu facet dari agama yang satu,’ dan berbeda dengan sinkretisme yang mencampur-adukkan agama-agama, disini agama-agama diperas menjadi satu. Dari kubu pluralisme dan inklusivisme inilah kemudian dipopulerkan dialog antar agama sebagai pengganti misi penobatan. Pada awal tahun 1960-an sebagai hasil Konsili Vatikan-II, Gereja Katolik Roma membuka peluang kearah itu, dan di awal tahun 1970-an menyusul Dewan Gereja Dunia (WCC) juga membuka diri akan dialog antar agama.

Pada abad-XX relativisme agama dikaitkan dengan kemajuan evolusioner dipopulerkan oleh Ernst Troeltsch yang menolak absolutisme agama dan menjadikan ‘Yang Mutlak’ menjadi tujuan bersama dalam proses evolusioner dalam semua agama. Sikap Troeltsch ditolak Karl Barth yang mengajukan pandangan eksklusif dan tidak mengenal kompromi mengenai pewahyuan diri Allah dalam Yesus Kristus, namun berbeda dengan eksklusivisme, Barth berpendapat bahwa agama Kristen itu yang benar, namun sejauh agama Kristen melalui rahmat hidup karena rahmat ia menjadi tempat agama yang benar.

John Hick menafsirkan kembali Kristologi tradisional dengan mengemukakan bahwa istilah ‘Allah’ bukanlah seperti yang dikemukakan sebagai pribadi dalam agama teistik melainkan sebenarnya merupakan ‘realitas tak terbatas yang dipahami dengan berbagai cara melalui berbagai bentuk pengalaman beragama’ yang disebutnya sebagai ‘Yang Nyata.’ Wilfred Cantwell Smith mengungkapkan bahwa manusia sekarang memasuki tahapan baru pluralisme agama dimana agama-agama perlu merumuskan kembali dan menguji teori-teori agamanya sendiri dan mengembangkan teori-teori agama yang bisa diterima oleh agama-agama lain. Smith menolak kristologi yang eksklusif. Kristen Stendahl dari Harvard menafsirkan PL & PB sebagai suatu kesaksian tentang ‘partikularisme dalam kerangka universalisme.’

Tidak semua sepakat dengan Hick, Karl Rahner, teolog Roma Katolik, berusaha secara sistematis untuk menegaskan keeksklusifan dan universalitas Kristus dan sekaligus menghormati kehendak Allah untuk menyelamatkan yang sifatnya universal. Dalam pandangannya yang kelihatannya seperti mendua, Rahner tetap menganggap Kristus secara eksklusif, tetapi secara universal agama-agama lain menghadirkan ‘kristen anonim.’ Rahner berusaha mendamaikan rahmat Allah yang menyelamatkan, yang universal sifatnya, dengan keeksklusivan Kristus sebagai kriteria yang nyata dan sempurna untuk rahmat itu. Ini bisa dijadikan dasar bagi umat Kristen untuk bersikap toleran, rendah hati, namun tegas terhadap semua orang non-Kristen.

Stanley Samartha mengemukakan bahwa umat Kristen harus mendekati dialog antar-agama atas dasar teosentris dan bukan kristosentris. Samartha mendefinisikan dialog sebagai ‘upaya untuk memahami dan menyatakan partikularitas kita bukan hanya dalam kaitan dengan warisan kita sendiri tetapi juga dalam hubungan dengan warisan rohani tetangga-tetangga.’ Raimundo Panikkar yang beribu Kristen RK dan berayah Hindu meneruskan, bahwa: ‘kebenaran yang dikemukakan agama adalah universal dan dianggap sebagai pendirian yang partikular dan terbatas, sedangkan sebetulnya masing-masing merupakan perumusan yang memang dibatasi oleh faktor budaya mengenai suatu kebenaran yang lebih universal.’

Dari berbagai pandangan di atas, inklusivisme kemudian dimengerti sebagai sikap yang menerima kebenaran semua agama, dan bahwa agama itu hanya merupakan jalan partikular untuk mencapai kebenaran yang universal yang menyembah Tuhan ‘Yang SATU’ itu.

ESENSI INKLUSIVISME

Apakah Sebenarnya esensi Inklusivisme itu? Sebenarnya esensi inklusivisme adalah ‘Relativisme’ yang dilandaskan kepercayaan bahwa agama-agama pada hakekatnya sama dan dianggap sebagai sesuatu yang relatif sesuai dengan tahap perkembangannya dalam evolusi agama. Agama-agama tidak lain adalah jalan partikularis menuju yang universalis. Ini mendorong kearah pandangan mengenai kesatuan agama yang disebut ‘universalisme.’

‘Universalisme’ berlandaskan logika bersama mengenai ‘Yang Satu dan Yang Banyak.’ Dari perspektif filsafat dan teologi, logika bahwa suatu sumber realitas dialami dalam pluralitas cara tampaknya, oleh teolog tertentu dianggap sebagai cara yang paling memuaskan untuk menjelaskan fakta pluralisme keagamaan, ini bisa disebut pendekatan yang ‘theosentris.’ Sebenarnya pandangan demikian didasarkan gagasan ‘Veda’ Hinduisme mengenai hakekat ‘Yang SATU’ yang disebut dengan ‘banyak nama.’ Pandangan ini disebut sebagai ‘Monisme’ yang beranggapan adanya satu keberadaan tunggal ‘Yang Satu’ yang tidak berpribadi (berbeda dengan theisme yang mempercayai Tuhan yang berpribadi).

Pandangan Relativisme dan Universalisme tidak beda dengan faham ‘Mistisisme’ mengenai keyakinan ‘kesatuan manusia yang sezat dengan sumbernya.’ (Yaitu Yang SATU itu). Dalam mistik Hinduisme, penyatuan itu dianggap sebagai penyatuan ‘atman dengan brahman’ atau dalam mistik Buddhisme ‘atman dengan an-atman.’

Di kalangan kristen, ketiga esensi ini berkembang lebih jauh menuju ‘de-kristosentrisme,’ dari kristosentris menuju ‘theosentris’ namun yang dimaksud adalah ‘theos yang tidak berpribadi’ yang merupakan esensi mistik universal. Pandangan theolog liberal yang menganut inklusivisme cenderung untuk ‘memikirkan kembali Kristologi’ yang ujung-ujungnya menjadikan Kristus bukan sebagai jalan yang unik tetapi sekedar sebagai salah satu dari jalan yang banyak itu, Kristus tidak lebih hanya sekedar ‘avatar’ yang sama dengan tokoh-tokoh agama lain.

SIKAP MENGHADAPI PLURALISME

Pluralisme berkembang sebagai reaksi ‘eksklusivisme’ dan ‘fundamentalisme’ agama yang sering membuat manusia terpecah-pecah, namun Pluralisme ujung-ujungnya bukannya suatu keterbukaan terhadap pluralitas (keperlbagaian) tetapi berujung kepada penyamaan semua agama bahkan kemudian cenderung menjurus pada ‘inklusivisme’ yang ingin memeras agama menjadi satu agama universalis yang menuju ‘Yang SATU’ yang tidak berpribadi itu.

Di satu sisi memang kita harus berfikir terbuka bahwa kita hidup di bumi tidak sendirian tetapi berada di tengah-tengah agama lain jadi kita harus menerima kenyataan adanya agama-agama yang berbeda, tetapi menganggap semua agama sebagai sama dan menuju ‘Yang SATU’ rasanya terlalu meremehkan sejarah agama yang sudah ribuan tahun dengan keunikannya masing-masing. Memang pluralisme kelihatan seakan-akan merupakan jalan kompromi yang terbaik untuk menyatukan perbedaan faham agama-agama yang acapkali menimbulkan pertikaian dan perang, namun pluralisme kurang menghargai keunikan agama-agama, khususnya keunikan Kristus yang cenderung di ‘de-kristosentris’kan.

Umat kristen memang seharusnya tidak bersifat eksklusif dalam segala hal tetapi bersikap eksklusif dalam kredo (pengakuan percaya) adalah perlu, sebab sejarah agama Kristen yang dikandung Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru cukup meyakinkan untuk menerima keunikan Kristus. Jadi eksklusivisme dalam iman perlu namun ini jangan menjadikan kita eksklusif dalam sikap. Kita dapat menerima kehadiran agama-agama lain dengan sikap terbuka yang inklusif bahwa semua adalah umat manusia yang dikasihi oleh Tuhan yang berpribadi yang menyatakan diri dalam Kristus, namun penerimaan ini tidak harus menuju sikap yang menganggap semua jalan itu sama atau menganggap bahwa penganut agama lain sebagai ‘kristen anonim’ tetapi kita dapat menganggap mereka sebagai umat manusia yang tetap membutuhkan karunia keselamatan dari Tuhan, dan kita jangan berspekulasi mengenai ‘semua jalan ke Roma’ melainkan kita perlu untuk bersaksi mengenai ‘via dolorosa’ jalan menuju ke Golgota.

Umat kristen diharapkan dapat terbuka menghadapi kehadiran agama-agama, kita perlu mempelajari kitab suci dan pendapat-pendapat dari kalangan agama-agama lain, namun karunia keselamatan yang kita peroleh, ibarat ‘mutiara yang sudah ditemukan’ perlu kita bagikan sebagai kesaksian kepada mereka yang belum mengenal keindahan mutiara tersebut.

Eksklusivisme dan fundamentalisme agama perlu dibuka agar kita tidak menjadi penganut Kristus yang sempit yang tidak toleran dan bersifat menghakimi agama lain, tetapi sikap eksklusivis harus disertai dengan sikap yang terbuka dan toleran. Menghargai perbedaan-perbedaan itu penting, tetapi menerima perbedaan itu seakan-akan tidak berbeda jelas keliru. Untuk mencapai ini, jalan ‘Kasih’ adalah jalan terbaik untuk bersaksi, bukan dengan sikap memaksa dan menganggap rendah orang lain, tetapi dengan sikap kasih kepada sesama karena untuk itulah Kristus telah mati bagi kita.

Rasul Paulus menunjukkan sikap yang inklusif sekaligus beriman eksklusif ketika ia berbicara di Athena (Kisah 17:16-34). Ia menunjukkan sikap inklusif dengan bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan para filsuf Epikuri dan Stoa. Ia mempelajari kitab suci dan tulisan para pujangga mereka. Ia tidak menolak kerinduan orang-orang dalam menyembah ‘Allah Yang Tidak Dikenal’ tetapi Paulus sedih hatinya melihat banyaknya berhala dan kuil-kuil di kota itu, karena itulah iman eksklusifnya menghasilkan suatu kesaksian bahwa ‘Yang Tidak Dikenal’ itu diperjelasnya dengan memperkenalkan keunikan Allah yang menjadikan langit dan bumi, Tuhan atas langit dan bumi yang memberikan hidup dan nafas kepada semua orang, dan Injil tentang Yesus yang telah bangkit. Ia tidak memaksa orang lain mengikut Kristus (proselitisme) melainkan ia men’share’kan imannya dan biarlah orang lain yang menentukan iman mereka sendiri. Alhasil ada juga yang percaya dengan kesungguhan hati tanpa dipaksa atau terpaksa. Haleluyah!

Salam kasih dari Redaksi www.yabina.org

November 1, 2006

Minoritas; Bagaimana Seharusnya?

Filed under: Opini — noviz @ 2:30 pm

Sebagai kaum minoritas Kristen, sering kita dihadapkan pada situasi yang serba sulit. Dalam hal pekerjaan misalnya sering kita mendapatkan diskriminasi. Beberapa dari kita menanggapi kondisi tersebut dengan cara yang berbeda-beda. Tuhan pernah berfirman bahwa kita tidak berasal dari dunia oleh karena itu dunia akan membenci kita. Ironisnya banyak orang Kristen yang kemudian menggunakan firman tersebut untuk membenarkan diri.

Maksud saya di sini adalah ketika orang Kristen melakukan tindakan yang tampaknya rohani namun menjadi batu sandungan. Sebagai contoh, ketika seseorang sudah mulai sibuk dengan pelayanannya di gereja hingga mulai melupakan fungsi dan perannya di masyarakat atau lingkungan tempat tinggalnya. Menjadi terlihat ekslusif dan cenderung menarik diri. Sebenarnya wajar jika kemudian masyarakat mulai mengucilkannya. Namun daripada berusaha mengoreksi diri orang itu justru menganggap pengucilan terhadap dirinya buakan karena kesalahannya, namun suatu yang wajar, dengan alasan karena dia tidak berasal dari dunia maka dunia membencinya. Saya kenal seorang guru agama Kristen yang karena kesibukan pelayanannya kemudian mulai melupakan perannya sebagai guru, sering ijin bahkan mangkir mengajar hanya untuk memenuhi panggilan khotbah dan menjadi pembicara diberbagai acara gereja. Lebih sering terlihat tampil dengan setelan jas daripada baju safari meskipun dia sedang dalam jam dinas. Tapi yah begitulah semua gunjingan, semua kritikan dan teguran ia tanggapi dengan telinga yang tebal dan menganggapnya sebagai batu sandungan pelayanan tanpa dia sadari tanpa merasa dirinya sendiri telah menjadi batu sandungan.

Saya rasa bukan begitu maksud dari firman Tuhan di atas. Sebab jika itu benar, mengapa Tuhan tidak memisahkan saja umatnya dari mereka yang tidak percaya, mengumpulkannya di suatu tempat dan memeliharanya sampai hari Tuhan digenapi? Kenapa Tuhan justru membiarkan umatnya tetap tinggal di tengah-tengah dunia yang Dia tahu akan membenci mereka?

Alkitab sebenarnya telah menunjukan bagaimana orang-orang justru biasa berbuat banyak dibalik status minoritas yang mereka sandang, dan bahkan mampu memberikan pengaruh besar bagi dunia sekitarnya. Dan dunia menghormatinya. Sebut saja Daniel, seorang buangan di negeri Babel, juga Jusuf seorang budak dan napi penjara. Mereka telah membuktikan bahwa meskipun dunia membenci mereka namun pada akhirnya dunia mengakui mereka, dan belajar menghormati dan mengakui kebesaran Allah mereka, maka kitapun pasti bisa. Tapi dengan kondisi zaman yang sudah begitu berubah, apakah kisah-kisah itu masih relevan? Jika iya, apa buktinya?

Belajar dari sejarah, kita mungkin masih ingat jika pada jaman Orde Lama hingga awal Orde Baru sempat muncul pendapat dikalangan masyarakat yang mengatakan bahwa “Kalau ingin dapat pegawai yang jujur carilah orang Kristen”. Banyak instansi/perusahaan yang sengaja menempatkan orang Kristen untuk menduduki tanggung jawab sebagai bendahara atau staf keuangan diperusahaan mereka. Bagaimana itu bisa terjadi? semua itu bisa terjadi karena orang-orang Kristen saat itu memang memiliki jati diri, karakter dan standar integritas yang tinggi. Sikap takut akan Tuhan yang mereka nyatakan dalam kualitas hidup sehari-hari terbukti mampu memberikan pengaruh dan membuahkan respon positif di tengah-tengah masyarakat saat itu.

Bagaimana dengan kondisi sekarang? Apakah pendapat itu masih ada? Sepertinya tidak, dan justru sebaliknya, sebagai orang Kristen kita selalu dicurigai dan diwaspadai. Ada baiknya kembali menengok diri kita, serta melihat kondisi kekristenan dan kualitas hidup dari orang-orang yang mengaku dirinya sebagai orang Kristen yang ada sekarang. Bukankah semakin banyak nama-nama Kristen yang ikut memperpanjang deretan daftar koruptor, terlibat kasus penipuan dan perkosaan. Bahkan nama seperti Yohanes terang-terangan muncul sebagai terdakwa kasus pembunuhan. Sengketa antar gereja, perpecahan jemaat hingga gerakan penginjilan yang dilakukan tanpa perhitungan bukankah itu semua sama saja seperti mencoreng arang di muka sendiri, bahkan lebih parah lagi karena itu juga berarti mencoreng muka Kristus. Jika didalam sendiri saja kita tidak bisa akur sebaliknya malah menunjukan sikap saling pukul, saling memangsa, lalu apa bedanya kita dengan orang lain? Jadi apakah kita masih berhak untuk menyalahkan mereka jika kemudian mereka tidak lagimempercayai kita? memunsuhi kita dan cenderung curiga dengan sikap kita?

Apa yang menyebabkan mutu, kualitas hidup dan moralitas Kristen semakin merosot? Gereja memiliki tanggung jawab terbesar dalam hal ini. Semakin jarang kita temui suara-suara keras didikan dan pengajaran yang tegas akan standar moral dan karakter Kristen dibawakan dimimbar-mimbar. Orang Kristen semakin dibuai dengan berbagai janji-janji Tuhan, jaminan kemakmuran, jaminan pemulihan, dan jaminankesembuhan. Jika saya boleh menulis ulang ayat dari Matius 28 : 19-20, supaya sesuai dengan kondisi sekarang, maka ayat itu akan berbunyi:

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, Dan aku berjanji akan mencurahkan berkat kepada mereka sampai berkelimpahan”.

Gereja lupa bahwa penggembalaan dan pendewasaan rohani adalah sesuatu yang sangat penting, Gereja lebih senang untuk membuai para Kristen baru dengan janji-janji Allah. Gereja lupa bahwa untuk menerima setiap janji Tuhan seseorang harus terlebih dahulu memiliki pondasi yang kokoh. janji Tuhan bukanlah sesuatu yang instant. Salah satu penekanan perintah Tuhan seperti yang tertulis dalam matius 28 adalah pada ayat 20 yang berbunyi:

“dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”

Gerja tidak boleh hanya berhenti pada ayat 19. Selamatkan jiwa tidak hanya berhenti saat seorang dibaptis dan mengaku percaya. Namun lebih dari itu adalah bagaimana orang itu bisa terus bertumbuh semakin sempurna dalam iman dan karakter yang semakin dewasa didalam Kristus.

Kehidupan bergereja justru semakin menggiring orang Kristen terpisah dengan dunia luar. Kita cenderung membangun dunia kita sendiri Sebenarnya tanpa kita sadari cara hidup yang demikianlah yang justr semakin membuat kita menjadi asing dimata masyarakat sekitar. dan meskipun banyak kegiatan-kegiatan spektakuler di gelar gereja sebagai wujud kepedulian terhadap dunia. Sayangnya kebanyakan acara dan kegiatan yang digelar tersebut hanya bisa dipahami oleh kalangan gereja sendiri. Dan hanya menjadi tontonan masyarakat, yang sebenarnya membutuhkan sesuatu yang lebih kangrit, sesuatu yang lebih nyata bisa dirasakan dan tersentuh.

Kehidupan bergereja kemudian menjadi sempit, dibatasi oleh pagar dan tembok, tersembunyi aman di gedung-gedung yang mewah. Kondisi-kondisi inilah yang telah menggiring kita mejadi kaum minoritas yang mengasingkan diri. Kita tidak disisihkan tapi kita sendri yang menyisihkan diri/menarik diri. Seharusnya tidak demikian, sebab diri kita inilah yang disebut gereja. Bagaimana kita bisa membawa diri kita yang adalah gereja ketengah-tengah masyarakat. Dengan ketulusan dan kerendahan hati, berbaur dan mencoba menyelami dan memahami beban mereka, penderitaan mereka untuk mununtun jiwa-jiwa yang terhilang kepada Terang Yang Sejati.

Ditengah-tengah kesibukan gereja dengan berbagai fenomena pengajaran dan sensasi rohani, gerakan transformasi, jaringan doa dan lain sebagainya. Jika ada pertanyaan, apa paling penting menjadi perhatian gereja saat ini? saya rasa menegakkan kembali jati diri, integritas dan kualitas hidup kita sebagai orang Kristen yang betul- betul Kristen adalah hal yang paling penting dan paling mendesak untuk mulai benahi oleh gereja. Tanpa tranformasi diri maka semua Gerakan transformasi, jaringan doa, pemulihan bagi kota dan negara semuannya hanya akan menjadi suatu usaha yang sia-sia. Doa memang baik dan diperlukan, sedangkan mengenai curahan Roh, dan berbagai fenomena iman memang diberikan Tuhan dengan tujuan untuk menguatkan iman. Adalah salah jika kita menjadikannya sebagai fokus kita. Namun bagaimana kita bisa menjadi terang dan garam melalui sikap hidup kita, melalui karakter kita, itulah yang terpenting. Jika ada pendapat yang mengatakan bahwa lidah dan pena itu lebih tajam dari pedang, maka sebenarnya ada yang jauh lebih tajam dari sekedar perkataan atau tulisan, yang bahkan tak terbantahkan, yaitu keteladanan dan karakter. Sebagus apapun pendapat kita, semulia apapun perkataan kita, sebijak apapun nasihat kita atau serajin apapun doa dan puasa kita, akan menjadi mentah dan berubah menjadi cibiran hanya karena sedikit sikap hidup kita yang tercela, yang menyimpang dari ucapkan kita. Sebaliknya sikap hidup yang bisa dijadikan teladan dan tak bercela justru akan lebih banyak berbicara dan memberikan pengaruh serta perubahan bagi lingkungan kita.

Dengan kualitas yang terbukti bukan NATO (no action talk only) Saya yakin kita akan bisa menjadi Daniel-Daniel dan Yusuf-Yusuf masa kini. Yang meskipun hanya berstatus sebagai kaum minoritas (kaum terjajah, bangsa buangan) namun kehidupannya bisa menjadi berkat dan membawa pengaruh besar bagi bangsanya dan bangsa dimana dia tinggal. Jangan kita menjadi kaum minoritas yang menyisihkan diri, yang hanya berkumpul dan berusaha membangun dunia kita sendiri. Namun jadilah kaum minoritas yang mampu membuktikan diri memiliki kualitas pilihan. Yang tidak hanya terus berkerumun dan memandang ke langit menanti kalau-kalau Tuhan datang. tapi berani untuk melangkahkan kaki kembali ke Yerusalem kita, ke tengah-tengah dunia yang sangat membutuhkan kehadiran kita.

Jadi, Akankah pendapat “jika ingin dapat pegawai yang jujur, carilah orang Kristen” akan dapat kita dengar lagi? semua bergantung pada gereja dan diri kita masing-masing.

Penulis: Kristian Novianto

Belajar dari Semut

Filed under: Tak Berkategori — noviz @ 2:29 pm

Suatu hari Raja Daud mengajak Salomo anaknya menemaninya berjalan-jalan di taman istana. Setelah letih berkeliling duduklah dia di bawah sebuah pohon rindang. Dilihatnya Salomo sedang asik memandangi sesuatu. Rasa penasaran Daud mendorongnya untuk menghampiri Salomo. “Anak ku apa yang sedang engkau lihat?” tanya sang ayah.
(more…)

Kisah Batu Jalanan

Filed under: Tak Berkategori — noviz @ 2:28 pm

Seorang musafir sedang berjalan menyusuri jalan setapak menuju sebuah kuil. Tinggal sekitar 200 meter lagi, ketikadi dijumpainnya sebuah pohon asam yang begitu rindang. “akhirnya aku sampai juga. Ah alangkah nyamannya jika aku beristirahat di bawah pohon ini”, pikir musafir. Kemudian dia pergi menepi, dan duduk di bawah pohon itu. Diambilnya bekal makanan dan minuman, lalu bersantaplah ia.
(more…)

« Laman SebelumnyaLaman Berikutnya »

Blog di WordPress.com.