Pilar

November 15, 2006

KAJIAN YESUS SEJARAH DAN SUMBANGANNYA BAGI KEHIDUPAN KRISTEN MASA KINI

Filed under: Wacana — noviz @ 6:41 am

Oleh: Ioanes Rakhmat

1. Pendahuluan

Kajian-kajian tentang “Yesus sejarah” memusatkan penelitian-penelitiannya jelas pada Yesus sebagai seorang manusia Yahudi yang giat mengajar dan berkarya di antara rakyat Yahudi di Palestina pada akhir tahun 20-an dan awal tahun 30-an di abad pertama. Pemusatan perhatian pada Yesus yang manusia jelas berbeda dari pemusatan yang diarahkan pada “keilahiannya” seperti yang menjadi isi dari kredo-kredo atau pengakuan-pengakuan iman yang dirumuskan pada abad-abad keempat dan kelima. Karena “sang Firman itu telah menjadi manusia/daging dan diam di antara kita” (Yohanes 1:14), dan karena kriterion iman yang benar itu ditumpukan pada suatu pengakuan mutlak bahwa “Sang Firman” yang adikodrati itu telah tampil dalam tubuh yang dapat “dilihat dan disaksikan dengan mata” dan dapat “didengar” dan dapat “diraba dengan tangan” (1 Yohanes 1:1-4) dan penolakan atas pengakuan ini menjadikan seseorang itu “anti-Kristus” dan “penyesat” (1 Yohanes 4:2-3; 2 Yohanes 7), maka penelitian atas Yesus sejarah itu memiliki dasar teologis skriptural yang kokoh. Suatu komunitas Kristen yang bukan anti-Kristus dan bukan penyesat adalah suatu komunitas yang memberi tempat penting pada sosok Yesus sebagai seorang manusia dalam kehidupan beriman komunitas ini. Penekanan pada kesejarahan Yesus juga mendapat dasar skriptural yang kokoh pada bentuk Injil-injil Kristen intrakanonik (Markus, Matius, Lukas dan Yohanes) sebagai narasi-narasi teologis biografis historis tentang Yesus yang hidup dalam dunia ini, tentang ajaran-ajaran dan karya-karyanya dalam dunia nyata ini semasa ia hidup. Narasi-narasi biografis historis tentang Yesus yang menjadi bagian dari kanon Kitab Suci Kristen ini telah diabaikan begitu saja oleh kredo-kredo Kristen yang disusun pada masa patristik itu.

Dalam Injil-injil intrakanonik itu (yang ditulis dalam rentang waktu tahun 70 sampai akhir abad pertama) terkandung teologi masing-masing penulis Kitab Injil atau teologi yang berasal dari tradisi-tradisi pra-Injil (pra-Markus), dan elemen-elemen sejarah yang dapat diasalkan pada (attributable to) Yesus dari Nazareth. Penelitian Yesus sejarah, dengan demikian, berusaha untuk memanfaatkan seefektif mungkin dan seilmiah mungkin bahan-bahan sejarah yang tersedia tentang Yesus untuk menghasilkan gambaran-gambaran atau potret-potret alternatif tentang Yesus, selain yang telah diberikan oleh para penulis Kitab Injil atau penulis-penulis lainnya dalam Perjanjian Baru. Dengan demikian, frasa “Yesus sejarah” adalah suatu istilah teknis yang mengacu pada Yesus dari Nazareth yang berhasil direkonstruksi dari bahan-bahan sumber yang tersedia, dengan memakai metode penelitian ilmiah yang dapat diandalkan.

Dalam metode untuk merekonstruksi Yesus sejarah ini, tercakup unsur-unsur berikut: penentuan awal bahan-bahan tulisan apa saja yang dapat digunakan; kriteria (atau tolok-tolok ukur) untuk menentukan keaslian atau otentisitas bahan-bahan tulisan tentang Yesus (the Jesus material); pemakaian disiplin-disiplin ilmu yang saling mengisi (antara lain: kritik teks, sejarah, antropologi dan arkeologi) untuk menghasilkan suatu potret tentang Yesus yang tajam fokusnya; penentuan epistemologi yang digunakan, yakni, penegasan apakah suatu gambaran sejarah itu bisa betul-betul obyektif seratus persen (epistemologi positivis atau obyektivis atau historisis), atau malah subyektif seratus persen (epistemologi subyektivis atau fenomenalis atau narcissis atau solipsisme historis), atau merupakan hasil interaksi berimbang antara obyektivitas faktual dan subyektivitas si perekonstruksi fakta sejarah (epistemologi interaktivis); pengidentifikasian teologi si sejarawan peneliti Yesus sejarah yang pasti berperan dalam ia merekonstruksi siapa Yesus dari Nazareth itu sebenarnya. Unsur-unsur metodologis ini akan diuraikan; lalu setelahnya usaha-usaha menemukan relevansi kajian Yesus sejarah bagi kehidupan Kristen di masa kini akan juga diketengahkan.

2. Sumber-sumber Sastra

2.1. Sumber-sumber Kristen

Sumber utama bagi pengkajian Yesus sejarah adalah ketiga Injil Sinoptik (Markus, Matius, Lukas) dalam Perjanjian Baru. Dari pembandingan antar ketiga Injil Sinoptik ini, dapat diketahui adanya tiga sumber lain: yakni Injil “Q”(note 1); sumber “M” (sumber yang khusus dipakai Matius); dan sumber “L” (sumber yang khusus dipakai Lukas). Di luar Injil-injil intrakanonik, tulisan-tulisan rasul Paulus juga dipakai sebagai sumber. Karena sorotan utama teologi Paulus adalah kematian dan kebangkitan Yesus, maka dari dalam tulisan-tulisannya ditemukan tidak banyak bahan yang dapat dikaitkan dengan ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan Yesus.(note 2) Ada sejumlah tradisi parenetis/wejangan di dalam surat Yakobus (misalnya 5:12; bdk. Matius 5:34-37) dan surat 1 Petrus yang kurang lebih paralel dengan ucapan-ucapan Yesus.(note 3) Ada sedikit rujukan kepada Yesus di dalam surat Ibrani (7:14; juga 5:7-8; bdk. Markus 14:32-34 par.; juga Yohanes 12:27-36a). Di dalam Wahyu Yohanes ditemukan gambaran-gambaran apokaliptik yang sudah muncul di dalam ucapan-ucapan eskatologis apokaliptis Yesus di dalam Injil-injil (lihat Wahyu 3:3; 16:15; dan Q 12:39 [Matius 24:43]).(note 4)

Sejenis dengan Injil “Q” adalah Injil Thomas (disusun paling telat tahun 140 M) yang berisi 114 ucapan yang diasalkan pada Yesus, yang susunannya dibuat berdasarkan asosiasi kata. Injil ini adalah salah satu dari sejumlah besar tulisan (52 traktat) gnostik Koptik yang ditemukan tahun 1945 di Nag Hammadi.(note 5) Separuh dari 114 ucapan ini, meskipun di antaranya ada yang bercorak gnostik, paralel dengan ucapan-ucapan Yesus yang ditemukan dalam Injil-injil Sinoptik. Meskipun paralel, ucapan-ucapan di dalam Injil Thomas ini tidak memperlihatkan ketergantungan pada Injil-injil intrakanonik, bahkan beberapa di antaranya tampak lebih tua. Ada juga sedikit ucapan Yesus lainnya di dalam Injil ini (seperti logia 97, 98, 113) yang tidak terdapat di dalam Injil-injil intrakanonik, tetapi dipandang sebagai ucapan-ucapan otentik Yesus.

Injil Thomas jelas menjadi salah satu sumber sangat penting bagi studi Yesus sejarah.(note 6) Bahkan sekelompok pakar internasional peneliti Yesus sejarah di Amerika Utara yang dikenal sebagai the Jesus seminar (didirikan 1985 oleh Robert W. Funk, dengan mula-mula didukung tiga puluh pakar; kini sudah mencapai dua ratus orang) telah menyatukan Injil Thomas dengan keempat Injil intrakanonik lainnya (Markus, Matius, Lukas, Yohanes) sehingga menjadi lima Injil, dan menerbitkan kelimanya sekaligus dalam satu buku dalam terjemahan baru dalam bahasa Inggris yang disebut terjemahan Scholars Version. Terbitan inovatif ini diberi judul The Five Gospels: The Search for the Authentic Words of Jesus.(note 7) Orang tidak perlu tersentak kaget dengan penempatan Injil Thomas ini sederajat dengan Injil-injil kanonik, sebab bagi suatu kajian sejarah tentang Yesus, semua sumber yang tersedia, baik yang ada di dalam kanon Kitab Suci (= sastra-sastra intrakanonik) mau pun yang ada di luar kanon Kitab Suci (= sastra-sastra ekstrakanonik), dipandang memiliki nilai historis yang sama dan berkedudukan setara dan diperlakukan sederajat.

Sastra-sastra ekstrakanonik lainnya dari kepustakaan gnostik Koptik yang juga dapat digunakan sebagai sumber pengkajian Yesus adalah kitab Yakobus Apokrif (note 8) (awal abad kedua), kitab Dialog Sang Penyelamat (note 9) (abad kedua), dan Injil Orang-orang Mesir (paruhan pertama abad dua).(note 10) Ketiga tulisan gnostik Koptik ini tidak menunjukkan ketergantungan pada Injil-injil Sinoptik.

Injil kanonik yang dapat dikaitkan dengan pandangan (anti-)gnostik adalah Injil Yohanes. Injil ini umumnya tidak dipandang sebagai sumber utama bagi pengkajian Yesus sejarah; bahkan ada yang menyingkirkannya sama sekali, seperti yang dilakukan the Jesus seminar. Tetapi, seperti dicatat Gerd Theissen dan Annette Merz,(note 11) ada sejumlah data di dalam Injil ini yang berbeda dari yang disajikan Injil-injil Sinoptik, tetapi dapat merupakan tradisi-tradisi yang tua, yakni: tradisi tentang murid-murid pertama Yesus yang berasal dari murid-murid Yohanes Pembaptis (Yohanes 1:35-42); tradisi tentang Petrus, Andreas dan Filipus yang berasal dari Betsaida (1:44); catatan-catatan tentang pengharapan-pengharapan politis yang dibangkitkan Yesus di antara orang banyak dan motif-motif politis yang menyeretnya kepada kematian diungkapkan dengan lebih jelas di dalam Injil Yohanes ketimbang di dalam Injil-injil Sinoptik (bdk. Yohanes 6:15; 11:47-53; 19:12); sebagai ganti suatu pengadilan Yahudi terhadap Yesus, di dalam Yohanes 18:19-24 dilaporkan berlangsungnya suatu pemeriksaan yang dilakukan Sanhedrin terhadap Yesus yang mendahului pengadilan Romawi oleh Pilatus; menurut kronologi dalam Injil Yohanes, Yesus mati sebelum perayaan Paskah (18:28; 19:31), dan ini dipandang kebanyakan pakar sebagai lebih mungkin ketimbang penyaliban pada hari perayaan itu sendiri.

Terdapat juga fragmen-fragmen tulisan yang berbentuk Injil, yang memuat suatu kombinasi tradisi-tradisi Yohanes dan Sinoptik, yang dapat digunakan dalam pengkajian Yesus sejarah, yakni: Papyrus Egerton 2 (ditulis sekitar tahun 200) yang memuat suatu debat antara Yesus dan para ahli Taurat dan para pemuka Yahudi yang menuduh Yesus telah melanggar Taurat, dan debat ini berakhir dengan suatu usaha yang gagal untuk melempari Yesus dengan batu; Injil Markus Rahasia; Injil Petrus (disusun paruhan pertama abad kedua); Papirus Oxyrhynchus 840 (dari abad pertama).(note 12)

Ada tiga Injil Kristen Yahudi yang juga dapat dimanfaatkan bagi usaha-usaha menelusuri Yesus sejarah (note 13) Injil Orang-orang Nazareth yang isinya kurang lebih sama dengan Injil Matius, tetapi ditulis dalam bahasa Aram atau bahasa Syria, pada awal abad kedua (antara 80-180); Injil Orang-orang Ebion (abad kedua) yang merupakan suatu revisi atas Injil Matius, tetapi juga memakai dan menyunting bahan-bahan dari Injil Markus dan Injil Lukas, tetapi membuang kisah kelahiran Yesus sehingga pengisahan kehidupan Yesus dimulai dari tampilnya Yohanes Pembaptis dan pembaptisan Yesus yang melaluinya Yesus diangkat menjadi anak Allah; Injil Orang-orang Ibrani (disusun dalam paruhan pertama abad kedua) yang isinya dekat dengan pandangan gnostik, antara lain menggambarkan bahwa Yesus Kristus dan Ibunya sudah ada sebelum tampak di muka bumi dalam wujud manusia; pada waktu Yesus dibaptis, Yesus disebut sebagai anak, bukan oleh Allah, tetapi oleh Roh (Ruakh) yang ternyata adalah ibunya sendiri.(note 14)

Bahan-bahan Kristen lainnya yang berasal dari paruhan pertama abad kedua dan yang dapat dipakai untuk menelusuri tradisi-tradisi tentang ajaran-ajaran dan kehidupan Yesus ditemukan dalam tulisan-tulisan para “Bapak Apostolis.”(note 15) Papias, Bishop dari Hieropolis di Asia Kecil, misalnya, pada permulaan abad kedua (sekitar 100-150) menyatakan dirinya sedang mengumpulkan tradisi-tradisi lisan tentang Yesus, dengan cara menanyai orang-orang yang masih mengenal murid-murid perdana Yesus. Tradisi-tradisi yang sedang dikumpulkannya ini dikatakan “berasal dari suara yang hidup dan menetap” yang diturunalihkan dari “para penatua”, yang telah ia “pelajari” dan “ingat.” Hasil penyelidikannya ini disajikannya dalam lima jilid buku yang dinamakan “Tafsiran atas Ucapan-ucapan Tuhan” (logiōn kuriakōn eksēgēsis); tetapi semuanya ini kini telah hilang, dan yang ada pada kita adalah kutipan-kutipan dari buku-buku ini yang ditemukan di dalam tulisan-tulisan Irenaeus dan Eusebius (Historia ecclesiastica III. 39. 1-17).(note 16)

Di dalam 1 Klement 13:1b, 2 kita temukan tujuh ucapan Yesus yang dijadikan satu sebagai bahan pelajaran katekisasi, yang kelihatan dekat dengan sebagian isi Kotbah di Bukit, tetapi tidak memperlihatkan ketergantungan pada Injil Matius, Lukas atau pun Injil Q; bunyinya: “… khususnya kita ingat kata-kata Tuhan Yesus yang disampaikannya ketika ia mengajar tentang kelemah-lembutan dan penderitaan panjang. Sebab ia telah berkata demikian: “Hendaklah kamu rakhmani, supaya kamu beroleh rakhmat. Ampunilah, supaya kamu diampuni. Apa yang kamu lakukan kepada orang lain, itulah juga yang akan dilakukan kepadamu. Apabila kamu memberi, maka kamupun akan diberi. Sebagaimana kamu menghakimi, maka begitu juga kamu akan dihakimi. Jika kamu berbaik hati, maka kebaikan akan juga diperlihatkan kepadamu. Ukuran yang kamu pakai, itu juga yang akan dikenakan kepadamu.”(note 17)

Di dalam suratnya, Kepada Jemaat di Smyrna 3.2, Ignatius melaporkan perjumpaan Yesus yang sudah bangkit dengan murid-muridnya dalam suatu bentuk yang dekat dengan Lukas 24:36-43, tetapi tidak menunjukkan ketergantungan: “Dan ketika ia datang kepada mereka bersama Petrus, ia berkata kepada mereka: ‘Peganglah, sentuhlah aku dan lihatlah bahwa aku bukanlah hantu tanpa tubuh.’ Maka mereka segera menyentuhnya dan percaya, bahwa ia tampil utuh sebagai daging dan roh… Dan setelah kebangkitannya, ia makan dan minum bersama mereka sebagai suatu makhluk berjasad, meskipun ia dipersatukan dalam roh dengan sang Bapa.”

Dalam 2 Klement terdapat kutipan-kutipan gabungan dari Matius dan Lukas atau dari suatu sumber ucapan-ucapan independen; di antaranya ada yang berbunyi demikian, “Karena itulah, jika kamu mengerjakan hal-hal ini, Tuhan katakan, ‘Jika kamu berada dalam dekapan aku, tetapi kamu tidak melakukan perintah-perintahku, maka aku akan mencampakkan kamu, dan akan berkata kepadamu, ‘Enyahlah dariku, aku tidak tahu darimana asalmu, kamu pelaku kejahatan.’” (2 Klement 4:5; bdk. 2 Klement 5:2 dyb.; 8:5; 12:2).

Dalam tulisan-tulisan para “Bapak Apostolis”, ada sekian ucapan yang tidak diklaim berasal Yesus, tetapi dikutip dalam Injil-injil Sinoptis sebagai ucapan-ucapan Yesus: tentang perintah rangkap dua untuk mengasihi (Surat Barnabas 19:2,5; bdk. Markus 13:30 dyb); Hukum Emas (Didakhe 1:2b; bdk. Matius 7:12; Lukas 6:31; 1 Klement 13:2); tentang kuasa doa (Ignatius, Kepada Jemaat di Efesus 5:2; Gembala Hermas VI, 3, 6b; bdk. Matius 18:19 dyb; Markus 11:22-24 dan par.); tentang dosa melawan Roh Kudus (Didakhe 11:7; bdk. Markus 3:28-29); dan formula baptisan trinitarian (Didakhe 7:1; bdk. Matius 28:19).

2.2. Sumber-sumber Non-Kristen

Sumber non-Kristen pertama yang bermanfaat untuk pengkajian Yesus sejarah adalah rujukan-rujukan pendek dari seorang sejarawan Yahudi, Flavius Josephus (Joseph ben Matthias; hidup 37/38–setelah tahun 100), kepada Yesus, di dalam bukunya yang selesai ditulis tahun 93/94, Antiquitates Judaicae atau Jewish Antiquities (18.63-64; 20.200). Di dalam Antiquities 20.200, Josephus menyebut perajaman dengan batu atas diri Yakobus dan orang-orang lain yang telah melanggar Taurat setelah mereka melewati suatu pemeriksaan Sanhedrin di bawah pimpinan imam besar Ananus di tahun 62. Di situ, Josephus memperkenalkan Yakobus sebagai “saudara dari Yesus yang disebut Kristus”, dan dengan demikian mengidentifikasinya sebagai saudara seorang yang bernama Yesus yang mungkin lebih dikenal, atau karena nama Yesus sudah disebut sebelumnya.

Di dalam buku yang sama, memang sebelum penyebutan pada Yakobus ini, Josephus sudah memuat catatan-catatan pendek tentang Yesus, yakni dalam 18:63-64 yang dikenal sebagai Testimonium Flavianum (= kesaksian atau testimoni Flavius Josephus tentang Yesus). Isi testimoni ini selengkapnya berikut ini (dengan bagian-bagian yang ditempatkan dalam dua tanda kurung sebagai bagian-bagian yang ditambahkan belakangan pada teks semula):

“Kira-kira pada waktu ini, hiduplah Yesus, seorang yang bijaksana, (jika memang orang harus menyebutnya seorang manusia). Sebab dia adalah seorang yang telah melakukan tindakan-tindakan luar biasa, dan seorang guru bagi orang-orang yang telah dengan senang menerima kebenaran darinya. Ia telah memenangkan banyak orang Yahudi dan banyak orang Yunani. (Ia adalah sang Messias). Setelah mendengar dia dituduh oleh orang orang-orang terkemuka dari antara kita, maka Pilatus menjatuhkan hukuman penyaliban atas dirinya. Tetapi orang-orang yang mula-mula telah mengasihinya itu tidak melepaskan kasih mereka kepadanya. (Pada hari ketiga ia menampakkan diri kepada mereka dan membuktikan dirinya hidup. Nabi-nabi Allah telah menubuatkan hal ini dan hal-hal ajaib lainnya tentang dirinya yang tidak terhitung banyaknya). Dan bangsa Kristen ini, disebut demikian dengan mengikuti namanya, sampai pada hari ini tidak lenyap.”(note 18)

Sumber-sumber non-Kristen lainnya adalah tulisan-tulisan para rabbi/guru Yahudi. Berbeda dari Josephus yang memberi catatan-catatan simpatik tentang Yesus, sumber-sumber rabbinik (yang ditulis dalam periode Tannaitik, sampai dengan tahun 220) tentang Yesus berisi catatan-catatan penolakan sebagai reaksi Yahudi terhadap provokasi-provokasi yang dibuat orang-orang Kristen terhadap Yudaisme. Sejumlah pakar menilai ada tradisi-tradisi tua dan dapat dipercaya sebagai sumber sejarah tentang Yesus di dalam Talmud (note 19) Babilonia, di antaranya bSanhedrin 43a yang bunyinya demikian: (note 20) “Pada Sabat perayaan Paskah, Yeshu orang Nazareth digantung. Sebab selama empat puluh hari sebelum eksekusi dijalankan, muncul seorang pemberita yang mengatakan: ‘Inilah Yesus orang Nazareth, yang akan dirajam dengan batu sebab ia telah mempraktekkan sihir dan mejik [bdk. Markus 3:22] dan mempengaruhi orang Israel untuk murtad. Barangsiapa yang dapat mengatakan sesuatu untuk membelanya, hendaklah tampil dan membelanya.’ Tetapi karena tidak ada sesuatu pun yang tampil untuk membelanya, ia pun digantung sehari sebelum Paskah [sejalan dengan kronologi dalam Injil Yohanes]….. Rabbi-rabbi kami mengajarkan: Yeshu memiliki lima murid, Matthai, Nakai, Nezer, Buni dan Toda. Ketika Matthai dibawa [ke hadapan pengadilan], ia berkata kepada mereka [para hakim]: Akankah Matthai dihukum mati? Bukankah ada tertulis: [matthai] Kapankah aku akan datang dan tampil di hadirat Allah!? [Mazmur 42:3]. Maka mereka pun berkata, Ya, Matthai akan dieksekusi, sebab ada tertulis: Kapankah [matthai], kapankah dia akan dibunuh dan namanya dilenyapkan? [Mazmur 41:6] (permainan kata-kata yang serupa seterusnya muncul untuk empat murid Yesus lainnya).

Seorang filsuf stoik kebangsaan Syria, yang berasal dari Samosata, bernama Mara bar Sarapion, menulis surat kepada anaknya, Sarapion, dari tempatnya di sebuah penjara Roma, mungkin segera setelah tahun 73. Di dalamnya ia menegaskan bahwa satu-satunya yang paling berharga untuk dimiliki dan diperjuangkan adalah kebijaksanaan, dan bahwa kendati pun orang bijak itu dapat dianiaya, kebijaksanaan itu tetap kekal. Sebagai model orang-orang bijak, ia mengutip Sokrates dan Phytagoras, dan juga Yesus meskipun nama Yesus tidak disebutnya: “Perbuatan baik apa yang dilakukan orang-orang Athena ketika ia membunuh Sokrates, yang mengakibatkan mereka dihukum dengan bahaya kelaparan dan penyakit menular? Manfaat apa yang diperoleh orang-orang Samian ketika mereka membakar Phytagoras, karena kemudian negeri mereka seluruhnya dikubur pasir dalam sekejap saja? Atau apa keuntungannya ketika orang-orang Yahudi membunuh raja mereka yang arif, karena kerajaan mereka setelah itu direnggut dari mereka [mengacu ke Perang Yahudi I tahun 66-73/74]? Allah telah dengan adil membalas perbuatan-perbuatan jahat yang telah dilakukan kepada tiga orang bijaksana ini. Orang-orang Athena mati kelaparan; bangsa Samian dilanda banjir dari laut; orang-orang Yahudi dibunuh dan diusir dari kerajaan mereka, lalu tinggal di tempat-tempat lain dalam perserakan. Sokrates itu tidak mati; tetapi tetap hidup melalui Plato; begitu juga Phytagoras, karena patung Hera. Begitu juga raja yang bijak itu tidak mati, karena setelah dia tidak ada muncul hukum baru yang ia telah berikan.”

Ada catatan-catatan pendek sekilas tentang Yesus buah tangan tiga penulis Roma dari periode antara 110 sampai 120, yakni: senator Pliny yang Lebih Muda (61-c.120); Cornelius Tacitus (55/56-c.120), dan C. Suetonius Tranquillus (70-c.130).(note 21) Ketiganya menampilkan Yesus dan kekristenan dalam nada-nada yang sangat negatif, sebagai orang dan gerakan yang mempercayai tahyul dan berbahaya buat negara.

Pliny yang pada tahun 111 diangkat sebagai gubernur provinsi Bithynia dan Pontus di Asia Kecil, sedang menangani kasus orang-orang Kristen di sana yang diadukan orang kepadanya, dan, untuk meminta nasihat dari kaisar Trajanus (98-117) ia mengirim surat resmi (Pliny, Surat-surat, Buku X). Di dalam suratnya ini ia menyebut nama “Kristus” dua kali, dan menjuluki kekristenan sebagai suatu bentuk “tahyul yang sangat berlebihan.” Sebagai metodenya menangani orang-orang Kristen, dikatakannya dalam suratnya itu bahwa barangsiapa yang telah dengan keliru dituduh sebagai seorang Kristen, dapat menolak tuduhan ini dengan cara memberi hormat kepada patung-patung dewa-dewa dan gambar sang kaisar, dengan mempersembahkan kemenyan dan menuangkan anggur kepada patung-patung dan gambar ini sambil menghujat nama “Kristus” (Christo male dicere), sebab masyarakat telah tahu bahwa orang-orang Kristen sejati tidak dapat dipaksa untuk melakukan hal-hal ini. Pliny juga mencatat bahwa “ … adalah kebiasaan mereka [orang-orang Kristen itu] untuk pada hari yang sudah ditetapkan berkumpul bersama sebelum fajar dan di saat itu mereka mengulangi kata-kata pengakuan kepada Kristus sebagai suatu allah (Christo quasi deo dicere); dan mereka mengikat diri dengan sumpah, untuk tidak melakukan tindakan kejahatan apa pun, untuk tidak mencuri atau merampok atau berzina, untuk tidak melanggar kata-kata mereka sendiri, ….”

Dengan bantuan Pliny yang Lebih Muda, C. Suetonius Tranquillus diangkat menjadi seorang pejabat tinggi administratif dalam pemerintahan Trajanus dan Hadrianus; dan jabatan ini memungkinkannya untuk mengakses segala arsip yang tersedia untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukannya dalam menyusun karyanya tentang biografi duabelas kaisar, dari Yulius Kaisar sampai Domitianus, dalam delapan jilid (De vita Caesarum), yang ditulis antara 117-122. Dalam konteks peristiwa pengusiran orang-orang Yahudi dari kota Roma di bawah pemerintahan Klaudius (41-54), peristiwa mana disebut juga dalam Kisah Para Rasul 18:2, Suetonius menyebut Kristus: “Karena orang-orang Yahudi itu telah terus-menerus, di bawah pengaruh Krestus [Chresto], menimbulkan keresahan, maka ia [Klaudius] mengusir mereka dari kota Roma.” (Klaudius 25.4).

Cornelius Tacitus adalah seorang senator dan sejarawan Roma yang termasyur karena dua karya sejarahnya, Histories (c.105-110) dan Annals (c.116/117). Untuk membelokkan kecurigaan dan dakwaan terhadap dirinya sendiri atas terbakarnya kota Roma selama sembilan hari dalam tahun 64 (seperti dilaporkan Tacitus dalam Annals 15.38-44), Nero (54-68) menjadikan orang-orang Kristen di sana sebagai “kambing hitam.” Dalam konteks inilah Tacitus menyebut nama “Kristus” sebagai pendiri gerakan Kristen yang dihukum mati: “Karena itu, untuk menepis kabar angin itu, Nero menciptakan kambing-kambing hitam dan menganiaya orang-orang yang disebut “orang-orang Kristen” [Chrestianos], yaitu sekelompok orang yang dibenci karena tindakan-tindakan kriminal mereka yang memuakkan. Kristus, dari mana nama itu berasal, telah dihukum mati (supplicio adfectus) dalam masa pemerintahan Tiberius [14-37] di tangan salah seorang prokurator kita, Pontius Pilatus [26-36], dan tahyul yang paling merusak itu karenanya untuk sementara dapat dikendalikan, tetapi kembali pecah bukan saja di Yudea, sumber pertama dari kejahatan ini, tetapi juga di Roma, di mana segala sesuatu yang buruk, menjengkelkan dan yang menimbukkan kebencian dari segala tempat di dunia ini bertemu dan menjadi populer.” (Annals 15.44).

Selain tiga nama di atas, seorang satiris yang bernama Lucian dari Samosata (c.115-c.200) perlu juga disebut; orang ini dalam tulisannya The Passing of Peregrinus mengisahkan tentang orang-orang Kristen yang sangat terpikat pada Peregrinus sehingga mereka menyembahnya sebagai suatu allah; selanjutnya ia menulis: “… sesungguhnya, selain dia, juga orang yang disalibkan di Palestina karena memperkenalkan kultus baru ini ke dalam dunia, kini masih mereka sembah.” Lucian juga menggambarkan orang-orang Kristen sebagai orang-orang “yang menyembah sofis yang disalibkan itu sendiri dan hidup di bawah hukum-hukumnya.”(note 22)

3. Kriteria Otentisitas (note 23)

Kriteria otentisitas adalah kriteria untuk menentukan otentisitas atau keaslian bahan-bahan tulisan tentang Yesus, baik bahan-bahan tentang ucapan-ucapannya, maupun bahan-bahan yang menyaksikan tindakan-tindakan Yesus dan hal-hal yang dialami dalam hidupnya. Penting dicatat bahwa setiap kriterion otentisitas memiliki kekuatan sekaligus keterbatasan masing-masing. Karena itu, seluruh kriteria ini harus dipakai bersama-sama, saling mengisi dan melengkapi, untuk menghasilkan simpul-simpul konvergensi.

3.1 Kriterion “bahan bukti terdapat di berbagai sumber independen” (the criterion of multiple independent attestation). Jika suatu ucapan Yesus atau catatan/ berita tentang tindakan/perbuatannya muncul di lebih dari satu sumber yang tidak menunjukkan kergantungan yang satu terhadap yang lainnya (= sumber-sumber independen) (misalnya, ditemukan serentak pada Paulus, Markus, Injil “Q”, sumber khusus Matius, sumber khusus Lukas, dan Yohanes), maka ucapan atau catatan/berita itu dipandang otentik, bukan ciptaan gereja perdana sesudah Yesus. John Dominic Crossan telah membuat sebuah daftar (inventori) tradisi-tradisi tentang Yesus (tentang ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan serta peristiwa-peristiwa dalam hidupnya) yang disusun baik berdasarkan “usia teks” (by chronological stratification), dari yang paling tua (tahun 30-60 M) sampai yang termuda (tahun 120-150 M), maupun berdasarkan frekuensi kemunculannya di dalam sumber-sumber independen yang ada, dari yang muncul di lebih dari tiga sumber (multiple independent attestation), muncul di tiga sumber (triple independent attestation), di dua sumber (double attestation), sampai yang hanya terdapat di satu sumber (single attestation).(note 24)

3.2 Kriterion “bahan bukti muncul di dalam berbagai bentuk atau jenis sastra” (the criterion of multiple literary forms/genres). Terdapatnya bahan-bahan tentang Yesus (tentang ucapan-ucapan atau tindakan-tindakannya) di dalam lebih dari satu bentuk atau jenis sastra (literary form/genre) menunjukkan bahwa bahan-bahan ini sudah ada sebelum muncul di dalam berbagai bentuk/jenis sastra ini di dalam Injil-injil; dan ini berarti bahwa bahan-bahan ini sangat boleh jadi berasal dari Yesus. Sebagai contoh, misalnya, karena frasa “kerajaan Allah” muncul serentak di dalam perumpamaan, ucapan bahagia, doa, aforisme/kata-kata bijak, kisah mujizat, kisah berita, maka ini menunjukkan bahwa memang Yesus memakai frasa ini di dalam ajaran-ajarannya.

3.3 Kriterion “bahan memiliki kekhasan atau orisinalitas” (the criterion of dissimi-larity or discontinuity or originality). Suatu tradisi tentang Yesus yang kontras, berbeda tajam bahkan bertolak-belakang, dengan ajaran dan praktek agama Yahudi zaman Yesus dan dengan kekristenan perdana sesudah Yesus, sangat mungkin berasal dari Yesus. Kontras ini menunjukkan kekhasan atau orisinalitas Yesus. Bahan-bahan yang memenuhi kriterion ini, antara lain, larangan Yesus untuk orang bersumpah (Matius 5:34-37; bdk. Yakobus 5:12); penolakan Yesus untuk murid-muridnya berpuasa (Markus 2:18-22, dan par.), dan penolakannya terhadap perceraian (Markus 10:2-12 dan par.; Lukas 16:18 dan par.). Kriterion ini harus digunakan dengan hati-hati, dan harus bersamaan dengan kriteria lainnya, sebab Yesus bukan saja harus diandaikan “berbeda” dari Yudaisme zamannya dan dari kekristenan perdana, tetapi juga bahwa ia dapat sejalan dan seirama dengan Yudaisme zamannya dan dengan gereja perdana.

3.4 Kriterion “bahan yang menyulitkan atau memalukan gereja perdana” (the criterion of embarrassment). Jika terdapat bahan-bahan atau tradisi-tradisi tentang Yesus yang kemunculannya menyulitkan komunitas-komunitas Kristen perdana dalam berargumentasi dengan lawan-lawan mereka, atau malah mempermalukan gereja perdana sendiri, maka bahan-bahan itu tentu bukan buatan gereja perdana sendiri, melainkan berasal dari Yesus sendiri atau berasal dari situasi pelayanan Yesus sendiri. Misalnya, tradisi Injil tentang pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis dengan “suatu baptisan pertobatan bagi pengampunan dosa.” Tradisi ini menyulitkan dan mempermalukan gereja perdana sendiri, sebab dengan dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Yesus diperlakukan sebagai orang berdosa, dan dibaptis oleh orang yang oleh gereja perdana dipandang lebih rendah kedudukannya daripada Yesus. Tradisi tentang Yesus yang dibaptis Yohanes Pembaptis ini condong ditekan dan kemudian disingkirkan oleh gereja perdana. Tradisi ini muncul di Markus 1:4-11 tanpa penjelasan teologis; di dalam Matius pembaptisan didahului suatu dialog antara Yohanes Pembaptis dan Yesus, di dalam mana Yohanes Pembaptis menegaskan bahwa bukan Yesus, tetapi dirinya sendirilah yang patut dibaptis, tetapi pembaptisan Yesus dilakukan juga setelah Yesus memintanya untuk menggenapkan seluruh kehendak Allah (Matius 3:13-17). Di dalam Lukas, sebelum Yesus dibaptis, diceritakan bahwa Yohanes Pembaptis telah dimasukkan ke dalam penjara oleh Herodes Antipas, dan Lukas tidak mencatat oleh siapa Yesus dibaptis (Lukas 3:19-22). Di dalam Injil Yohanes, yang penulisnya terlibat pergumulan menghadapi murid-murid Yohanes Pembaptis yang tidak mau mengakui Yesus sebagai sang Messias, tradisi Yesus dibaptis Yohanes Pembaptis tidak muncul sama sekali. Ucapan Yesus bahwa ia tidak tahu kapan akhir itu tiba, menyulitkan gereja, sehingga ada beberapa manuskrip Yunani yang membuang frasa “dan anakpun tidak [tahu]” yang muncul di dalam Markus (13:32). Sejumlah besar manuskrip Matius mengeliminasi frasa “dan anakpun tidak [tahu]” (Matius 24:36). Dalam Injil Yohanes malah Yesus digambarkan serba tahu tentang hal-hal masa kini dan hal-hal masa depan (Yohanes 5:6; 6:6; 8:14; 9:3; 11:11-15; 13:1-3, 11). Tradisi-tradisi lain yang memalukan gereja perdana antara lain adalah: pengkhianatan Yudas Iskariot dan penyaliban Yesus oleh orang-orang Romawi. Dengan memakai kriterion ini, kedua peristiwa ini harus dipandang historis.

3.5 Kriterion “penolakan dan penyaliban Yesus” (the criterion of rejection and execution). Karena dalam sejarah, hidup Yesus itu berakhir tragis, ditolak dan dieksekusi di kayu salib oleh orang-orang Romawi yang bekerja sama dengan para pemuka Yahudi, maka jika terdapat tradisi-tradisi tentang ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan Yesus yang bisa menjelaskan mengapa ia sampai diadili lalu dijatuhi hukuman mati, maka tradisi-tradisi itu harus dipandang berasal dari Yesus sendiri atau dari konteks kehidupannya sendiri. Dengan demikian, tradisi-tradisi tentang Yesus yang menampilkan Yesus sebagai orang yang kiprah-kiprahnya revolusioner, menantang, mengganggu dan menimbulkan kemarahan orang sehingga akhirnya disusun sebuah rencana untuk membunuhnya, harus dipandang sebagai tradisi-tradisi historis dari masa kehidupan Yesus sendiri.

3.6 Kriterion “lingkungan Palestina” (the criterion of Palestinian environment). Jika ada ucapan-ucapan Yesus yang mencerminkan adat-istiadat, kepercayaan-kepercayaan, prosedur-prosedur hukum, praktek-praktek perdagangan dan agrikultural, kondisi-kondisi domestik sosial, politik dan kultural, dari dunia sosial Palestina zaman Yesus, maka ucapan-ucapan itu harus dipandang otentik. Jika dirumuskan negatif, maka jika ada ucapan-ucapan Yesus yang mencerminkan keadaan-keadaan sosial, politis, ekonomis dan religius yang terdapat hanya di luar Palestina (di dunia Yunani-Romawi) atau hanya sesudah kematian Yesus, maka ucapan-ucapan itu harus dipandang tidak otentik. Sebagai contoh: jika ada bagian-bagian dari perumpamaan-perumpamaan Yesus yang berbicara tentang penundaan kedatangan kembali Yesus (parousia), maka bagian-bagian ini harus dipandang tidak berasal dari Yesus. Demikian juga, jika ada ucapan-ucapan Yesus yang mengarahkan misi gereja ke bangsa-bangsa bukan-Yahudi, ucapan-ucapan ini harus dipandang sebagai produk gereja perdana. Atau juga, jika ada ucapan-ucapan Yesus yang memuat aturan-aturan untuk memimpin jemaat atau untuk memberlakukan disiplin gereja, maka ucapan-ucapan itu tidak berasal dari Yesus.

3.7 Kriterion “linguistik” atau kriterion “jejak-jejak bahasa Aram” (the criterion of traces of Aramaic). Karena Yesus berbicara bahasa Aram, dan tradisi-tradisi tentangnya kemudian diteruskan dalam bahasa Yunani atau bahasa-bahasa lainnya, maka makin dekat suatu tradisi tentang Yesus di dalam Injil-injil kepada gaya bahasa, idiom-idiom dan unsur-unsur linguistik lainnya (kosa kata, tata bahasa, sintaksis, ritme/irama, sajak, bentuk puitis) dari bahasa Aram, maka makin besar kemungkinannya tradisi itu berasal dari Yesus sendiri. Sebaliknya, makin sulit suatu ucapan dikembalikan ke dalam bahasa Aram, semakin kuat kemungkinannya bahwa ucapan itu bukan ucapan Yesus.

3.8 Kriterion “isi yang lebih radikal” (the criterion of the more radical form). Jika suatu ucapan atau tindakan Yesus dilaporkan dalam lebih dari satu tradisi atau sumber, dan dengan mengandaikan bahwa tradisi-tradisi tentang Yesus mengalami perubahan dan pelunakan atau “penjinakan” ketika diturunalihkan, maka bentuk atau isi yang “lebih radikal” atau “lebih keras” dipandang sebagai bentuk atau isi yang lebih tua atau lebih mendekati kehidupan Yesus.

3.9 Kriterion “kecenderungan tradisi Injil mengalami perkembangan” (the criterion of the tendencies of the developing synoptic tradition). Umumnya orang berpandangan bahwa ketika suatu tradisi tentang Yesus disebarluaskan dan diturunalihkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, tradisi itu akan menjadi: 1) lebih panjang dan 2) lebih terinci, dan 3) ciri semitisnya (ciri bahasa Aramnya) condong makin melemah dan berkurang, dan cenderung 4) untuk mengganti ucapan tidak langsung menjadi ucapan langsung, dan 5) untuk menggabungkan versi-versi tradisi yang berlainan menjadi satu. Dengan demikian, kalau di antara tradisi-tradisi yang serupa ditemukan tradisi-tradisi yang lebih pendek, lebih sederhana dan tidak rumit, lebih kuat corak semitisnya, dan menggunakan kalimat tidak langsung, maka tradisi-tradisi yang semacam ini harus dipandang “lebih tua” dan karenanya lebih mendekati masa kehidupan Yesus sendiri. Tetapi, ada kasus-kasus yang menunjukkan bahwa hal-hal kebalikannya juga terjadi: ada tradisi-tradisi yang dalam proses transmisinya mengalami penyusutan, bertambah pendek, makin kurang terinci, ciri semitiknya makin menguat. Di dalam Injil-injil sinoptik sendiri, tidak selalu terjadi perubahan dari kalimat tidak langsung menjadi kalimat langsung, ketika suatu tradisi dikutip. Meskipun demikian, pada umumnya memang ditemukan bahwa makin jauh suatu tradisi dari masa kehidupan Yesus, tradisi itu akan makin panjang, makin terinci, dan corak semitisnya makin melemah dan makin condong untuk memakai kalimat langsung dan makin lebih rumit karena merupakan penggumpalan dari pelbagai varian tradisi. Untuk sampai pada tradisi yang lebih tua, tambahan-tambahan redaksional yang dilakukan para penulis Injil terhadap tradisi-tradisi yang mereka terima sebagai sumber-sumber penulisan Injil, harus dikenali. Jika “tambahan-tambahan redaksional” yang sudah bisa diidentifikasi ini dieliminasi, maka tradisi yang lebih tua akan didapati.

3.10 Kriterion “penelusuran sejarah tradisi sampai kembali ke bentuk yang paling awal” (the criterion of a plausible “Traditionsgeschichte”). Untuk sampai kepada bentuknya yang sekarang terdapat dalam Injil-injil, setiap tradisi tentang Yesus telah melewati perjalanan sejarahnya sendiri (dari masa Yesus sendiri, lalu bergerak masuk ke periode lisan, dan akhirnya masuk ke, dan dituliskan, dalam Injil-injil); dengan demikian, setiap tradisi memiliki “silsilah”-nya sendiri. Maka, untuk sampai kepada bentuk terawal yang dipakai oleh Yesus sendiri, sejarah atau “asal-usul” suatu tradisi harus ditelusuri dan direkonstruksi secara diakronik, “melintasi waktu” balik ke belakang. Bentuk terawal atau tertua yang diperoleh dari usaha penelusuran atau rekonstruksi sejarah tradisi ini dapat dipandang sebagai bentuk yang digunakan Yesus sendiri.

3.11 Kriterion “hermeneutik yang adekuat” (the criterion of hermeneutical adequacy).(note 25) Karena ada banyak variasi gambaran tentang Yesus di dalam Injil-injil, dan ada banyak pula interpretasi yang telah dibuat untuk melahirkan gambaran tentang siapa Yesus, sementara Yesusnya satu, maka kalau bisa dirancangbangun sebuah “gambaran besar” (meganarrative) yang bisa menampung atau menyedot semua gambaran yang bervariasi itu, gambaran besar atau “meganarrative” ini bisa dibayangkan sebagai gambaran dari masa kehidupan Yesus sendiri. Atau, sebuah tradisi yang bisa menjelaskan terjadinya, dan menampung atau menyerap, berbagai macam tradisi lain, adalah tradisi yang otentik dari Yesus.

3.12 Kriterion “koherensi” atau “konsistensi” (the criterion of coherence or consistency). Kriterion ini digunakan setelah sekian kriteria yang telah disebutkan di atas telah digunakan untuk mendapatkan suatu gambaran tentang Yesus sejarah. Gambaran yang telah diperoleh ini dapat digunakan sebagai “basis data” tentang siapa Yesus itu, tentang apa yang dikatakan dan diperbuatnya. Bahan-bahan lain yang sejalan atau konsisten dengan basis data ini dapat dipandang sebagai bahan-bahan yang bernilai historis, dan selanjutnya dapat digabungkan ke dalam basis data yang tersedia. Tetapi kriterion ini tidak boleh dipergunakan secara negatif untuk menyatakan bahwa tradisi-tradisi tentang Yesus yang tidak sejalan dengan basis data ini pasti bukan dari Yesus.

4. Pendekatan Lintas-ilmu

Dalam bagian ini, fokus ditujukan kepada John Dominic Crossan, anggota the Jesus seminar, sebab dialah seorang pakar yang telah meneliti Yesus sejarah selama lebih dari tigapuluh tahun, dan yang paling serius menekankan perlunya dibangun sebuah metodologi yang dapat diandalkan, yang bersifat lintasilmu, dalam penelitian Yesus sejarah.

4.1. Epistemologi Yang Dipilih, dan Peran Teologi

Crossan menolak baik epistemologi obyektivis positivis (bahwa pengetahuan tentang kenyataan itu dapat dicapai seratus persen obyektif, tanpa keterlibatan subyektif si peneliti), maupun epistemologi subyektivis narcissis (bahwa pengetahuan tentang kenyataan itu tidak akan pernah bersifat obyektif, sebab pengetahuan ini tidak lain adalah proyeksi kepentingan-kepentingan subyektif dari si peneliti). Sebagai gantinya, ia mengajukan epistemologi interaktif atau dialektis historis,(note 26) bahwa pengetahuan tentang kenyataan itu senantiasa dibentuk dari interaksi atau dialektika berimbang dari obyektivitas faktual sebuah fakta (misalnya, fakta bahwa Yesus itu ada sebagai manusia dalam sejarah) dan subyektivitas si peneliti (sudut pandang, prapaham-prapaham, ideologi atau teologi, lokasi sosial dan kepentingan-kepentingan si peneliti dan komunitasnya).

Dengan epistemologi interaktif ini, Crossan mengakui bahwa dalam ia merekonstruksi Yesus sejarah, faktor-faktor subyektif dalam dirinya ikut berperan dalam melahirkan potret tentang Yesus yang direkonstruksinya dari bahan-bahan yang tersedia. Crossan dengan terus terang menyatakan, “Tidak ada seorang pun yang memulai penelitian terhadap Yesus sejarah tanpa memiliki ide-ide apa pun tentang Yesus sebelumnya. Karena itu sedikit naif jika orang memulai penelitian dengan bertolak dari teks-teks tertentu dan bertindak seolah-olah ia menemukan Yesus sejarah di akhir kegiatan analisisnya. Sesungguhnya ada dan akan selalu ada sebuah hipotesis awal yang orang uji dengan memperhadapkannya pada data yang tersedia.”(note 27) Sejalan dengan Crossan, John P. Meier juga menegaskan bahwa “ketika orang menerima atau menyingkirkan dokumen-dokumen tertentu dari daftar mengenai sumber-sumber yang relevan, orang itu sudah mulai dan sedang menentukan ciri-ciri khas dari potret tentang Yesus yang akan dihasilkan.”(note 28) Begitu juga, N. T. Wright, yang dijuluki Meier sebagai “seorang musuh abadi dari the Jesus Seminar”, berpandangan bahwa “teori-teori tentang Injil-injil selalu berinteraksi, dan akan terus berinteraksi, dengan teori-teori mengenai Yesus.”(note 29) M. Eugene Boring juga berpendapat bahwa “data yang lolos dari kriteria otentisitas dan juga ‘basis data’ darimana segala hal lainnya muncul, telah dikondisikan (kalau tidak mau dikatakan telah ditentukan) oleh pandangan-pandangan teologis.”(note 30) Sejalan dengan para pakar ini, John S. Kloppenborg menegaskan bahwa banyak keputusan yang berkaitan dengan “cara para pakar bergerak dari pemilahan bahan-bahan yang otentik tentang Yesus sampai pada usaha menggabung bahan-bahan itu untuk menghasilkan sebuah potret Yesus yang harmonis” adalah “fungsi-fungsi dari komitmen-komitmen teoretis atau ideologis (teologis).”(note 31)

Jelas, dalam merekonstruksi Yesus sejarah, akan selalu ada interaksi antara data-data tekstual yang sedang ditafsir dan teologi si perekonstruksi. Dengan demikian, setiap pengkajian Yesus sejarah adalah juga sebuah usaha hermeneutik, untuk menemukan Yesus di masa lalu yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan teologis yang diajukan si peneliti terhadap teks-teks yang tersedia, pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari lokasi sosial si peneliti di masa kini. Pendek kata, dalam kerangka epistemologi interaktif, Yesus sejarah adalah hasil interaksi Yesus di masa lalu (Jesus of Nazareth) dan Yesus yang dibutuhkan di masa kini (the risen Lord; atau the Christ of faith). Karena itu, Crossan bisa berkata, bahwa Yesus sejarah itu adalah juga Tuhan yang bangkit, “the Historical Jesus as Risen Lord.” Baginya, jalan “iman” untuk menemukan Yesus yang bangkit untuk kehidupan masa kini adalah jalan “penelitian ilmiah” untuk mendapatkan Yesus sejarah yang ajaran-ajaran dan tindakan-tindakannya dapat diikuti dalam kehidupan masa kini. Crossan mengekspresikan ini, demikian: “Saya hendak katakan bahwa saya tidak lagi dapat membedakan antara doa dan studi. Jika fungsi doa adalah untuk memungkinkan Allah datang kepada anda, maka kini kegiatan meneliti sebagai seorang sarjana (scholarship) adalah tempat di mana itu terjadi pada saya.”(note 32) Dengan demikian, baginya, di samping melalui “keadilan dan perdamaian, doa dan liturgi, meditasi dan mistisisme”,(note 33) usaha merekonstruksi Yesus sejarah adalah juga jalan atau pintu gerbang untuk mengalami perjumpaan dengan Yesus yang bangkit, sang transenden, atau “the Holy as Wholly Other.”(note 34)

Usaha penelitian Yesus sejarah adalah juga usaha berteologi untuk menemukan potret-potret alternatif tentang Yesus yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan masa kini, yang tidak bisa diberikan oleh konstruksi-konstruksi kristologis yang dihasilkan pada zaman dulu. Usaha-usaha penelitian untuk menemukan gambar-gambar alternatif ini memusatkan perhatian pada tradisi-tradisi atau bahan-bahan yang memuat ajaran-ajaran Yesus dan laporan-laporan tentang tindakan-tindakannya; segala sesuatu yang dikatakan dan diperbuatnya dalam masa hidupnya di dunia ini. Kata-kata dan tindakan-tindakan Yesus dalam hidupnya sebagai manusia yang riil dan kongkret di dunia inilah yang sangat kurang diperhatikan oleh rasul Paulus dan yang sama sekali telah diabaikan dalam perumusan dogma-dogma kristologis pada abad-abad keempat dan kelima (dogma-dogma Nisea Konstantinopel dan Khalsedon).

4.2 Pendekatan Interdisipliner

Di dalam bukunya The Historical Jesus (1991), Crossan memakai pendekatan interdisipliner dalam merekonstruksi Yesus sejarah.(note 35) Pendekatan ini mencakup tiga langkah analitis yang semuanya bekerjasama sepenuhnya, seimbang dan saling terkait, untuk menghasilkan suatu sintesis yang kokoh dan efektif. Langkah pertama adalah melakukan suatu analisis antropologis lintas-budaya dan lintas-zaman, dengan menerapkan beberapa model dan tipologi antropologis. Langkah kedua, melakukan suatu analisis sejarah zaman Hellenistik dan Yunani-Romawi, dengan memakai kajian-kajian sinkronik dan diakronik atas bahan-bahan yang relevan. Kedua langkah ini dimaksudkan untuk mendapatkan konteks historis dan kontemporer dan sesudahnya (sampai tahun 70) yang di dalamnya Yesus dapat dengan mantap ditempatkan. Langkah ketiga, melakukan suatu analisis tekstual dan literer atas bahan-bahan tentang Yesus; langkah ini paling mendasar sebab “setiap kajian tentang Yesus sejarah akan bertahan atau gugur tergantung pada bagaimana si peneliti menangani langkah analisis literer atas teks yang ada.”(note 36)

Duabelas tahun sebelum publikasi The Historical Jesus, Crossan telah mengembangkan sebuah metode yang serupa di dalam karyanya Finding Is the First Act (1979). Dalam karya yang lebih awal ini, ia menafsirkan perumpamaan Yesus tentang Harta Terpendam (Matius 13:44) dengan memakai pendekatan literer, lintas-budaya, lintas-sejarah, sinkronik-sinoptik, dan dengan memakai tradisi Yahudi lainnya tentang harta terpendam sebagai latarbelakang yang terdekat, dan sebagai latarbelakang yang lebih luas ia memakai seluruh tradisi tentang harta terpendam yang tersedia di dalam kisah-kisah rakyat sedunia, melintasi periode-periode sejarah, kawasan-kawasan geografis, dan jenis-jenis sastra.(note 37) Dalam tahun 1973, Crossan, di dalam bukunya, In Parables,(note 38) telah menafsir perumpamaan yang sama dan perumpamaan-perumpamaan lainnya, dengan pada umumnya memakai suatu pendekatan diakronik transmisional, dengan menelusuri ke belakang sampai ke bentuk paling awal dari perumpamaan-perumpamaan yang diteliti. Dengan memakai kriterion “dissimilarity”, bentuk paling awal dari setiap perumpamaan dinilai otentisitas historisnya, yang dapat dikaitkan pada Yesus sejarah. Pendekatan diakronik-transmisional ini juga dipakainya dalam bukunya In Fragments (1983).(note 39)

Di dalam karyanya yang diterbitkan 1998, The Birth of Christianity, Crossan memakai metode interdisipliner yang sama. Dengan memakai kritik sastra, ia mendapatkan lapisan paling tua dari teks-teks tentang Yesus, yang harus dibedakan dari lapisan-lapisan yang lebih kemudian dan yang paling muda. Dengan pendekatan interdisipliner yang mencakup arkeologi kawasan Galilea, sejarah Yahudi-Romawi, dan antropologi lintas-budaya sebagai matriks sosial yang menaungi semuanya, ia merekonstruksi gambaran paling tajam dari konteks kehidupan Yesus. Interseksi atau pertemuan yang paling jelas dan kokoh, yang bisa dengan meyakinkan diperoleh, antara lapisan tertua teks dan gambaran tertajam konteks Yesus, menjadi sangat mutlak menentukan dalam menilai otentisitas dari isu-isu historis apapun mengenai Yesus dan kelanjutan paling awal dari gerakannya sesudah dan kendati pun ia sudah dihukum mati. Crossan menegaskan bahwa “metodenya mulai bukan dengan teks, tetapi dengan konteks”, sebab konteks yang diperolehnya akan mendisiplinkannya untuk tidak menafsirkan “data hampir semaunya.”(note 40) Buku mutakhir Crossan tentang Yesus sejarah, yang direkonstruksinya dengan memakai bantuan arkeologi, telah diterbitkan, dengan ditulis bersama arkeolog Jonathan L. Reed, berjudul Excavating Jesus: Beneath the Stones, Behind the Texts.(note 41)

5. Sumbangan bagi Kehidupan Kristen Masa Kini

Sudah pasti bahwa usaha-usaha para pakar dari pelbagai bangsa yang berbiaya mahal untuk meneliti Yesus sejarah selama ini telah dan akan terus memberikan sumbangan-sumbangan penting bagi pembentukan kehidupan Kristen masa kini, kehidupan Kristen perorangan maupun kehidupan gereja-gereja. Berikut ini akan diajukan empat pokok pendahuluan penting yang dihasilkan dari kajian-kajian tentang Yesus sejarah yang akan bisa memberi sumbangan penting bagi pembaruan kehidupan Kristen di masa kini. Tentu saja masih banyak pokok penting lainnya yang perlu diperhatikan; tetapi untuk sekarang ini, apa yang diberikan berikut ini cukuplah.

5.1 Pentingnya Kata-kata dan Perbuatan-perbuatan Yesus bagi Perumusan Kristologi Masa Kini

Perlu ditegaskan kembali bahwa gereja-gereja di Indonesia masa kini umumnya masih kuat berpegang pada kredo-kredo atau pengakuan-pengakuan iman yang dirumuskan pada abad-abad keempat dan kelima, yang perumusannya mengabaikan sama sekali suatu fakta yang sudah sangat tidak bisa terbantahkan bahwa Yesus itu betul-betul seorang manusia di bumi ini, yang kata-kata dan tindakan-tindakannya dapat ditemukan kembali dengan lebih dapat diandalkan melalui kajian-kajian Yesus sejarah.(note 42) Pengkajian-pengkajian Yesus sejarah telah memberikan sumbangan penting dan berharga berupa penemuan kembali kekayaan-kekayaan kearifan dan spiritual dari ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan Yesus. Ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan Yesus semasa ia hidup ― bukan hanya kematian dan kebangkitannya, dan juga bukan hanya “kepraadaannya” ― juga mampu membawa orang ke dalam pengalaman-pengalaman keselamatan, pengalaman pertemuan dengan Allah, Bapa yang diberitakannya, yang mendatangkan pembebasan dan pembaruan hidup. Untuk merumuskan kredo-kredo atau pengakuan-pengakuan iman Kristen dan kristologi-kristologi masa kini, ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan Yesus jelas perlu diperhatikan dengan bersungguh-sungguh. Seperti diingatkan Stephen J. Patterson, “Apa yang membuat Yesus, dan agama Yesus, unik dan mendesak, adalah tidaklah lain daripada kata-kata yang ia ucapkan dan hal-hal yang ia kerjakan.”(note 43) Tentu saja, suatu figur Yesus yang muncul dari kajian-kajian Yesus sejarah ini akan secara radikal berbeda dari figur yang ditampilkan oleh bahasa-bahasa konfesional yang termuat di dalam kredo-kredo Kristen zaman abad-abad pertama.(note 44)

Ada alat-alat bantu yang praktis untuk menemukan mana ucapan-ucapan yang betul-betul Yesus ucapkan, dan mana tindakan-tindakan atau peristiwa-peristiwa yang betul-betul dilakukan dan dialaminya. Yakni dua buku tebal yang diterbitkan oleh the Jesus Seminar. Seperti sudah dicatat di atas, yang pertama adalah buku The Five Gospels yang kini sudah dilengkapi dengan buku kedua, The Acts of Jesus.(note 45) Yang pertama, fokusnya adalah ucapan-ucapan Yesus; yang kedua, tindakan-tindakan Yesus.

Dalam buku The Five Gospels, semua ucapan Yesus yang terdapat dalam Injil-injil Markus, Matius, Lukas, Yohanes dan Injil Thomas diberi salah satu warna dari empat warna ini: merah, merah muda, abu-abu, dan hitam. Warna “merah” (red) berarti Yesus pasti mengatakan hal ini atau sesuatu yang sangat menyamai ini; warna “merah muda” (pink) berarti Yesus mungkin sekali mengatakan sesuatu seperti ini; warna “abu-abu” (gray) menunjukkan Yesus tidak mengatakan hal ini, tetapi gagasan-gagasan yang terdapat di dalamnya dekat dengan gagasan-gagasannya sendiri; warna “hitam” (black) menyatakan Yesus sama sekali tidak mengatakan hal ini; ucapan-ucapan yang termuat di situ menampilkan pandangan atau isi dari suatu tradisi yang berbeda atau yang lebih kemudian.(note 46) Untuk lebih mudah diingat, warna “merah” dapat diungkapkan sebagai “Itulah Yesus!”; warna “merah muda”, sebagai “Ya, kedengaran seperti Yesus!”; warna “abu-abu” sebagai “Ya, mungkin.”; warna “hitam” sebagai “Telah terjadi kesalahan.”(note 47) Dalam buku The Acts of Jesus, semua peristiwa dan tindakan Yesus, dan kejadian-kejadian lainnya apa pun yang terjadi dalam kaitan dengan kisah-kisah tentang Yesus, juga diberi warna-warni, seperti dalam The Five Gospels. Selain berisi Injil-injil Markus, Matius, Lukas, Yohanes dan Injil Thomas, The Acts of Jesus memuat juga Injil Q dan Injil Petrus, serta kisah-kisah intrakanonik dan ekstrakanonik tentang kubur kosong, penampakan serta kenaikan Yesus sesudah kematiannya, dan kisah-kisah kelahiran dan masa kanak-kanak Yesus. Dalam The Acts Jesus, warna “merah” menunjukkan bahwa bagian ini memuat informasi yang kesejarahannya dapat dipercaya dan pasti karena didukung oleh bukti yang berlimpah; warna “merah muda” berarti bahwa bagian ini memuat informasi yang kesejarahannya mungkin dapat dipercaya; informasi ini cocok dengan bukti lain yang dapat diperiksa; warna “abu-abu” menunjukkan bahwa informasi ini mungkin saja tetapi tidak dapat dipercaya, sebab kekurangan bukti pendukung; warna “hitam” menegaskan bahwa informasinya sama sekali tidak mungkin; tidak cocok dengan bukti yang dapat diperiksa; sebagian besar atau seluruhnya fiktif.(note 48) Tentu saja, sebagai karya-karya ilmiah, kedua buku tebal ini tidak boleh diperlakukan, seperti diingatkan Marcus J. Borg, sebagai kata-kata final yang sudah menyelesaikan segala perkara yang berkaitan dengan Yesus.(note 49) Paling tidak, kedua buku ini dapat digunakan untuk “menimbulkan kesadaran yang lebih besar di antara warga gereja mengenai penelitian ilmiah terhadap Alkitab dan untuk memulai suatu percakapan serius di antara orang-orang Kristen tentang apa itu Alkitab”; atau, dengan kata lain, kedua buku ini dapat berfungsi sebagai sarana-sarana bagi warga gereja untuk mereka dapat menjadi Kristen sekaligus cerdas dan paham apa itu Alkitab.(note 50)

5.2 Alkitab Harus Dipahami Lain

Metodologi penelitian lintasilmu yang dikembangkan dalam pengkajian Yesus sejarah, prapaham-prapaham yang dipakai mengenai hubungan antara kitab-kitab Injil, kriteria penentuan otentisitas bahan-bahan tentang Yesus, serta pemakaian luas sumber-sumber ekstrakanonik, menimbulkan implikasi-implikasi luas terhadap pemahaman tradisional tentang apa itu Alkitab.(note 51) Pandangan bahwa Alkitab adalah firman Tuhan yang tidak bisa berisi kesalahan apapun dalam bidang apa pun, jelas sudah meninggalkan terlalu jauh apa hakikat Alkitab yang sebenarnya itu, yakni kumpulan beranekaragam teologi yang dibuat oleh umat Israel kuno dan gereja-gereja perdana. Pembatasan isi Alkitab dalam 66 kitab sebagai kanon juga harus diperhadapkan pada kenyataan bahwa ada sekian informasi tentang Yesus yang juga bisa diperoleh dari luar Perjanjian Baru. Tentu saja, pembatasan jumlah kitab dalam kanon ada manfaat praktisnya, yakni mencegah kesimpangsiuran sumber-sumber ajaran; tetapi kenyataan bahwa kajian-kajian Yesus sejarah juga memakai sumber-sumber di luar kanon Kitab Suci setidaknya membuat orang dapat bertanya, apakah tidak dimungkinkan bagi gereja-gereja Protestan untuk memperluas sedikit jumlah kitab dalam kanon Kitab Suci mereka.

5.3 Superiorisme dan Triumfalisme Kristen Ditumbangkan

Kalau diperhatikan, ternyata hampir semua ucapan Yesus dalam Injil Yohanes di dalam The Five Gospels diberi warna “hitam”; padahal Injil ini adalah Injil yang paling disukai kalangan Kristen superior dan triumfalistis. Hanya Yohanes 4:44 (“Seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri”) diberi warna “merah muda”; Yohanes 12:24-25 diwarnai “abu-abu”; dan Yohanes 13:20 juga mendapat warna “abu-abu.” Nas triumfalistik dan eksklusif seperti Yohanes 14:6 jelas diberi warna “hitam”; artinya Yesus sama sekali tidak mengucapkan kata-kata di situ. Di dalam buku yang sama, nas triumfalistis, ekspansionistis dan proselitis Matius 28:18-20 juga diberi warna hitam; artinya nas ini bukan berasal dari Yesus. Data ini menunjukkan bahwa superiorisme, triumfalisme, eksklusivisme dan praktek-praktek proselitisasi Kristen sama sekali tidak berdasar pada kehidupan Yesus dari Nazareth. Selain itu, kajian tentang Yesus sejarah juga berhasil mengungkapkan bahwa Yesus dalam seluruh ajaran dan kehidupannya tidak memberitakan dirinya sendiri, melainkan seluruh pengajaran dan tindakannya dipusatkannya pada pemerintahan atau kerajaan kerahiman Allah yang diberitakan dan diperlihatkannya sedang mendatangi orang banyak yang mengikutnya dan mau menerima undangan-undangannya untuk masuk ke dalam pemerintahan ini. Pemerintahan kerahiman ilahi membentuk jati diri Yesus dari Nazareth. Dengan demikian, dengan berpusat pada pemerintahan kerahiman ilahi ini, dan dengan meninggalkan superiorisme, triumfalisme, eksklusivisme dan praktek-praktek proselitisasi Kristen, setiap orang Kristen masa kini bisa menjadi mitra-mitra yang rendah hati dan terbuka dalam kegiatan-kegiatan dialog antaragama, yang akan bermuara pada usaha-usaha bersama untuk membawa umat manusia di dunia ini ke dalam perjumpaan dengan Allah yang sedang memerintah dalam kerahiman-Nya.

5.4 Pentingnya Hidup di Masa Kini dan di Dunia Ini

Kajian-kajian Yesus sejarah yang diadakan oleh the Jesus Seminar telah membuktikan bahwa dalam masa pelayanannya, Yesus dari Nazareth menekankan respon manusia kepada Allah yang sedang memerintah dengan kerahimannya di dalam dunia manusia sekarang ini. Visi eskatologis apokaliptis tentang masuknya manusia ke “sorga” sebagai suatu “dunia lain” di masa depan di akhir sejarah dunia, bukanlah visi Yesus sejarah.(note 52) Dengan beritanya yang diwujudkan dalam kiprah-kiprahnya bahwa Allah kini sedang memerintah dalam kerahimannya di dunia ini, Yesus telah membetot “sorga” dari tempatnya di atas dan di masa depan, lalu membawanya masuk ke dalam dunia bagi kehidupan masa kini. Para pengikut Yesus tidak dimintanya untuk menunggu intervensi akhir Allah di ujung waktu, tetapi didorong untuk ambil-bagian aktif di dalam pemerintahan Allah yang sedang datang di dalam dunia ini. Visi etikal Yesus yang semacam ini tentu akan mendorong setiap orang Kristen untuk memandang penting kehidupan di masa kini di dunia ini, sebagai kesempatan berharga satu-satunya untuk mengalami dan meneruskan pengalaman hidup dalam pemerintahan kerahiman Allah. Dunia masa kini sudah begitu dipenuhi banyak persoalan yang sama sekali tidak bisa diselesaikan hanya oleh pandangan ke atas, ke “sorga”, yang akan dimasuki di masa depan di akhir sejarah dunia; ini adalah eskapisme dangkal yang egoistik dan kekanak-kanakan. Tetapi persoalan-persoalan dunia ini ini akan dapat dikurangi dengan cukup berarti jika setiap orang Kristen, dalam mengikut Yesus sejarah, menaruh perhatian penuh pada tanggungjawab etikal untuk mendatangkan perbaikan-perbaikan dan perubahan-perubahan dalam dunia ini, seiring dengan pekerjaan kerahiman Allah di dalam dunia ini sekarang ini. Suatu kredo atau pengakuan iman Kristen yang baik adalah suatu kredo yang salah satu unsurnya adalah pengakuan akan pentingnya kehidupan masa kini di dunia ini sekarang ini, yang bukan hanya menekankan kepercayaan pada kebangkitan orang mati di akhir zaman.

(Selesai)

Jakarta, 24 Januari 2005

Notes

1) Dari kata Jerman Quelle = “sumber”, yaitu Injil yang berisi hanya ucapan-ucapan Yesus, yang digunakan bersama oleh Matius dan Lukas, di samping mereka juga memakai Markus sebagai sumber utama. Isi Q dapat direkonstruksi dari ucapan-ucapan Yesus yang pararel yang terdapat baik dalam Injil Matius maupun dalam Injil Lukas. Di dalam Injil Q, tidak terdapat kisah kesengsaraan dan kisah kebangkitan Yesus. Keselamatan dihayati sebagai pembebasan yang didatangkan oleh ucapan-ucapan hikmat Yesus.

2) Tentang ini, lihat John P. Meier, A Marginal Jew: Rethinking the Historical Jesus. Volume 1: The Roots of the Problem and the Person (New York, etc.: Doubleday, 1991) 45-47; Gerd Theissen & Annette Merz, The Historical Jesus: A Comprehensive Guide (E.T. by John Bowden; Minneapolis: Fortress Press, 1998) 54f.; lihat juga usaha untuk membandingkan dan mengaitkan Yesus dengan Paulus dalam David Wenham, Paul: Follower of Jesus or Founder of Christianity? (Grand Rapids/Michigan: W. B. Eerdmans, 1995).

3) Untuk Surat Yakobus, lihat Helmut Koester, Ancient Christian Gospels: Their History and Development (London/Philadelphia: SCM Press/Trinity Press International, 1990) 71-75; untuk 1 Petrus, lihat Koester, Ancient, 64-66.

4) John P. Meier, A Marginal Jew, 47.

5) Lihat James M. Robinson, ed., The Nag Hammadi Library in English (revised edition; San Francisco: Harper & Row, 19903) 124-138.

6) Theissen & Merz, Historical Jesus, 37-41.

7) Robert W. Funk, Roy A. Hooever and the Jesus Seminar, The Five Gospels. The Search for the Authentic Words of Jesus (Polebridge Press Book; New York/Don Mills, Ontario: Macmillan Publishing Co., 1993).

8) James M. Robinson, ed., Nag Hammadi Library, 29-37.

9) James M. Robinson, ed., Nag Hammadi Library, 244-255.

10) James M. Robinson, ed., Nag Hammadi Library, 208-219; Theissen & Merz, Historical Jesus, 42-43.

11) Lihat Theissen & Merz, Historical Jesus, 36-37.

12) Lihat Theissen & Merz, Historical Jesus, 43-51; Robert J. Miller, ed., The Complete Gospels. Annotated Scholars Version (Sonoma, California: Polebridge Press, 1994) 399-421; Wilhelm Schneemelcher & R. McL. Wilson, eds., New Testament Apocrypha. Vol. I: Gospels and Related Writings (Cambridge/Louisville: James Clarke/ Westminster/ John Knox Press, 1991) 94-95, 96-99, 106-109, 216-227.

13) Theissen & Merz, Historical Jesus, 51-54.

14) Tentang tiga Injil Kristen Yahudi ini, lihat Philipp Vielhauer and Georg Stecker, di dalam Wilhelm Schneemelcher & R. McL. Wilson, eds., New Testament Apocrypha, 153-178; Robert J. Miller, ed., The Complete Gospels, 425-446.

15) Tentang ini, lihat Theissen & Merz, Historical Jesus, 56-58.

16) Lihat: Ulrich H.J. Körtner, Papias von Hierapolis: Ein Beitrag zur Geschichte des frühen Christentums (Göttingen: Vandenhoeck & Ruprecht, 1983) 159, 182-184. Untuk teks lengkap fragmen Papias dalam Eusebius, Hist. eccl. III, 39.1-17, dan komentar atas teks ini, lihat Josef Khrzinger, Papias von Hierapolis und die Evangelien des Neuen Testaments (Eichst@tter Materialien Band 4; Abteilung Philosophie und Theologie; Regensburg: Verlag Friedrich Pustet, 1983) 98-103; Körtner, Papias von Hierapolis, 54-59, 78-79, 114-132, 144-150, 182-184. Teks Papias dalam bahasa Yunani (dari Hist. eccl. III, 39. 1-7, 14-17) telah dimasukkan ke dalam Synopsis Quattuor Evangeliorum (ed. Kurt Aland; Stuttgart: Deutsche Bibelgesellschaft, 199514 [19631]) 531.

17) Tentang tradisi-tradisi mengenai Yesus di dalam surat 1 Klement yang tidak bergantung kepada Injil-injil Sinoptik, lihat lebih jauh Koester, Ancient, 66-71.

18) Lihat teks Yunaninya dalam Josephus: Jewish Antiquities, Buku XVIII-XX, diterjemahkan, disunting dan dianotasi Louis H. Feldman (Cambridge, Massachusetts/ London: Harvard Univ. Press/William Heinemann, 1969 [19651]) 48-51, dalam Loeb Classical Library (LCL) 9 (9 vols; diterjemahkan, disunting dan dianotasi oleh Henry St. John Thackeray, Ralph Marcus, Allen Wikgren dan Louis H. Feldman); lihat juga Louis. H. Feldman, “Flavius Josephus Revisited: the Man, His Writings, and His Significance”, Aufstieg und Niedergang der römischen Welt II. 21.2, ed. W. Haase & H. Temporini (Berlin/New York: de Gruyter, 1984) 763-862. Lihat pembahasan perihal otentisitas rujukan-rujukan Josephus terhadap Yesus ini dalam Theissen & Merz, Historical Jesus, 64-74; Meier, A Marginal Jew, 56-88; idem, “Jesus in Josephus: A Modest Proposal”, Catholic Biblical Quarterly 52 (1990) 76-103, khususnya 81f.; bdk. Zvi Baras, “Testimonium Flavianum: The State of Recent Scholarship”, dalam Michael Avi-Yonah and Zvi Baras (eds), Society and Religion in the Second Temple Period (London: W.H. Allen, 1977) 303-13, 378-85; idem, “The Testimonium Flavianum and the Martyrdom of James” in Louis H. Feldman and Gohei Hata (eds.), Josephus, Judaism and Christianity (Leiden: E.J. Brill, 1987) 338-348, khususnya 339; Steve Mason, Josephus and the New Testament (Peabody, Massachusetts: Hendrickson, 1992) 163-175.

19) Gabungan tradisi-tradisi lisan para rabbi Yahudi yang disebut “Mishna” dan tafsir-an-tafsiran atas Mishna itu yang disebut “Gemara”.

20) Penilaian atas historisitas sumber rabbinik ini, lihat Theissen & Merz, Historical Jesus, 74-76.

21) Lihat Theissen & Merz, Historical Jesus, 79-84.

22) Meier, A Marginal Jew, 92.

23) Tentang pokok ini, lihat antara lain: M. Eugene Boring, “The Historical-Critical Method’s ‘Criteria of Authenticity’: The Beatitudes in Q and Thomas as A Test Case”, Semeia 44 (1988) 9-44; Dennis Polkow, “Method and Criteria for Historical Jesus Research”, Society of Biblical Literature 1987 Seminar Papers No. 26, ed. Kent H. Richards (Atlanta, Georgia: Scholars Press, 1987) 336-356; Robert H. Stein, “The ‘Criteria’ for Authenticity” in R. T. France & David Wenham, eds., Gospel Perspectives: Studies of History and Tradition in the Four Gospels, volume 1 (Sheffield: JSOT, 19832) 225-263; John P. Meier, A Marginal Jew, 167-195.

24) John D. Crossan, The Historical Jesus: The Life of a Mediterranean Jewish Peasant (New York: HarperCollins, 1992) 427-450.

25) Tentang ini, lihat juga Crossan, “Divine Immediacy and Human Immediacy: Towards a New First Principle in Historical Jesus Research”, Semeia 44 (1988) 125 [121-140], idem, “Aphorism in Discourse and Narrative”, Semeia 43 (1988) 134 [121-140]; idem, “Materials and Methods in Historical Jesus Research” in Forum 4/4 (1988) 11 [3-24].

26) Lihat Crossan, The Birth of Christianity: Discovering What Happened in the Years Immediately After the Execution of Jesus (New York: HarperCollins, 1998) 40-46, 211-213; idem, “Historical Jesus as Risen Lord” di dalam Crossan, Luke Timothy Johnson, dan Werner H. Kelber, The Jesus Controversy: Perspectives in Conflict (Harrisburg, PA: 1999) 3; idem, The Dark Interval. Towards a Theology of Story (Niles, Illinois: Argus Communications, 1975) 37; bdk. idem, A Fragile Craft: The Work of Amos Niven Wilder (SBL # 3, Centennial 1980; Chico, CA: Scholar Press, 1981) 69.

27) “Materials and Methods in Historical Jesus Research,” Forum 4/4 (1988) 10.

28) John P. Meier, “Dividing Lines in Jesus Research Today” in Interpretation 50/4 (1996) 356 [355-372].

29) N.T. Wright, “Doing Justice to Jesus. A Response to J. D. Crossan: ‘What Victory? What God?’” dalam Scottish Journal of Theology 50:3 (1997) 363 [ 359-379]; bdk. idem, Jesus and the Victory of God; vol. 2 of Christian Origins and the Question of God (Minneapolis: Fortress, 1996) 51, 51n. 107. Buku ini telah dipopularisasikan dengan judul The Challenge of Jesus. Rediscovering Who Jesus Was and Is (Downers Grove, Illinois: IVP, 1999); lihat juga Wright, Who Was Jesus? (London: SPCK, 19932 [1992]) khususnya 93-103.

30) M. Eugene Boring, “The ‘Third Quest’ and the Apostolic Faith,” 347.

31) John S. Kloppenborg Verbin, “The Life and Sayings of Jesus” in The New Testament Today, ed. Mark Allan Powell (Louisville: Westminster John Knox Press, 1999) 18. Demikian pula, Kloppenborg menyatakan bahwa tidak ada “hubungan unidireksional antara fase teknis memilah-milah tradisi tentang Yesus sejarah dan usaha-usaha rekonstruksi untuk menghasilkan potret-potret gabungan; dalam praktek yang sebenarnya, orang tidak pernah masuk ke dalam fase teknis ini tabula rasa, dan, sebaliknya, hasil-hasil dari kritik sejarah memiliki potensi untuk memengaruhi komitmen-komitmen ideologis seseorang.” (28 n. 37 ).

32) Crossan in Who Is Jesus? Answers to Your Questions about the Historical Jesus (Louisville, Kentucky: Westminster John Knox Press,1996) 142.

33) Crossan, Birth of Christianity, 39.

34) Crossan, Raid on the Articulate. Comic Eschatology in Jesus and Borges (New York, etc.: Harper & Row, 1976) 43-50. Lihat juga, Crossan, Finding Is the First Act: Trove Folktales and Jesus’ Treasure Parable (Semeia Supplements 9. Philadelphia/ Missoula: Fortress Press/Scholar Press, 1979) 4; idem, The Dark Interval. Towards a Theology of Story (Niles, Illinois: Argus Communications, 1975) 38-50.

35) Historical Jesus, xxviii-xxxiv.

36) Historical Jesus, xxix.

37) Crossan, Finding Is the First Act.

38) Crossan, In Parables: The Challenge of the Historical Jesus (New York: Haper & Row, 19731; Sonoma, California: Polebridge Press, 1992) 37, 38, 53, 81.

39) Crossan, In Fragments. The Aphorisms of Jesus (San Francisco: Harper & Row, 1983), khususnya 29-34.

40) Birth of Christianity, 213.

41) Crossan and Jonathan L. Reed, Excavating Jesus: Beneath the Stones, Behind the Texts (SanFrancisco: HarperSanFrancisco, 2001).

42) Bdk. Charles W. Hedrick, “The ‘Good News’ about the Historical Jesus”, dalam the Jesus Seminar, The Historical Jesus Goes to Church (Santa Rosa, CA: Polebridge Press, 2004) 95 [91-103].

43) Stephen J. Patterson, “If You Give a Mouse a Cookie … What the Quest Holds in Store for the Church” dalam the Jesus Seminar, Historical Jesus Goes, 40 [31-41, 124-125].

44) Roy W. Hoover, “The Art of Gaining and Losing Everything” di dalam the Jesus Seminar, The Historical Jesus Goes, 16 [11-29, 123-124].

45) Robert W. Funk dan the Jesus Seminar, The Acts of Jesus: What Did Jesus Really Do? The Search for the Authentic Deeds of Jesus (SanFrancisco: HarperSanFrancisco, 1998).

46) Robert J. Miller, The Jesus Seminar and Its Critics (Santa Rosa, CA: Polebridge Press, 1999) 48; Funk dan the Jesus Seminar, Five Gospels, 36.

47) Funk dan the Jesus Seminar, Five Gospels, 37; Marcus J. Borg, “The Jesus Seminar and the Church”, bab 8 dari bukunya, Jesus in Contemporary Scholarship (Harrisburg, PA: Trinity Press International) 162.

48) Funk dan the Jesus Seminar, Acts of Jesus, 36-37.

49) Marcus J. Borg, Jesus in Contemporary Scholarship, 172.

50) Marcus J. Borg, Jesus in Contemporary Scholarship, 178.

51) Lihat Stephen J. Patterson, “If You Give a Mouse a Cookie” dalam the Jesus Seminar, Historical Jesus Goes, 32-35 [31-41, 124-125].

52) Perdebatan tentang pokok ini antara para pakar dalam the Jesus Seminar dan seorang pakar lain di luarnya, lihat Robert J. Miller, ed., The Apocalyptic Jesus: A Debate (Santa Rosa, CA: Polebridge Press, 2001).

Sumber: http://www.sttjakarta.ac.id/

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: