Pilar

November 16, 2006

Segelas Air di Tengah Padang Pasir

Filed under: potret — noviz @ 7:41 am

Taman Wisata Rohani Mageria

JARUM jam di tangan menunjukkan pukul 14.20 Wita pada hari Minggu (19/12) lalu. Akan tetapi, sejumlah umat Katolik tampak khusyuk berdoa di Goa Maria yang terletak di bagian terdepan dari Taman Wisata Rohani Mageria.

Mereka berasal dari beberapa daerah di Flores, seperti Ende, Flores Timur, Ngada, dan Maumere. Mereka ada yang baru tiba, ada pula yang mulai bergegas untuk kembali ke rumah masing-masing.

Pada saat yang sama, di puncak bukit dalam kawasan wisata itu puluhan siswa dari salah satu sekolah menengah pertama (SMP) di Ende tampak sedang menikmati jam istirahat. Mereka sudah dua hari mengikuti pembinaan rohani sebagai bekal untuk menghadapi Natal. Beberapa hari sebelumnya, kegiatan yang sama juga dilakukan berbagai komunitas umat Katolik dari berbagai penjuru Flores, Nusa Tenggara Timur, di tempat tersebut.

“Biasanya menjelang hari raya besar agama Katolik, seperti Natal, Paskah, atau selama Bulan Maria, yakni Mei dan Oktober, umat Katolik dari berbagai daerah di Flores berziarah ke Taman Wisata Rohani Mageria. Ada yang khusus berdoa, tetapi ada pula yang mengikuti retret (pembinaan rohani),” kata salah seorang pengelola Taman Wisata Rohani Mageria, Romo Inocentius D Karwayu OCarm.

TAMAN Wisata Rohani Mageria terletak di atas bukit dengan ketinggian sekitar 100 meter di atas permukaan laut. Dari puncak bukit itu pengunjung disuguhi keindahan pemandangan Laut Sawu yang terletak di selatan Pulau Flores.

Secara administratif, Mageria termasuk bagian dari Desa Mauloo, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, Flores. Jarak dari Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka, menuju Mageria sekitar 45 kilometer (arah barat). Jika dari Ende, maka jarak tempuh sekitar 112 kilometer (arah timur).

Sebelum dijadikan taman wisata rohani, di bukit Mageria berdiri sebuah gereja. Tempat ibadah tersebut didirikan tahun 1919 dan dibangun oleh misionaris dari Ordo Serikat Sabda Allah (SVD). Saat itu gereja setempat hanya menjadi salah satu stasi dari Paroki Ignatius Loyola di Kampung Sikka yang berjarak lebih kurang 25 kilometer arah timur Mageria.

Kampung Sikka terletak di pantai selatan Pulau Flores. Kampung ini juga menjadi salah satu daerah pusat penyebaran agama Katolik di Flores yang dilakukan misionaris Dominikan sejak tahun 1561.

Penyebaran itu, menurut Inocentius Karwayu, diawali dengan inisiatif Uskup Malaka mengirim dua imam dan seorang bruder dari Ordo Dominikan dengan menggunakan perahu menuju Flores, yang saat itu dikenal dengan nama Sunda Kecil. Perahu tersebut mendarat di Lohayong, Solor Timur, Kabupaten Flores Timur. Setelah enam tahun menetap di daerah tersebut, ketiga misionaris itu bergerak ke arah barat Pulau Flores dengan menyusuri pantai selatan dan menyinggahi Kampung Sikka, Paga, Pulau Ende, dan Tonggo dalam rangka penyebaran agama Katolik.

Setelah 139 tahun berkarya, pada tahun 1700 misionaris Ordo Dominikan pun meninggalkan Flores. Kepergian itu membuat umat Katolik di Flores mengalami krisis rohaniwan. Akan tetapi, Konveria, pembimbing rohani dari awam yang dibina misionaris, kemudian muncul dan krisis tersebut pun akhirnya tertanggulangi. Benih iman yang telah ditanamkan kaum Dominikan dapat dipupuk dan dirawat.

Melihat kondisi menggembirakan itu, misionaris Yesuit pada tahun 1874 akhirnya masuk ke Flores. Ordo ini berkarya di pulau tersebut hingga tahun 1914, dan selanjutnya tugas pewartaan dan penyebaran diserahkan kepada SVD. Kenangan yang ditinggalkan Ordo Yesuit di Flores antara lain gedung gereja dan rumah pastor Paroki Ignatius Loyola di kampung Sikka yang telah berusia lebih dari 100 tahun. Konstruksi dari gedung-gedung itu didominasi kayu belian. Diduga kayu-kayu itu didatangkan dari Kalimantan.

SEIRING dengan perkembangan umat Katolik di Mageria dan sekitarnya yang semakin banyak, tahun 1956 pusat paroki dipindahkan dari Bukit Mageria ke Mauloo, kawasan pesisir yang memiliki ketinggian hanya empat meter dari permukaan laut. Jarak kedua lokasi tersebut cuma 90 meter. Lalu pada 4 Oktober 1969, SVD memercayakan pengelolaan Paroki Mauloo kepada Ordo Karmel.

Gedung gereja lama yang terletak di Bukit Mageria pun dibiarkan telantar, dan baru tahun 1983 disulap menjadi tempat ziarah. Sebuah patung Bunda Maria dari Fatimah hasil produksi tahun 1919 yang sebelumnya ditempatkan di tengah Kampung Mauloo dipindahkan ke goa yang direnovasi dari gereja tua tersebut.

Mulai tahun 1993, di punggung bukit tersebut didirikan lagi beberapa rumah penginapan, dan di puncak bukit dibangun satu aula. Kawasan itu ditata begitu apik, dilengkapi aneka taman sehingga suasananya menyegarkan. Luas kawasan taman wisata rohani itu lebih kurang 3,5 hektar.

Penginapan itu memiliki 60 kamar, dan setiap kamar dilengkapi dua tempat tidur yang terbuat dari bambu. Tarifnya untuk sehari pun relatif murah, yakni Rp 35.000 per orang. Bagi pelajar dan mahasiswa berlaku harga istimewa, yakni Rp 20.000 per orang.

“Jadi, jangan heran kalau Taman Wisata Rohani Mageria menjadi salah satu tempat tujuan utama masyarakat Flores, baik untuk berziarah maupun kegiatan lain, seperti seminar, diskusi, dan pelatihan yang tidak terkait dengan urusan gereja Katolik. Kami sangat bangga memiliki taman ini,” kata anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Sikka, Siflan Angi, yang mengaku menyerahkan sebidang tanahnya secara cuma-cuma bagi pembangunan taman wisata rohani tersebut.

Sebagai daerah yang mayoritas penduduknya beragama Katolik dengan tradisi devosi kepada Bunda Maria yang sangat kental, Pulau Flores memiliki ratusan bahkan ribuan goa Maria. Akan tetapi, lokasi-lokasi itu belum tertata secara baik.

Taman Wisata Rohani Mageria kini tidak semata-mata jadi tempat ziarah atau tempat berdoa dengan tenang dan khusyuk, tetapi juga sudah menjadi tempat istirahat.

Suasananya yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk dan bising kendaraan bermotor, memancing berbagai instansi pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, maupun partai politik untuk menggelar acara mereka di sana. “Ibarat sedang berada di padang pasir, Taman Wisata Rohani Mageria menawarkan kepada kita segelas air sebagai penyejuk dahaga. Itu tampak dari perpaduan antara kegiatan rohaniah dan jasmaniah. Nilai lebih seperti ini yang sedang didambakan masyarakat Flores,” ujar Siflan Angi. (JANNES EUDES WAWA)

Sumber: http://www.kompas.com/

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: