Pilar

November 16, 2006

Dendang Lagu Batak di Serambi Mekkah…

Filed under: potret — noviz @ 7:33 am

Oleh: AHMAD ARIF

Dendang lagu-lagu Batak diiringi petikan gitar mengalun di antara percakapan hangat di lapo (kedai) tuak malam itu. Sebagian asyik menikmati tuak sambil bermain catur atau kartu.

Pemandangan seperti itu barangkali tak aneh jika terjadi di tanah Batak, Sumatera Utara. Namun, malam itu kami berada di Desa Lawe Perbunga, Kecamatan Babul Makmur, Kabupaten Aceh Tenggara, bagian dari tanah Serambi Mekkah.

Aceh yang seolah identik dengan penerapan syariat Islam dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ternyata memiliki dinamika lain. Jika mereka yang di kawasan pesisir timur Aceh ”mulai dari Banda Aceh, Aceh Besar, Bireuen, Pidie, Aceh Utara, hingga Aceh Timur dan Langsa”sibuk menerapkan syariat Islam secara ketat, di Aceh Tenggara yang menonjol adalah upaya mempertahankan keharmonisan agama dan etnis.

Hingga sekitar 20 kilometer memasuki wilayah Aceh Tenggara dari Kabupaten Karo, Sumatera Utara, suasana memang seperti masih berada di Sumatera Utara. Lapo tuak dan gereja ada di sepanjang jalan. Sebagian masyarakat juga memelihara babi.

Jannus Tambunan (39), Kepala Desa Lawe Perbunga, Kecamatan Babul Makmur, menuturkan, warganya yang berjumlah sekitar 400 jiwa (170 keluarga) beragama Kristen.

Tetapi saya warga Aceh karena kuburan nenek kami di Tapanuli sudah dipindah ke desa ini, tutur Jannus yang lahir dan besar di desa itu.

Ayah lima anak tersebut memaklumi Aceh adalah wilayah istimewa yang menerapkan syariat Islam. Namun, selama hidupnya Jannus tak pernah punya masalah apa pun, hidup berdampingan dengan warga Muslim di desa sebelah.

Ator (47), Sekretaris Desa Tanoh Alas, Kecamatan Babul Makmur, mengatakan, 15 dari 23 kepala desa yang berada di Kecamatan Babul Makmur beragama Kristen dan hanya delapan orang yang beragama Islam. Di sini etnisnya juga beragam, mulai dari Alas, Gayo, Karo, Batak, Mandailing, Jawa, Padang, Aceh, sampai Singkil, kata lelaki yang berasal dari suku Jawa ini.

Berdasarkan data Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tenggara, mayoritas penduduk beragama Islam, yaitu 70 persen dari 169.000 penduduk, dan sisanya Kristen dan Katolik, serta sedikit penganut kepercayaan Parmalim. Di kabupaten itu tercatat masjid berjumlah 175 unit, mushala (203 unit), dan surau (45 unit). Di samping itu, ada sembilan gereja Katolik dan 114 gereja Protestan. Dari 11 kecamatan, gereja terbanyak ada di Kecamatan Babul Makmur, yakni tiga gereja Katolik dan 41 gereja Protestan.

Bupati Aceh Tenggara Armen Desky menuturkan, Aceh Tenggara adalah Indonesia kecil karena beraneka ragam suku bangsa dan agama hidup di sana. Walaupun menerapkan syariat Islam, agama Islam tidak boleh menjadi momok bagi penganut agama lain, katanya.

Menurut Armen, Alas yang merupakan suku bangsa dominan di Aceh Tenggara (35 persen) juga memiliki garis keturunan sama dengan suku bangsa Karo dan Batak. Misalnya, marga Desky kalau di Karo sama dengan Sembiring dan di Batak Silalahi. Kami memang masih ada jalinan sejarah yang sama. Di sini banyak yang bilang kami adalah Aceh Batak. Itulah kenyataannya, katanya.

Namun, menurut Armen, orang Alas, Gayo, dan Singkil juga Aceh. Bahkan jika melihat sejarah, orang-orang yang sekarang disebut Aceh di pesisir timur dan sebagian pesisir barat adalah pendatang dari berbagai suku bangsa, seperti Arab dan Keling atau Tamil yang datang belakangan.

Jadi, kalau ada yang tanya siapa yang Aceh, maka jawabnya adalah orang Gayo, Singkil, dan Alas-lah yang pertama tinggal di tanah ini, kata Armen menambahkan.

Menurut Armen, sebagaimana suku bangsa Gayo yang banyak berada di Aceh Tengah, Gayo Luwes, Bener Meriah, ataupun suku Singkil yang berada di Aceh Singkil, mereka adalah bagian dari keragaman Aceh yang selama ini seolah tenggelam oleh gejolak dan panasnya suasana di pesisir timur ataupun sebagian pesisir barat Aceh.

Jika disinggung tentang Aceh, orang seolah berasosiasi dengan GAM, padahal di lima kabupaten ini, terutama Aceh Tenggara dan Singkil, GAM tak populer. Panglima GAM di Aceh Tenggara, Winkaka, bukan asli Aceh Tenggara, tetapi berasal dari Aceh Tengah. Anggota GAM di sini kebanyakan juga bukan warga sini. Dan selama ini keamanan masyarakat praktis tak terusik oleh GAM, kata Armen Desky.

Maka, perjanjian damai atau nota kesepahaman (MOU) RI-GAM disambut dingin saja oleh masyarakat Aceh Tenggara. Dari dulu kami merasa tak pernah ada masalah dengan GAM. Jadi, perjanjian damai itu tak ada pengaruhnya bagi kondisi di sini. Mungkin hanya berpengaruh di pantai timur, kata Amas Muda Tambunan (73), warga Lawe Perbunga, Kecamatan Babul Makmur.

Amas sendiri berasal dari Pangaribuan, Tapanuli Utara, dan telah tinggal di Lawe Perbunga sejak tahun 1946. Menurut Amas, MOU RI-GAM itu justru menimbulkan tanda tanya. Bingung kami kalau Aceh merdeka karena di sinilah huta (kampung) kami dan kuburan orangtua juga di sini. Apakah kami akan diusir kalau Aceh merdeka? katanya.

Amas adalah cermin masyarakat bawah di kawasan Aceh yang masih kebingungan dengan masa depan Aceh pasca-MOU. Kebingungan yang sama dilontarkan Jannus Tambunan.

Selaku kepala desa, Jannus sudah mendapat naskah MOU RI-GAM. Ia juga sudah mendapat penjelasan dari Aceh Monitoring Mission Rabu lalu. Namun, kami tetap bingung kalau misalnya Aceh merdeka nanti. Bagaimana nasib kami. Di mana posisi kami dalam MOU itu. Kami kan juga orang Aceh, katanya.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: