Pilar

November 15, 2006

PERJUMPAAN KRISTEN DAN ISLAM DI INDONESIA

Filed under: Wacana — noviz @ 6:43 am

Catatan pengantar editor
Artikel di bawah ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh gurubesar sejarah dan rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., untuk buku Pdt. Dr. Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004). Dengan izin lisan dari penulis buku ini, artikel ini, setelah disunting ditampilkan dalam rubrik Artikel dari situs web STT Jakarta ini.

“Is religion the problem? No and yes. The answer turns in part on how one understands the nature of religion. At the heart of the religious orientation and quest, human being finds meaning and hope. In their origins and their core teachings, religions may be noble, but how they develop almost invariably falls short of the ideal. Adherents too often make their religious leaders, doctrines, and the need to defend institutional structures as the vehicle and justification for unacceptable behavior. Whatever one’s personal views about the nature and value of religion, it is a powerful and present reality. Thoughtful people of faith must try to learn more about the perils and promises contained within the global human phenomenon we call religion” (Kimball, 2003:32-3).

Azyumardi Azra

Perjumpaan dan Pergumulan

Membaca naskah Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia karya Pdt. Dr. Jan S. Aritonang, saya dibawa ke dalam pembahasan historis yang komprehensif dan mendalam tentang “perjumpaan” (encounter) di antara kedua Abrahamic religions (agama-agama Ibrahim), di wilayah Indonesia yang jauh dari tempat kelahiran pertama mereka di kawasan yang kini dikenal sebagai Timur Tengah. Perjumpaan yang terlukis dalam buku ini yang sering menampilkan “pergumulan” (struggle) memang lebih banyak terkait dengan politik dan kekuasaan. Karena corak penyajian yang semacam ini, maka sulit dihindari bahwa potret dan citra yang muncul di dalamnya tentang hubungan Kristen dan Islam di Indonesia sejak masa awal kedatangan keduanya sampai masa-masa terakhir ini penuh dengan pergumulan, persaingan, konflik dan bahkan kekerasan komunal.

Sejarah perjumpaan agama-agama yang menggunakan kerangka politik secara tipikal hampir keseluruhannya dipenuhi pergumulan, konflik dan pertarungan. Karena itulah dalam perkembangan ilmu sejarah dalam beberapa dasawarsa terakhir, sejarah yang berpusat pada politik yang kemudian disebut sebagai “sejarah konvensional” dikembangkan dengan mencakup bidang-bidang kehidupan sosial-budaya lainnya, sehingga memunculkan apa yang disebut sebagai “sejarah baru” (new history). Sejarah model mutakhir ini lazim disebut sebagai “sejarah sosial” (social history) sebagai bandingan dari “sejarah politik” (political history). Penerapan sejarah sosial dalam perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia akan sangat relevan, karena ia akan dapat mengungkapkan sisi-sisi lain hubungan para penganut kedua agama ini di luar bidang politik, yang sangat boleh jadi berlangsung dalam saling pengertian dan kedamaian, yang pada gilirannya mewujudkan kehidupan bersama secara damai (peaceful co-existence) di antara para pemeluk agama yang berbeda.
Ketika Agama Menjadi Jahat

Hampir bisa dipastikan, perjumpaan Kristen dan Islam (dan juga agama-agama lain) akan terus meningkat di masa-masa datang. Sejalan dengan peningkatan globalisasi, revolusi teknologi komunikasi dan transportasi, kita akan menyaksikan gelombang perjumpaan agama-agama dalam skala intensitas yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Dengan begitu, hampir tidak ada lagi suatu komunitas umat beragama yang bisa hidup eksklusif, terpisah dari lingkungan komunitas umat-umat beragama lainnya. Satu contoh kasus dapat diambil: seperti dengan meyakinkan dibuktikan Eck (2002), Amerika Serikat, yang mungkin oleh sebagian orang dipandang sebagai sebuah “negara Kristen,” telah berubah menjadi negara yang secara keagamaan paling beragam. Saya kira, Indonesia, dalam batas tertentu, juga mengalami kecenderungan yang sama.

Dalam pandangan saya, sebagian besar perjumpaan di antara agama-agama itu, khususnya Kristen dan Islam, bersifat damai. Dalam waktu-waktu tertentu―ketika terjadi perubahan-perubahan politik dan sosial yang cepat, yang memunculkan krisis― pertikaian dan konflik sangat boleh jadi meningkat intensitasnya. Tetapi hal ini seyogyanya tidak mengaburkan perspektif kita, bahwa kedamaian lebih sering menjadi feature utama. Kedamaian dalam perjumpaan itu, hemat saya, banyak bersumber dari pertukaran (exchanges) dalam lapangan sosio-kultural atau bidang-bidang yang secara longgar dapat disebut sebagai “non-agama.” Bahkan terjadi juga pertukaran yang semakin intensif menyangkut gagasan-gagasan keagamaan melalui dialog-dialog antaragama dan kemanusiaan baik pada tingkat domestik di Indonesia maupun pada tingkat internasional; ini jelas memperkuat perjumpaan secara damai tersebut. Melalui berbagai pertukaran semacam ini terjadi penguatan saling pengertian dan, pada gilirannya, kehidupan berdampingan secara damai (cf Ansari & Esposito, eds: 2001).

Tetapi, pada saat yang sama, harus diakui juga bahwa dalam dua dasawarsa terakhir terdapat kecenderungan meningkatnya perjumpaan secara keras (hard encounter) di antara agama-agama. Perjumpaan yang keras di antara agama-agama jelas bukan hanya unik di antara Kristen dan Islam, tetapi juga di kalangan agama-agama lain non-Abrahamik. Penting ditegaskan, perjumpaan yang keras itu, khususnya antara Kristen dan Islam, baik di Eropa, di Timur Tengah maupun di Indonesia, jelas bukan hal baru sama sekali; perjumpaan keras sudah berlangsung selama berabad-abad.

Perjumpaan keras pada masa kontemporer di antara agama-agama, hemat saya, sudah bermula sejak 1980-an. Sejak masa inilah apa yang disebut sebagai kelompok “Fundamentalis Kristen” menemukan momentumnya. Gerakan ini bukan hanya agresif dalam hubungan intra-Kristen (Protestan) sendiri, tetapi juga keluar dalam hubungan dengan agama-agama lain. Dengan pemahaman biblikal yang literal dan apokaliptik yang diekspresikan dalam tema-tema seperti “religious values”, “pro-life”, prinsip anti-Darwinisme biologis dan Darwinisme sosial, kelompok-kelompok fundamentalis Kristen telah membom klinik aborsi dan bar kaum homo/lesbian, membakar buku-buku yang tak sesuai dengan paham keagamaan mereka, serta melakukan berbagai tindakan kekerasan lainnya. Kasus paling fenomenal agaknya adalah aksi Timothy McVeigh yang atas nama suatu agama Kristen telah meletakkan bom yang menghancurkan Federal Building di Oklahoma City dan menewaskan 168 orang pada 1995 (Juergensmeyer 2001; Selengut 2003).

Di kalangan Muslimin, peningkatan gejala perjumpaan yang keras itu mulai menemukan momentumnya dengan revolusi Islam Iran di bawah Ayatullah Khomeini pada 1979, kemudian dengan gelombang “intifadhah” di kalangan bangsa Palestina sejak 1980-an yang berlanjut sampai kini dalam perjuangan melawan Israel, lalu dengan bangkitnya Talibanisme di bawah Usamah bin Laden yang diikuti Peristiwa 11 September 2001 di Amerika Serikat. Peristiwa terakhir ini, telah dijadikan banyak kalangan sebagai salah satu titik puncak dari gejala perjumpaan keras atas nama suatu agama, dalam hal ini Islam (Esposito 2002; Stern 2003). Di Indonesia, seperti diungkapkan di bagian-bagian akhir karya Aritonang, perjumpaan secara keras itu juga seolah-olah menemukan momentumnya dengan kemunculan kelompok-kelompok seperti Lasykar Jihad, Front Pembela Islam, dan lain-lain. Penyebab perjumpaan keras itu jelas sangat kompleks. Tetapi salah satu penyebab pokoknya berkaitan dengan kehidupan politik dan kekuasaan.

Dengan kembalinya agama ke “kota sekuler”―meminjam kerangka pemikiran teolog Harvey Cox (1985; 1965)―perjumpaan antar-agama maupun antara agama dengan fenomena sosial keagamaan secara global cenderung semakin keras. Modernisme dan sekularisme yang berlangsung secara intens dalam banyak kalangan masyarakat dunia ternyata, setidaknya bagi sebagian orang, telah gagal mewujudkan janji-janjinya, sehingga “secular city” yang pernah dibayangkan nyatanya tidak pernah terwujud sempurna. Berbarengan dengan itu, gelombang globalisasi yang terus meningkat―dengan segala eksesnya seperti konsumerisme, hedonisme, promiskuitas dan sebagainya―mendorong banyak pengikut agama semakin agresif dalam pencarian otentisitas, baik dalam agama yang mereka peluk maupun dalam penghadapan dengan agama-agama lain. Pencarian otentisitas keagamaan secara sangat bersemangat pada gilirannya cenderung berujung pada meningkatnya perjumpaan secara keras di antara agama-agama.

Penjelasan-penjelasan tentang peningkatan perjumpaan agama-agama secara keras akibat faktor-faktor di atas, sedikit banyak membantu kita memahami gejala radikalisme atas nama agama. Tetapi, penjelasan seperti itu dipandang banyak ahli seperti Juergensmeyer, Stern, dan Kimball sebagai penjelasan yang tidak memadai lagi. Mereka menyarankan, baik secara implisit maupun eksplisit, bahwa masalahnya sebagiannya juga terletak pada doktrin-doktrin tertentu agama itu sendiri. Namun, pandangan seperti ini dibantah kalangan pemimpin agama, dengan menyatakan bahwa bukanlah agama yang menjadi masalah, tetapi para penganutnyalah yang menciptakan masalah karena pemahaman mereka yang tidak benar terhadap agama, sehingga agama muncul dengan wajah bengis dan bahkan dengan wajah “evil”, seperti dikemukakan Kimball: “when religions become evil”, ketika agama-agama menjadi jahat.

Menanggapi respons defensif dan apologetik kalangan pemimpin agama ini, Kimball mengemukakan sebuah analogi tentang para penentang kontrol pistol/senapan (gun control) di kalangan masyarakat; orang-orang ini menyatakan: “Pistol tidak membunuh orang, tetapi oranglah yang membunuh orang”. Tetapi para pendukung gun control membalas dengan menyatakan: “Masalahnya tidak sesederhana itu. Jika pistol-pistol tersedia dengan mudah di mana-mana, maka semakin menguatlah dorongan untuk melakukan kejahatan dengan menggunakan pistol dan, akhirnya, pembunuhan menjadi mungkin untuk lebih sering terjadi”.

Seperti ditegaskan Kimball (2003:12), argumen bahwa adalah orang atau penganut agama― bukan agama itu sendiri―sebagai masalah mengandung kekuatan dan kebenarannya sendiri, karena pada akhirnya memang sikap dan tindakan manusialah yang menjadi persoalan dan menimbulkan masalah. Tetapi penting juga diingat, agama bukanlah entitas abstrak, yang secara bebas mengambang (free-floating) begitu saja. Agama hidup sebagai suatu tradisi yang dipeluk dan menjadi hidup di tangan masyarakat manusia. Agama yang kemudian menjadi tradisi memengaruhi perjalanan manusia; sebaliknya manusia juga memengaruhi agama. Karena itulah ajaran-ajaran dan struktur-struktur agama tertentu dapat digunakan siapa saja untuk kepentingannya sendiri, hampir sama dengan pistol atau senjata apa saja yang dapat digunakan untuk menghabisi riwayat orang lain.

Karena itu, seperti dikutip pada epigraf tulisan pengantar ini, Kimball mengajukan pertanyaan; Apakah agama merupakan masalah? Jawabannya bisa tidak dan bisa ya. Jawaban seperti ini bergantung pada bagaimana seseorang memahami watak dan ajaran agama, kemudian mewujudkannya dalam kehidupannya sehari-hari. Pada jantung orientasi dan pencarian rohani, manusia menemukan makna dan harapan dalam agama. Dalam asal-muasal dan ajaran-ajaran pokok mereka, agama boleh jadi mulia, tetapi bagaimana mereka berkembang sepanjang sejarah sering sekali jauh dari idealitas agama itu sendiri.

Para penganut agama terlalu sering menjadikan pemimpin-pemimpin agama mereka, ajaran-ajaran agama dan kebutuhan untuk membela struktur-struktur institusional agama sebagai alat dan justifikasi bagi tingkah laku mereka yang tak bisa diterima. Karena itu, orang yang berpikiran mendalam harus mencoba belajar lebih banyak lagi tentang kemungkinan bahaya-bahaya dan janji-janji yang terkandung dalam fenomena kemanusiaan global yang kita sebut agama.

Menurut Kimball, agama―ketika terwujud menjadi tradisi dan institusi manusia―dapat mengalami kerusakan dan, pada gilirannya, menjadi “jahat”. Dalam pandangan dia terdapat lima tanda bahaya kecenderungan agama menjadi jahat. Dari kelima tanda itu, yang sebagiannya tumpang tindih dengan kesimpulan-kesimpulan Aritonang dalam buku ini, tiga tanda yang paling relevan perlu dikemukakan. Pertama, klaim-klaim kebenaran mutlak (absolute truth claims). Setiap agama, khususnya Kristen dan Islam, mengandung klaim-klaim kebenaran yang merupakan landasan keimanan, di atas mana seluruh struktur dan institusi agama berdiri. Ketika penafsiran-penafsiran tertentu terhadap klaim-klaim kebenaran itu dipandang dan dipahami secara rigid dan literal, dan sebagai satu-satunya kebenaran yang menuntut keseragaman, maka inilah awal dari bahaya yang merusak agama, membuat agama menjadi jahat, dan akhirnya merusak kehidupan manusia.

Kedua, klaim kebenaran mutlak bukan hanya mengakibatkan terjadinya “abuse” terhadap kitab suci, tetapi juga mendorong munculnya misionarisme yang sangat bersemangat dengan menggunakan segala macam cara demi “menyelamatkan orang-orang berdosa”, baik di lingkungan pemeluk agama sendiri maupun dalam hubungan dengan pemeluk agama lain. Inilah pertanda kedua yang disebut Kimball sebagai “end justifies any means.”

Ketiga, pada tahap selanjutnya, perjumpaan lebih keras bisa terjadi, ketika semua ini diikuti dengan “declaration of holy war” (Kimball 2003:155ff) untuk mencapai agenda-agenda dan tujuan yang bertentangan dengan kesucian agama.
Dalam kajian saya sendiri (Azra 2001), perjumpaan keras Kristen-Islam di Indonesia bersumber setidak-tidaknya dari lima faktor. Pertama, penerbitan tulisan-tulisan yang diterbitkan kalangan suatu agama tertentu tentang suatu agama lain yang dipandang para pemeluk agama lainnya ini tidak sesuai dengan apa yang mereka imani dan, karena itu, dianggap mencemarkan agama mereka (blasphemous). Dalam hal ini juga tercakup tulisan-tulisan (biasanya, tidak jelas sumbernya) yang berisi “rencana” penyebaran agama; kedua, usaha penyebaran agama secara agresif; ketiga, penggunaan rumah sebagai tempat ritual secara bersama-sama atau pembangunan rumah ibadah di lingkungan masyarakat penganut agama tertentu; keempat, penetapan dan penerapan ketentuan pemerintah yang dipandang diskriminatif dan membatasi penyebaran agama; dan kelima, kecurigaan timbal-balik berkenaan dengan posisi dan peranan agama dalam negara-bangsa Indonesia.

Langkah ke Depan

Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia yang kadang-kadang keras seperti disarankan di atas, muncul karena banyak faktor yang rumit. Perjumpaan ini akan semakin meningkat intensitasnya di masa-masa mendatang. Karena itu, pemahaman atas faktor-faktor penyebab pertemuan keras itu semakin relevan dan mendesak, supaya dapat dilakukan antisipasi sebelum segalanya menjadi terlambat. Karya Aritonang ini jelas memperkaya pengetahuan kita tentang berbagai faktor yang mengakibatkan terjadinya perjumpaan keras Kristen-Islam di Indonesia. Sebagaimana kajian-kajian historis umumnya, karya Aritonang ini oleh umat-umat beragama seharusnya dipandang bukan hanya sebagai academic exercises, tetapi juga sebagai “pelajaran”, sehingga peristiwa-peristiwa pahit yang pernah terjadi di masa silam tidak terulang kembali di masa kini dan mendatang.

Yang tidak kurang pentingnya, berbagai kesimpulan dan saran yang dikemukakan Aritonang dalam karya ini dapat menjadi semacam “guidance” bagi perjumpaan yang lebih damai, toleran dan penuh persahabatan antara para penganut Kristen dan Islam dan, tidak kecuali, agama-agama lain di Indonesia. Dan, jika semua itu dapat diaktualisasikan, maka umat beragama tidak hanya telah memberikan suatu kontribusi penting dalam perwujudan kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara yang lebih baik, tetapi sekaligus melindungi agama itu sendiri dari pencemaran yang dapat menimbulkan citra yang tidak benar dan keliru terhadap agama.

Bibliografi

Ansari, Zafar Ishaq & John L. Esposito, eds., 2001, Muslims and the West: Encounter and Dialogue, Islamabad & Washington DC., Islamic Research Institute, International Islamic University & Center for Muslim-Christian Understanding, Georgetown University.

Armstrong, Karen, 2001, The Battle for God, New York: Ballantine Books.

Armstrong, Karen, 2001, Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World, New York: Anchor Books.

Azra, Azyumardi, 2001, “Islam and Christianity in Indonesia: The Roots of Conflict and Hostility”, dalam Joseph A. Camillery (ed.), Religion and Culture in Asia Pacific: Violence or Healing?, Carlton South, Victoria, Australia: Pax Christi & Vista Publications.

Azra, Azyumardi, 1999, Konteks Berteologi di Indonesia: Pengalaman Islam, Jakarta:Paramadina.

Cox, Harvey, 1984, New York: Simon Schuster. Religion in the Secular City: Toward a Post Modern Theology.

Cox, Harvey, 1965, The Secular City: Urbanization and Secularization in a Theological Perspective, New York: Macmillan.

Eck, Diana L., 2002, A New Religious America: How a “Christian Country Has Become the World’s Most Religiously Diverse Nation, New York: HarperCollins.

Esposito, John L., 2002, Unholy War: Terror in the Name of Islam, Oxford & New York: Oxford University Press.

Juergensmeyer, Mark, 2001, Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence, Updated Ed., Berkeley: University of California Press.

Kimball, Charles, 2003, When Religion Becomes Evil, New York: HarperCollins Publishers.

Selengut, Charles, 2003, Sacred Fury: Understanding Religious Violence, Walnut Creek, CA: Altamira Press.

Smith, Huston, 2001, Why Religion Matters: The Fate of the Human Spirit in an Age of Disbelief, New York: HarperCollins.

Stern, Jessica, 2003, Terror in the Name of God: Why Religious Militants Kill, New York: HarperCollins.

Sumber :http://www.sttjakarta.ac.id/

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: