Pilar

November 16, 2006

Bunga Kenangan dari Gereja Ortodoks

Filed under: potret — noviz @ 7:51 am

JUMAT (9/4) lalu, di sebuah sudut Jabotabek di kawasan Kalimalang, sebuah ritual yang telah dilakukan sejak abad III Masehi mulai berdenyut. Dentang lonceng gereja memberi isyarat bagi sekelompok pria dan wanita yang mengenakan baju hitam-hitam untuk masuk ke dalam gereja.
(more…)

Iklan

Segelas Air di Tengah Padang Pasir

Filed under: potret — noviz @ 7:41 am

Taman Wisata Rohani Mageria

JARUM jam di tangan menunjukkan pukul 14.20 Wita pada hari Minggu (19/12) lalu. Akan tetapi, sejumlah umat Katolik tampak khusyuk berdoa di Goa Maria yang terletak di bagian terdepan dari Taman Wisata Rohani Mageria.

Mereka berasal dari beberapa daerah di Flores, seperti Ende, Flores Timur, Ngada, dan Maumere. Mereka ada yang baru tiba, ada pula yang mulai bergegas untuk kembali ke rumah masing-masing.

Pada saat yang sama, di puncak bukit dalam kawasan wisata itu puluhan siswa dari salah satu sekolah menengah pertama (SMP) di Ende tampak sedang menikmati jam istirahat. Mereka sudah dua hari mengikuti pembinaan rohani sebagai bekal untuk menghadapi Natal. Beberapa hari sebelumnya, kegiatan yang sama juga dilakukan berbagai komunitas umat Katolik dari berbagai penjuru Flores, Nusa Tenggara Timur, di tempat tersebut.

“Biasanya menjelang hari raya besar agama Katolik, seperti Natal, Paskah, atau selama Bulan Maria, yakni Mei dan Oktober, umat Katolik dari berbagai daerah di Flores berziarah ke Taman Wisata Rohani Mageria. Ada yang khusus berdoa, tetapi ada pula yang mengikuti retret (pembinaan rohani),” kata salah seorang pengelola Taman Wisata Rohani Mageria, Romo Inocentius D Karwayu OCarm.

TAMAN Wisata Rohani Mageria terletak di atas bukit dengan ketinggian sekitar 100 meter di atas permukaan laut. Dari puncak bukit itu pengunjung disuguhi keindahan pemandangan Laut Sawu yang terletak di selatan Pulau Flores.

Secara administratif, Mageria termasuk bagian dari Desa Mauloo, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, Flores. Jarak dari Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka, menuju Mageria sekitar 45 kilometer (arah barat). Jika dari Ende, maka jarak tempuh sekitar 112 kilometer (arah timur).

Sebelum dijadikan taman wisata rohani, di bukit Mageria berdiri sebuah gereja. Tempat ibadah tersebut didirikan tahun 1919 dan dibangun oleh misionaris dari Ordo Serikat Sabda Allah (SVD). Saat itu gereja setempat hanya menjadi salah satu stasi dari Paroki Ignatius Loyola di Kampung Sikka yang berjarak lebih kurang 25 kilometer arah timur Mageria.

Kampung Sikka terletak di pantai selatan Pulau Flores. Kampung ini juga menjadi salah satu daerah pusat penyebaran agama Katolik di Flores yang dilakukan misionaris Dominikan sejak tahun 1561.

Penyebaran itu, menurut Inocentius Karwayu, diawali dengan inisiatif Uskup Malaka mengirim dua imam dan seorang bruder dari Ordo Dominikan dengan menggunakan perahu menuju Flores, yang saat itu dikenal dengan nama Sunda Kecil. Perahu tersebut mendarat di Lohayong, Solor Timur, Kabupaten Flores Timur. Setelah enam tahun menetap di daerah tersebut, ketiga misionaris itu bergerak ke arah barat Pulau Flores dengan menyusuri pantai selatan dan menyinggahi Kampung Sikka, Paga, Pulau Ende, dan Tonggo dalam rangka penyebaran agama Katolik.

Setelah 139 tahun berkarya, pada tahun 1700 misionaris Ordo Dominikan pun meninggalkan Flores. Kepergian itu membuat umat Katolik di Flores mengalami krisis rohaniwan. Akan tetapi, Konveria, pembimbing rohani dari awam yang dibina misionaris, kemudian muncul dan krisis tersebut pun akhirnya tertanggulangi. Benih iman yang telah ditanamkan kaum Dominikan dapat dipupuk dan dirawat.

Melihat kondisi menggembirakan itu, misionaris Yesuit pada tahun 1874 akhirnya masuk ke Flores. Ordo ini berkarya di pulau tersebut hingga tahun 1914, dan selanjutnya tugas pewartaan dan penyebaran diserahkan kepada SVD. Kenangan yang ditinggalkan Ordo Yesuit di Flores antara lain gedung gereja dan rumah pastor Paroki Ignatius Loyola di kampung Sikka yang telah berusia lebih dari 100 tahun. Konstruksi dari gedung-gedung itu didominasi kayu belian. Diduga kayu-kayu itu didatangkan dari Kalimantan.

SEIRING dengan perkembangan umat Katolik di Mageria dan sekitarnya yang semakin banyak, tahun 1956 pusat paroki dipindahkan dari Bukit Mageria ke Mauloo, kawasan pesisir yang memiliki ketinggian hanya empat meter dari permukaan laut. Jarak kedua lokasi tersebut cuma 90 meter. Lalu pada 4 Oktober 1969, SVD memercayakan pengelolaan Paroki Mauloo kepada Ordo Karmel.

Gedung gereja lama yang terletak di Bukit Mageria pun dibiarkan telantar, dan baru tahun 1983 disulap menjadi tempat ziarah. Sebuah patung Bunda Maria dari Fatimah hasil produksi tahun 1919 yang sebelumnya ditempatkan di tengah Kampung Mauloo dipindahkan ke goa yang direnovasi dari gereja tua tersebut.

Mulai tahun 1993, di punggung bukit tersebut didirikan lagi beberapa rumah penginapan, dan di puncak bukit dibangun satu aula. Kawasan itu ditata begitu apik, dilengkapi aneka taman sehingga suasananya menyegarkan. Luas kawasan taman wisata rohani itu lebih kurang 3,5 hektar.

Penginapan itu memiliki 60 kamar, dan setiap kamar dilengkapi dua tempat tidur yang terbuat dari bambu. Tarifnya untuk sehari pun relatif murah, yakni Rp 35.000 per orang. Bagi pelajar dan mahasiswa berlaku harga istimewa, yakni Rp 20.000 per orang.

“Jadi, jangan heran kalau Taman Wisata Rohani Mageria menjadi salah satu tempat tujuan utama masyarakat Flores, baik untuk berziarah maupun kegiatan lain, seperti seminar, diskusi, dan pelatihan yang tidak terkait dengan urusan gereja Katolik. Kami sangat bangga memiliki taman ini,” kata anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Sikka, Siflan Angi, yang mengaku menyerahkan sebidang tanahnya secara cuma-cuma bagi pembangunan taman wisata rohani tersebut.

Sebagai daerah yang mayoritas penduduknya beragama Katolik dengan tradisi devosi kepada Bunda Maria yang sangat kental, Pulau Flores memiliki ratusan bahkan ribuan goa Maria. Akan tetapi, lokasi-lokasi itu belum tertata secara baik.

Taman Wisata Rohani Mageria kini tidak semata-mata jadi tempat ziarah atau tempat berdoa dengan tenang dan khusyuk, tetapi juga sudah menjadi tempat istirahat.

Suasananya yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk dan bising kendaraan bermotor, memancing berbagai instansi pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, maupun partai politik untuk menggelar acara mereka di sana. “Ibarat sedang berada di padang pasir, Taman Wisata Rohani Mageria menawarkan kepada kita segelas air sebagai penyejuk dahaga. Itu tampak dari perpaduan antara kegiatan rohaniah dan jasmaniah. Nilai lebih seperti ini yang sedang didambakan masyarakat Flores,” ujar Siflan Angi. (JANNES EUDES WAWA)

Sumber: http://www.kompas.com/

Dendang Lagu Batak di Serambi Mekkah…

Filed under: potret — noviz @ 7:33 am

Oleh: AHMAD ARIF

Dendang lagu-lagu Batak diiringi petikan gitar mengalun di antara percakapan hangat di lapo (kedai) tuak malam itu. Sebagian asyik menikmati tuak sambil bermain catur atau kartu.

Pemandangan seperti itu barangkali tak aneh jika terjadi di tanah Batak, Sumatera Utara. Namun, malam itu kami berada di Desa Lawe Perbunga, Kecamatan Babul Makmur, Kabupaten Aceh Tenggara, bagian dari tanah Serambi Mekkah.

Aceh yang seolah identik dengan penerapan syariat Islam dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ternyata memiliki dinamika lain. Jika mereka yang di kawasan pesisir timur Aceh ”mulai dari Banda Aceh, Aceh Besar, Bireuen, Pidie, Aceh Utara, hingga Aceh Timur dan Langsa”sibuk menerapkan syariat Islam secara ketat, di Aceh Tenggara yang menonjol adalah upaya mempertahankan keharmonisan agama dan etnis.

Hingga sekitar 20 kilometer memasuki wilayah Aceh Tenggara dari Kabupaten Karo, Sumatera Utara, suasana memang seperti masih berada di Sumatera Utara. Lapo tuak dan gereja ada di sepanjang jalan. Sebagian masyarakat juga memelihara babi.

Jannus Tambunan (39), Kepala Desa Lawe Perbunga, Kecamatan Babul Makmur, menuturkan, warganya yang berjumlah sekitar 400 jiwa (170 keluarga) beragama Kristen.

Tetapi saya warga Aceh karena kuburan nenek kami di Tapanuli sudah dipindah ke desa ini, tutur Jannus yang lahir dan besar di desa itu.

Ayah lima anak tersebut memaklumi Aceh adalah wilayah istimewa yang menerapkan syariat Islam. Namun, selama hidupnya Jannus tak pernah punya masalah apa pun, hidup berdampingan dengan warga Muslim di desa sebelah.

Ator (47), Sekretaris Desa Tanoh Alas, Kecamatan Babul Makmur, mengatakan, 15 dari 23 kepala desa yang berada di Kecamatan Babul Makmur beragama Kristen dan hanya delapan orang yang beragama Islam. Di sini etnisnya juga beragam, mulai dari Alas, Gayo, Karo, Batak, Mandailing, Jawa, Padang, Aceh, sampai Singkil, kata lelaki yang berasal dari suku Jawa ini.

Berdasarkan data Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tenggara, mayoritas penduduk beragama Islam, yaitu 70 persen dari 169.000 penduduk, dan sisanya Kristen dan Katolik, serta sedikit penganut kepercayaan Parmalim. Di kabupaten itu tercatat masjid berjumlah 175 unit, mushala (203 unit), dan surau (45 unit). Di samping itu, ada sembilan gereja Katolik dan 114 gereja Protestan. Dari 11 kecamatan, gereja terbanyak ada di Kecamatan Babul Makmur, yakni tiga gereja Katolik dan 41 gereja Protestan.

Bupati Aceh Tenggara Armen Desky menuturkan, Aceh Tenggara adalah Indonesia kecil karena beraneka ragam suku bangsa dan agama hidup di sana. Walaupun menerapkan syariat Islam, agama Islam tidak boleh menjadi momok bagi penganut agama lain, katanya.

Menurut Armen, Alas yang merupakan suku bangsa dominan di Aceh Tenggara (35 persen) juga memiliki garis keturunan sama dengan suku bangsa Karo dan Batak. Misalnya, marga Desky kalau di Karo sama dengan Sembiring dan di Batak Silalahi. Kami memang masih ada jalinan sejarah yang sama. Di sini banyak yang bilang kami adalah Aceh Batak. Itulah kenyataannya, katanya.

Namun, menurut Armen, orang Alas, Gayo, dan Singkil juga Aceh. Bahkan jika melihat sejarah, orang-orang yang sekarang disebut Aceh di pesisir timur dan sebagian pesisir barat adalah pendatang dari berbagai suku bangsa, seperti Arab dan Keling atau Tamil yang datang belakangan.

Jadi, kalau ada yang tanya siapa yang Aceh, maka jawabnya adalah orang Gayo, Singkil, dan Alas-lah yang pertama tinggal di tanah ini, kata Armen menambahkan.

Menurut Armen, sebagaimana suku bangsa Gayo yang banyak berada di Aceh Tengah, Gayo Luwes, Bener Meriah, ataupun suku Singkil yang berada di Aceh Singkil, mereka adalah bagian dari keragaman Aceh yang selama ini seolah tenggelam oleh gejolak dan panasnya suasana di pesisir timur ataupun sebagian pesisir barat Aceh.

Jika disinggung tentang Aceh, orang seolah berasosiasi dengan GAM, padahal di lima kabupaten ini, terutama Aceh Tenggara dan Singkil, GAM tak populer. Panglima GAM di Aceh Tenggara, Winkaka, bukan asli Aceh Tenggara, tetapi berasal dari Aceh Tengah. Anggota GAM di sini kebanyakan juga bukan warga sini. Dan selama ini keamanan masyarakat praktis tak terusik oleh GAM, kata Armen Desky.

Maka, perjanjian damai atau nota kesepahaman (MOU) RI-GAM disambut dingin saja oleh masyarakat Aceh Tenggara. Dari dulu kami merasa tak pernah ada masalah dengan GAM. Jadi, perjanjian damai itu tak ada pengaruhnya bagi kondisi di sini. Mungkin hanya berpengaruh di pantai timur, kata Amas Muda Tambunan (73), warga Lawe Perbunga, Kecamatan Babul Makmur.

Amas sendiri berasal dari Pangaribuan, Tapanuli Utara, dan telah tinggal di Lawe Perbunga sejak tahun 1946. Menurut Amas, MOU RI-GAM itu justru menimbulkan tanda tanya. Bingung kami kalau Aceh merdeka karena di sinilah huta (kampung) kami dan kuburan orangtua juga di sini. Apakah kami akan diusir kalau Aceh merdeka? katanya.

Amas adalah cermin masyarakat bawah di kawasan Aceh yang masih kebingungan dengan masa depan Aceh pasca-MOU. Kebingungan yang sama dilontarkan Jannus Tambunan.

Selaku kepala desa, Jannus sudah mendapat naskah MOU RI-GAM. Ia juga sudah mendapat penjelasan dari Aceh Monitoring Mission Rabu lalu. Namun, kami tetap bingung kalau misalnya Aceh merdeka nanti. Bagaimana nasib kami. Di mana posisi kami dalam MOU itu. Kami kan juga orang Aceh, katanya.

Runtuhan Gereja Kuno Ditemukan di Mesir

Filed under: Sejarah — noviz @ 7:18 am

Kairo, Senin

Reruntuhan gereja serta lokasi persemedian kuno yang berasal dari masa-masa awal munculnya kehidupan membiara (monasticism) telah ditemukan di sebuah biara Coptic di wilayah Laut Merah.

Para pekerja dari Dewan Tertinggi Benda Antik Mesir mendapati reruntuhan itu ketika sedang memperbaiki pondasi Gereja Apostolik di biara Santo Antonius. Puing-puing ditemukan sekitar 2 hingga 2,5 meter di bawah tanah, ungkap pimpinan dewan, Zahi Hawass.

Biara yang berada di gurun sebelah barat Laut Merah itu didirikan oleh para pengikut Santo Antonius, seorang pertapa yang meninggal tahun 356 dan dipandang sebagai bapa monasticism. Sekumpulan pertapa yang mengikuti Antonius, membuatnya memutuskan untuk membuat semacam komunitas yang pada perkembangannya kemudian menetap di biara-biara.

Reruntuhan biara itu berupa dasar-dasar kolom dari gereja batu bata, dan dua ruang pertapaan.

Sisa-sisa tungku kecil dan ceruk penyimpanan makanan ditemukan di salah satu tempat bertapa, kata Hawass. Ruang yang lain dihiasi tulisan Coptic di dindingnya dan memiliki cekungan kecil di bagian bawah.

“Pertapaan ini adalah yang tertua di Mesir dan bisa memberi petunjuk mengenai sejarah monasticism,” ujar Abdullah Kamel, pimpinan departemen Coptic dan Islamic di dewan.

Sebagai tambahan, sekitar 10 persen populasi Mesir adalah penganut Kristiani dan sebagian besar merupakan pengikut Gereja Coptic, gereja Orthodox yang asal muasalnya dari Santo Markus.

Sumber: AP
Penulis: Wsn

Keharmonisan Budaya Tionghoa dalam Gereja Toasebio

Filed under: potret — noviz @ 7:09 am

BEBERAPA gereja Katolik di Jakarta memberikan pelayanan misa dengan bahasa asing. Taruhlah Kapel Seminari Wacana Bakti di Pejaten (Jaksel), yang memberikan misa dengan bahasa Jerman dan Spanyol, Kapel Universitas Atmajaya yang berbahasa Inggris, dan Gereja Kristus Raja dengan bahasa Perancis. Penggunaan bahasa asing itu semata untuk melayani kaum ekspatriat.

Berbeda dengan Gereja Santa Maria de Fatima atau lebih dikenal dengan Gereja Toasebio yang memberikan pelayanan misa dengan Bahasa Mandarin. Misa itu diperuntukkan bagi warga negara Indonesia (WNI) keturunan Tionghoa dan orang Tionghoa perantauan yang menjadi WNI, tetapi tidak pandai berbahasa Indonesia.

Gereja Toasebio memang berada di daerah Pecinan. Nuansa Cina, seperti bahasa Tionghoa, harum dupa, serta arsitektur rumah gaya Cina, sangat terasa ketika memasuki Jalan Kemenangan, lokasi gereja.

Arsitektur gaya Cina tetap dipertahankan gereja. Bahkan, bila dilihat sekilas Gereja Toasebio mirip dengan dua klenteng yang ada di sekitar itu. Interior gereja, seperti ukiran pada altar dan podium, serta tiangnya, pun bergaya Cina.

Menurut Pastor Paroki Gereja Santa Maria de Fatima, Pater Yosef Bagnara SX, misa berbahasa Mandarin sudah dilakukan sejak tahun 1955. Pada masa itu banyak penduduk sekitar tidak bisa berbahasa Indonesia. Mereka, umumnya orang Tiongkok yang merantau ke Indonesia, kemudian menjadi WNI. Dalam pergaulan sehari-hari mereka tetap memakai bahasa Mandarin meski dialeknya berbeda-beda.

“Meski berbahasa Mandarin, bukan berarti ini eksklusif, gereja Katolik tetap universal. Semua tata cara misa sama. Liturginya mengikuti liturgi yang disahkan di Taiwan dan ada imprimatur dari Taiwan yang disahkan oleh Keuskupan Agung Jakarta (KAJ),” jelas Pater Agustinus Lie CDD, pastor yang mempersembahkan misa berbahasa Mandarin.

Lagu-lagu yang dipakai pun lagu Mandarin yang biasa dinyanyikan gereja di Taiwan, Cina, Hongkong, dan Singapura. Namun, ada juga sebagian lagu Indonesia yang diterjemahkan ke Mandarin. Bahkan, untuk misa hari besar, kadang umat memakai pakaian adat Cina.

Menurut Pater Agus, masyarakat Tionghoa sudah berkumpul bersama untuk berdoa, namun tidak dalam struktur gereja. Pada masa penjajahan Belanda, Celso Costantini, pendiri ordo CDD (Kongregasi Murid-murid Tuhan) yang sekarang mengkhususkan diri memberi pelayanan dalam bahasa Mandarin, bertandang ke Batavia. Mereka melihat orang Tionghoa berkumpul untuk berdoa sehingga gereja perlu memperhatikan kehidupan iman mereka. “Baru setelah ada Gereja Toasebio, mereka lebih terstruktur,” kata Pater Agus.

Dulu frekuensi misa bahasa Mandarin agak sering, sekarang tinggal satu, yaitu hari Minggu pukul 16.15. Sampai saat ini umat yang aktif mengikuti misa berbahasa Mandarin hanya sekitar 100 orang yang sebagian besar berusia 50 tahun ke atas. “Karena ini berkaitan dengan rohani, ada orang yang lebih pas kalau mengungkapkan imannya dengan bahasa ibu, bahasa Mandarin, karena mereka tidak mengetahui bahasa Indonesia secara baik,” jelas Pater Agus.

Menurut Pater Yosef, beberapa pemuda dan warga biasa ada yang datang ke misa untuk mendalami bahasa Mandarin.

Berkaitan dengan pengaruh kebudayaan Tionghoa, Pater Agus mengatakan, gereja tidak melarang hio (dupa). “Karena secara filosofis hio sebagai ungkapan penghormatan semata. Pada waktu Imlek, gereja melakukan misa. Di akhir misa ada upacara penyalaan hio untuk menghormati Tuhan dan keluarga yang meninggal, dengan catatan kita tidak menyembah leluhur, tetapi menghormatinya,” kata Pater Lie. (K02)

Sumber: https://www.kompas.com/

November 15, 2006

Gereja bergengsi!

Filed under: Gereja — noviz @ 8:50 am

By: Mang Ucup

Memang benar di gereja itu penuh dgn domba, maklum binatang lainnya seperti
Ular & Buaya dilarang masuk, dan harus juga diakui, bahwa para domba ini
digembalakan oleh seorang yg menamakan dirinya Gembala, walaupun demikian
jangan sekali-kali Anda, menilai bahwa gereja tsb adalah gereja “Kelas
Kambing”, sebab ini merupakan satu penghinaan.
Tetapi paling lambat, nanti pada akhir jaman akan terbuktikan apakah gereja
Anda ini gereja Kelas Kambing ataukah Gereja Berbintang, seperti juga yg
tercantum dlm Matius 7:22-23 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru
kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, …Pada waktu
itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah
mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, . (more…)

November 1, 2006

Minoritas; Bagaimana Seharusnya?

Filed under: Opini — noviz @ 2:30 pm

Sebagai kaum minoritas Kristen, sering kita dihadapkan pada situasi yang serba sulit. Dalam hal pekerjaan misalnya sering kita mendapatkan diskriminasi. Beberapa dari kita menanggapi kondisi tersebut dengan cara yang berbeda-beda. Tuhan pernah berfirman bahwa kita tidak berasal dari dunia oleh karena itu dunia akan membenci kita. Ironisnya banyak orang Kristen yang kemudian menggunakan firman tersebut untuk membenarkan diri.

Maksud saya di sini adalah ketika orang Kristen melakukan tindakan yang tampaknya rohani namun menjadi batu sandungan. Sebagai contoh, ketika seseorang sudah mulai sibuk dengan pelayanannya di gereja hingga mulai melupakan fungsi dan perannya di masyarakat atau lingkungan tempat tinggalnya. Menjadi terlihat ekslusif dan cenderung menarik diri. Sebenarnya wajar jika kemudian masyarakat mulai mengucilkannya. Namun daripada berusaha mengoreksi diri orang itu justru menganggap pengucilan terhadap dirinya buakan karena kesalahannya, namun suatu yang wajar, dengan alasan karena dia tidak berasal dari dunia maka dunia membencinya. Saya kenal seorang guru agama Kristen yang karena kesibukan pelayanannya kemudian mulai melupakan perannya sebagai guru, sering ijin bahkan mangkir mengajar hanya untuk memenuhi panggilan khotbah dan menjadi pembicara diberbagai acara gereja. Lebih sering terlihat tampil dengan setelan jas daripada baju safari meskipun dia sedang dalam jam dinas. Tapi yah begitulah semua gunjingan, semua kritikan dan teguran ia tanggapi dengan telinga yang tebal dan menganggapnya sebagai batu sandungan pelayanan tanpa dia sadari tanpa merasa dirinya sendiri telah menjadi batu sandungan.

Saya rasa bukan begitu maksud dari firman Tuhan di atas. Sebab jika itu benar, mengapa Tuhan tidak memisahkan saja umatnya dari mereka yang tidak percaya, mengumpulkannya di suatu tempat dan memeliharanya sampai hari Tuhan digenapi? Kenapa Tuhan justru membiarkan umatnya tetap tinggal di tengah-tengah dunia yang Dia tahu akan membenci mereka?

Alkitab sebenarnya telah menunjukan bagaimana orang-orang justru biasa berbuat banyak dibalik status minoritas yang mereka sandang, dan bahkan mampu memberikan pengaruh besar bagi dunia sekitarnya. Dan dunia menghormatinya. Sebut saja Daniel, seorang buangan di negeri Babel, juga Jusuf seorang budak dan napi penjara. Mereka telah membuktikan bahwa meskipun dunia membenci mereka namun pada akhirnya dunia mengakui mereka, dan belajar menghormati dan mengakui kebesaran Allah mereka, maka kitapun pasti bisa. Tapi dengan kondisi zaman yang sudah begitu berubah, apakah kisah-kisah itu masih relevan? Jika iya, apa buktinya?

Belajar dari sejarah, kita mungkin masih ingat jika pada jaman Orde Lama hingga awal Orde Baru sempat muncul pendapat dikalangan masyarakat yang mengatakan bahwa “Kalau ingin dapat pegawai yang jujur carilah orang Kristen”. Banyak instansi/perusahaan yang sengaja menempatkan orang Kristen untuk menduduki tanggung jawab sebagai bendahara atau staf keuangan diperusahaan mereka. Bagaimana itu bisa terjadi? semua itu bisa terjadi karena orang-orang Kristen saat itu memang memiliki jati diri, karakter dan standar integritas yang tinggi. Sikap takut akan Tuhan yang mereka nyatakan dalam kualitas hidup sehari-hari terbukti mampu memberikan pengaruh dan membuahkan respon positif di tengah-tengah masyarakat saat itu.

Bagaimana dengan kondisi sekarang? Apakah pendapat itu masih ada? Sepertinya tidak, dan justru sebaliknya, sebagai orang Kristen kita selalu dicurigai dan diwaspadai. Ada baiknya kembali menengok diri kita, serta melihat kondisi kekristenan dan kualitas hidup dari orang-orang yang mengaku dirinya sebagai orang Kristen yang ada sekarang. Bukankah semakin banyak nama-nama Kristen yang ikut memperpanjang deretan daftar koruptor, terlibat kasus penipuan dan perkosaan. Bahkan nama seperti Yohanes terang-terangan muncul sebagai terdakwa kasus pembunuhan. Sengketa antar gereja, perpecahan jemaat hingga gerakan penginjilan yang dilakukan tanpa perhitungan bukankah itu semua sama saja seperti mencoreng arang di muka sendiri, bahkan lebih parah lagi karena itu juga berarti mencoreng muka Kristus. Jika didalam sendiri saja kita tidak bisa akur sebaliknya malah menunjukan sikap saling pukul, saling memangsa, lalu apa bedanya kita dengan orang lain? Jadi apakah kita masih berhak untuk menyalahkan mereka jika kemudian mereka tidak lagimempercayai kita? memunsuhi kita dan cenderung curiga dengan sikap kita?

Apa yang menyebabkan mutu, kualitas hidup dan moralitas Kristen semakin merosot? Gereja memiliki tanggung jawab terbesar dalam hal ini. Semakin jarang kita temui suara-suara keras didikan dan pengajaran yang tegas akan standar moral dan karakter Kristen dibawakan dimimbar-mimbar. Orang Kristen semakin dibuai dengan berbagai janji-janji Tuhan, jaminan kemakmuran, jaminan pemulihan, dan jaminankesembuhan. Jika saya boleh menulis ulang ayat dari Matius 28 : 19-20, supaya sesuai dengan kondisi sekarang, maka ayat itu akan berbunyi:

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, Dan aku berjanji akan mencurahkan berkat kepada mereka sampai berkelimpahan”.

Gereja lupa bahwa penggembalaan dan pendewasaan rohani adalah sesuatu yang sangat penting, Gereja lebih senang untuk membuai para Kristen baru dengan janji-janji Allah. Gereja lupa bahwa untuk menerima setiap janji Tuhan seseorang harus terlebih dahulu memiliki pondasi yang kokoh. janji Tuhan bukanlah sesuatu yang instant. Salah satu penekanan perintah Tuhan seperti yang tertulis dalam matius 28 adalah pada ayat 20 yang berbunyi:

“dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”

Gerja tidak boleh hanya berhenti pada ayat 19. Selamatkan jiwa tidak hanya berhenti saat seorang dibaptis dan mengaku percaya. Namun lebih dari itu adalah bagaimana orang itu bisa terus bertumbuh semakin sempurna dalam iman dan karakter yang semakin dewasa didalam Kristus.

Kehidupan bergereja justru semakin menggiring orang Kristen terpisah dengan dunia luar. Kita cenderung membangun dunia kita sendiri Sebenarnya tanpa kita sadari cara hidup yang demikianlah yang justr semakin membuat kita menjadi asing dimata masyarakat sekitar. dan meskipun banyak kegiatan-kegiatan spektakuler di gelar gereja sebagai wujud kepedulian terhadap dunia. Sayangnya kebanyakan acara dan kegiatan yang digelar tersebut hanya bisa dipahami oleh kalangan gereja sendiri. Dan hanya menjadi tontonan masyarakat, yang sebenarnya membutuhkan sesuatu yang lebih kangrit, sesuatu yang lebih nyata bisa dirasakan dan tersentuh.

Kehidupan bergereja kemudian menjadi sempit, dibatasi oleh pagar dan tembok, tersembunyi aman di gedung-gedung yang mewah. Kondisi-kondisi inilah yang telah menggiring kita mejadi kaum minoritas yang mengasingkan diri. Kita tidak disisihkan tapi kita sendri yang menyisihkan diri/menarik diri. Seharusnya tidak demikian, sebab diri kita inilah yang disebut gereja. Bagaimana kita bisa membawa diri kita yang adalah gereja ketengah-tengah masyarakat. Dengan ketulusan dan kerendahan hati, berbaur dan mencoba menyelami dan memahami beban mereka, penderitaan mereka untuk mununtun jiwa-jiwa yang terhilang kepada Terang Yang Sejati.

Ditengah-tengah kesibukan gereja dengan berbagai fenomena pengajaran dan sensasi rohani, gerakan transformasi, jaringan doa dan lain sebagainya. Jika ada pertanyaan, apa paling penting menjadi perhatian gereja saat ini? saya rasa menegakkan kembali jati diri, integritas dan kualitas hidup kita sebagai orang Kristen yang betul- betul Kristen adalah hal yang paling penting dan paling mendesak untuk mulai benahi oleh gereja. Tanpa tranformasi diri maka semua Gerakan transformasi, jaringan doa, pemulihan bagi kota dan negara semuannya hanya akan menjadi suatu usaha yang sia-sia. Doa memang baik dan diperlukan, sedangkan mengenai curahan Roh, dan berbagai fenomena iman memang diberikan Tuhan dengan tujuan untuk menguatkan iman. Adalah salah jika kita menjadikannya sebagai fokus kita. Namun bagaimana kita bisa menjadi terang dan garam melalui sikap hidup kita, melalui karakter kita, itulah yang terpenting. Jika ada pendapat yang mengatakan bahwa lidah dan pena itu lebih tajam dari pedang, maka sebenarnya ada yang jauh lebih tajam dari sekedar perkataan atau tulisan, yang bahkan tak terbantahkan, yaitu keteladanan dan karakter. Sebagus apapun pendapat kita, semulia apapun perkataan kita, sebijak apapun nasihat kita atau serajin apapun doa dan puasa kita, akan menjadi mentah dan berubah menjadi cibiran hanya karena sedikit sikap hidup kita yang tercela, yang menyimpang dari ucapkan kita. Sebaliknya sikap hidup yang bisa dijadikan teladan dan tak bercela justru akan lebih banyak berbicara dan memberikan pengaruh serta perubahan bagi lingkungan kita.

Dengan kualitas yang terbukti bukan NATO (no action talk only) Saya yakin kita akan bisa menjadi Daniel-Daniel dan Yusuf-Yusuf masa kini. Yang meskipun hanya berstatus sebagai kaum minoritas (kaum terjajah, bangsa buangan) namun kehidupannya bisa menjadi berkat dan membawa pengaruh besar bagi bangsanya dan bangsa dimana dia tinggal. Jangan kita menjadi kaum minoritas yang menyisihkan diri, yang hanya berkumpul dan berusaha membangun dunia kita sendiri. Namun jadilah kaum minoritas yang mampu membuktikan diri memiliki kualitas pilihan. Yang tidak hanya terus berkerumun dan memandang ke langit menanti kalau-kalau Tuhan datang. tapi berani untuk melangkahkan kaki kembali ke Yerusalem kita, ke tengah-tengah dunia yang sangat membutuhkan kehadiran kita.

Jadi, Akankah pendapat “jika ingin dapat pegawai yang jujur, carilah orang Kristen” akan dapat kita dengar lagi? semua bergantung pada gereja dan diri kita masing-masing.

Penulis: Kristian Novianto

Oktober 31, 2006

Hello world!

Filed under: Opini — noviz @ 11:00 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Blog di WordPress.com.