Pilar

November 15, 2006

AGAMA TANPA AGAMA

Filed under: Wacana — noviz @ 6:44 am

Sebuah Tinjauan buku oleh Trisno S. Sutanto

Mungkinkah beragama tanpa agama? Atau lebih tepat: beriman tanpa agama? Pertanyaan-pertanyaan itu segera mencuat bagi siapapun yang pernah membaca buku John D. Caputo, On Religion, yang sudah dialihbahasakan dan diterbitkan oleh Mizan dengan judul berbeda: Agama Cinta, Agama Masa Depan.(1) Esai ini mau memberi jawaban positif pada pertanyaan di atas. Malah lebih jauh lagi mau menandaskan, gagasan Caputo (yang diambil alih dari Jacques Derrida) tentang “agama tanpa agama” (religion without religion), menurut saya, seyogianya dipertimbangkan secara serius bagi siapapun yang secara serius dan jujur mau bergumul dengan “agama” pada jaman sekarang, dan mau “berteologi”, mau berusaha “berbicara tentang Allah” (theos-logos). Tanpa pertimbangan itu setiap diskursus tentang agama dan teologi hanya akan jadi omong kosong, atau basa basi belaka. Mengapa?

Melobangi Pencerahan

Sesungguhnya, setelah Kant menulis ketiga seri Kritik-nya yang mahsyur itu, seluruh upaya merumuskan teologi metafisik ― atau bahkan metafisika itu sendiri― tidak mungkin lagi dilakukan. Pasca-Kant, jika orang mau berteologi, atau mau merumuskan metafisika, maka mau tak mau ia harus terlebih dahulu memeriksa dengan teliti syarat-syarat kemungkinan (conditions of possibility) akal budi manusia ― kecuali mau terjebak menjadi sekadar dogmatisme, repetisi bebal rumusan-rumusan ajaran yang diwarisi selama berabad-abad. Namun langkah itu membuat upaya berteologi (atau merumuskan metafisika) jadi mustahil. “Akal budi manusia,” mengutip kalimat mahsyur yang membuka Kritik Akal Budi Murni, “punya nasib bahwa dalam salah satu cabang pengetahuannya (yakni metafisika ) ia dibebani oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak dapat dinafikannya karena hakikat dasar akal budi itu sendiri, tetapi juga, karena melampaui kekuatannya, tidak mampu dijawabnya.”

Dengan kata lain Kant, yang dijuluki Caputo “si kepala polisi” itu, sudah menarik police line yang memisahkan antara apa yang-mungkin dan apa yang-mustahil, apa yang masuk akal dan apa yang berada di luar penalaran akal budi manusia. Akal budi manusia adalah hakim, malah satu-satunya Hakim, dalam apa yang disebut Kant tribunal of reason. Sebab jaman kita sekarang ini, masih mengutip Kant, adalah

“jaman kritisisme, dan pada kritisisme semuanya harus tunduk. Agama dengan aura kekudusannya, dan aturan hukum dengan segala kebesarannya, memang bisa mengelak darinya. Namun itu hanya akan membangkitkan kecurigaan, dan tidak mampu menimbulkan penghormatan yang jujur yang hanya diberikan akal budi pada apa yang mampu menghadapi ujian pemeriksaan bebas dan terbuka.”

Di hadapan pengadilan akal budi manusia itu, Tuhan, agama, sorga, malaikat, masuk dalam kategori kedua Kant, yakni menjadi yang-mustahil, bersama neraka, iblis, setan, jin, tuyul, genderuwo…

Garis batas yang dibuat Kant membuat agama hanya mungkin dibayangkan “dalam batas-batas akal budi semata”, seperti judul buku Kant yang jadi cetak biru pandangan Pencerahan. Dan diam-diam kita, manusia modern yang jadi ahli waris Kant, mengikuti batas-batas yang digariskannya. Cerita-cerita Kitab Suci, seperti Perawan Maria yang melahirkan tapi tetap perawan, atau Musa yang membelah laut dengan pukulan tongkatnya, berada dalam kategori yang sama dengan seri “Kismis” di televisi, sebagai sesuatu yang berada di luar penalaran akal budi semata, sebagai “yang-mustahil.”.

Tepat di sinilah buku Caputo berbicara pada kita, dan mengusik ke(ny)amanan kemodernan kita yang dijaga oleh tembok batas-batas akal budi semata tadi. Pertaruhannya sangat mendasar: Ketika Kant mendirikan tembok batas-batas akal budi semata, ia sesungguhnya sudah mengurung masa depan, memisahkan masa depan yang-mungkin dari yang-tak-mungkin, dan menafikan yang-tak-mungkin sebagai yang-mustahil. Dengan itu agama, atau bahkan Tuhan, disingkirkan, dilucuti sebagai takhayul fantastis. Mengikuti Derrida, si anak Nietzsche yang mau “berfilsafat dengan palu”, to philosophize with a hammer, Caputo mau memalu dan melobangi tembok Pencerahan agar angin segar l’avenir ― masa depan yang tak dapat diprakirakan sebelumnya ― dapat kembali berhembus masuk. Sebab pada ranah l’avenir itulah terletak locus agama.(2)

Agama bagi Caputo bukan hanya sederetan rumusan doktrin yang diyakini sekelompok orang dan dijaga oleh institusi-institusi yang usianya sudah berabad-abad. Itu memang penting. Tetapi yang jauh lebih penting, agama adalah “perjanjian dengan yang-tak-mungkin”, yang dikobarkan oleh “gairah bagi yang-tak-mungkin” (passion of the impossible) yang terus-menerus mendorong orang untuk menabrak dan melewati batas-batas kemungkinan. Menjadi orang religius, karenanya, adalah menjadi “orang-orang yang tak mungkin”, orang-orang yang dibakar oleh gairah bagi yang-tak-mungkin, para pencinta yang mencintai habis-habisan dengan cinta yang tak berkesudahan, orang-orang yang berharap dengan harapan yang mengatasi segala pengharapan, hope against all hope (istilah Paulus, Roma 4:18).

Sudah tentu definisi seperti itu membuat orang tidak merasa (ny)aman, melainkan terus menerus gelisah. Dan Caputo sudah mengingatkan, dengan kata-kata yang layak dikutip utuh di sini:

“Kalau keamananlah yang anda cari, lupakan agama dan jadilah penasihat penanam modal. Makna religius kehidupan harus berpangkal pada pergulatan diri dengan ketidakpastian yang radikal dan kehidupan yang terbuka, bergulat dengan apa yang kita sebut masa depan absolut yang memberi makna, memberi garam, dan menyuguhkan risiko. Masa depan absolut merupakan urusan yang penuh risiko, yang menjadi alasan mengapa iman, harapan, dan cinta kasih harus ikut serta.”

Iman, harapan, dan cinta kasih! Itulah, dan hanya itulah, yang dibutuhkan jika kita mau mengarungi ranah agama.
Pertanyaan abadi

Seandainya Caputo berhenti di sini, maka dia tidak lebih dari seorang teolog Kristen pada umumnya yang mau menggemakan lagi kata-kata rasul Paulus yang terkenal tentang iman, harapan, dan cinta kasih tadi. Dan bukunya tidak lebih dari sekumpulan khotbah.

Syukurlah ia tidak berhenti di situ, pada rumusan-rumusan baku mengenai iman, harapan, dan cinta kasih. Juga mengenai agama dan Tuhan.

Ketika Caputo merumuskan agama sebagai “perjanjian dengan yang-tak-mungkin”, Caputo sebenarnya, melalui “palu dekonstruksi” Derrida, mau melobangi Pencerahan, dengan menggeser batas-batas akal budi semata sehingga memungkinkan ketidakmungkinan jadi mungkin, dan sekaligus melobangi agama sehingga terbuka bagi segala kemungkinan, termasuk di dalamnya ketidakmungkinan yang belum mungkin. Dengan kata lain, agama mau ditarik kembali pada pergulatan diri dengan ketidakpastian yang radikal, pada pertanyaan abadi yang terus menerus menggoda dan mendorong manusia sampai pada batas-batas kemungkinan.

Caputo (dan Derrida) menemukannya pada pertanyaan St Augustinus: Apa sebenarnya yang aku cintai ketika aku mencintai Tuhanku?(3) Pertanyaan itu dikemukakan Augustinus dalam buku ke-10, yakni bagian yang paling terkenal dari Confessiones-nya, ketika ia berusaha mati-matian mencari Tuhan. Di dalamnya kita menemukan pengembaraan tanpa henti Augustinus yang terus bertanya kepada langit dan bumi, kepada binatang dan tumbuhan, bahkan kepada dirinya sendiri, pada relung-relung ingatannya yang sangat rahasia: Apa yang sebenarnya aku cintai ketika aku mencintai Dikau, Tuhanku? Tetapi siapakah Engkau, Tuhanku? Bagaimana dan di mana aku harus mencari Engkau, ya Tuhanku? Di manakah Kau dapat kutemukan sehingga aku mengenali Engkau, Tuhanku? Apakah Kau berada di luar ingatanku, atau di dalam ingatanku? Bila Kau berada di luar ingatanku, bagaimana aku akan mengenali Engkau bila bertemu dengan-Mu? Jika Kau berada di dalam ingatanku, di mana di dalamnya Engkau tinggal?

Jika kita mengikuti pertanyaan-pertanyaan Augustinus yang bertebaran dalam seluruh Confessiones-nya sampai di ujung akhir, ternyata tidak ada Jawaban (dengan huruf besar “J”!) yang dapat ditemukan. Ketika membahas soal ingatan dalam buku ke-10, Augustinus sampai pada jalan buntu: Bukankah tidak ada yang lebih dekat denganku selain ingatanku, tanya Augustinus. Tetapi lihatlah, bahkan daya ingatanku lolos dari genggamanku, sementara aku tidak dapat menyebut diriku sendiri tanpa ingatan itu. Aku tidak tahu di bagian mana dari ingatanku Tuhan dapat kutemukan. Jadi, aku ini apa, Tuhanku? Di hadapan-Mu, aku telah menjadi pertanyaan bagi diriku sendiri. Quaestio mihi factus sum. Itulah kesimpulan Augustinus: aku telah menjadi pertanyaan bagi diriku sendiri!

Bagi Caputo, pertanyaan itu ― bukan pertanyaan itu, melainkan pertanyaan-sebagai-pertanyaan ― justru merupakan jawaban, yakni jawaban yang bukan Jawaban (dengan huruf besar “J”), “suatu jawaban agar terus bertanya, menjadikan pertanyaannya hidup”. Caputo menyebutnya sebagai kondisi “iman post-modern”, yakni iman tanpa Huruf Besar, tanpa Kata Terakhir, tanpa Jawaban, bahkan tanpa Pengetahuan. Dalam kata-kata bersayap Derrida, suatu iman sans voir, sans avoir, sans savoir; iman yang “tanpa melihat, tanpa memiliki, tanpa pengetahuan”. Begini Caputo merumuskannya:

“Iman memang tidak aman. … Iman akan selalu ― dan inilah kondisinya ― iman tanpa iman, iman yang perlu dijaga dari saat ke saat, dari satu keputusan kepada keputusan lainnya, melalui pembaruan, penemuan kembali, dan pengulangan iman itu sendiri yang … senantiasa disodorkan ke hadapan keterputusan demi keterputusan. Iman selalu menjadi tempat tinggal bagi ketiadaan iman …”

Iman tanpa iman, iman yang selalu menjadi tempat tinggal bagi ketiadaan iman. Bagaimana kalimat-kalimat aneh ini dapat dipahami?

Menurut saya, hal itu hanya dapat dipahami dalam kontinum apa yang disebut Caputo di akhir bukunya sebagai “tiga aksioma” demi suatu agama tanpa agama.

Pertama, aku tidak tahu siapa aku atau apakah aku percaya kepada Tuhan. Ini merupakan penegasan yang menjadi titik awal perjalanan religius: quaestio mihi factus sum. Di hadapan Tuhan aku sudah menjadi pertanyaan bagi diriku sendiri. Karena itu aku selalu terombang-ambing antara iman dan ketiadaan iman, antara Tuhan dan ketiadaan Tuhan.

Kedua, aku tidak tahu apakah yang aku percayai itu Tuhan atau bukan. Kini aku, sekalipun mengakui bahwa eksistensiku adalah pertanyaan, mulai melangkah, membuka diri dan menyambut l’avenir yang tak pernah dapat diduga sebelumnya. Aku melangkah ― lebih tepat: “melompat”, jika mengikuti Kierkegaard, nabi kita― dengan iman yang buta, sans voir, sans avoir, sans savoir. Karena aku tidak tahu apakah yang aku percayai Tuhan atau bukan.

Ketiga, apa yang sebenarnya aku cintai ketika aku mencintai Tuhanku? Inilah puncaknya, pertanyaan yang terus menerus membuat aku gelisah, dan karenanya mendorong aku untuk menjelajah sampai pada ujung ufuk kemungkinan. Aku sudah menyebut “Tuhanku”. Tetapi aku tidak pernah merasa pasti apa yang sebenarnya aku cintai ketika aku mencintai Tuhanku.

Mengapa? Sebab Tuhan, seperti juga cinta, tidak akan pernah dapat dipastikan. Lagi pula, sebagaimana cinta, tentang Tuhan seyogianya orang tidak bertanya “apa” melainkan “bagaimana”. Jadi, pertanyaannya adalah, bagaimana aku mencintai ketika aku mencintai Tuhanku? Bertanya “apa” tentang Tuhan hanya akan menjadikan Tuhan sebagai “Pribadi metafisik” yang diributkan para teolog dan birokrat keagamaan, dan yang sudah dimustahilkan oleh Kant, serta dikabarkan sudah mati oleh Nietzsche awal abad lalu. Bertanya “bagaimana” membuat Tuhan menjadi “Kau”, sebutan mesra yang hanya dimungkinkan kalau aku mengatakan “Tuhanku”.

Dibahasakan lain: “Tuhan” bukan hanya nama tetapi sekaligus perintah, undangan, dan permintaan untuk selalu terbuka bagi l’avenir yang tak dapat diduga sebelumnya.(4) Kepada-Nya kita hanya dapat berkata, seperti kata-kata Perawan Maria pada malaikat, “Fiat! Jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1:38).

Agama tanpa agama

Buku Caputo memang aneh. Buku yang tadinya merupakan traktat mengenai agama, tiba-tiba berubah menjadi traktat mengenai ketidakmungkinan, dan berakhir sebagai traktat mengenai agama (tanpa agama)!

Tetapi seperti didedah di muka, ketergelinciran itulah “logika internal” agama. Memikirkan secara serius agama pada jaman modern pasca-Kant mustahil dilakukan tanpa melobangi, dengan palu dekonstruksi, batas-batas akal budi semata, yang memungkinkan ketidakmungkinan menjadi mungkin lagi. Dengan itu, angin l’avenir dapat masuk, dan agama memampukan kita menari, melompat, bernyanyi, berdoa, dan menangis lagi. Tetapi palu dekonstruksi itu juga melobangi agama, menjadikannya agama tanpa agama, agar kita tidak terjebak di dalam agama, melainkan dengan agama melampaui agama!

Saya sengaja melukiskan operasi dekonstruktif sebagai “melobangi” dan bukannya “menghancurkan.”. Dekonstruksi bukanlah “destruksi” (istilah Heidegger) yang mau menghancurkan segala-galanya, dan tidak meninggalkan sisa. Dekonstruksi, sebaliknya, justru berawal dari yang tersisa, dari jejak-jejak (traces, istilah Derrida, walau di kemudian hari ia lebih menyukai metafora cinders, abu sekaligus api bakaran), untuk memampukan yang tersisa itu bicara. Dekonstruksi adalah “gerak transenden”, gerak yang melanggar (transgressing) batas-batas horison kemungkinan sehingga ketidakmungkinan, yang tersisa tadi, jadi mungkin lagi menyapa kita.(5)

Maka ketika saya mengatakan bahwa Caputo (via Derrida) melobangi Pencerahan, itu tidak berarti bahwa Pencerahan (dan keturunannya: modernitas) mau ditolak sepenuhnya. Itu sikap anti-modern yang mewujud dalam fundamentalisme atau juga gerakan New Age ala Celestine Prophecy yang juga laku di sini. Caputo tidak anti-Pencerahan, malah sebaliknya dengan dan di dalam Pencerahan ia mau melampaui batas-batas Pencerahan. Itu disebutnya: post-modern. Begitu juga, ketika ia mengusulkan “agama tanpa agama” (religion without religion) ia bukannya mau menolak agama, melainkan dengan agama ia mau melampaui sekadar agama. Sebab tanpa agama, tidak ada teks yang dapat dibaca, tidak ada pertanyaan yang dapat diajukan, bahkan tidak ada St Augustinus yang menulis Confessiones. Tanpa agama kita juga tidak dapat berbicara tentang Tuhan, tentang iman, harapan, dan cinta kasih.

Tetapi berhenti di situ membuat agama menjadi sekadar repetisi bebal dan rentetan institusi yang menyesakkan. Caputo menganjurkan kita untuk dengan agama melewati agama, meraih agama tanpa agama. Agama tanpa agama meminta iman tanpa iman, demi Tuhan tanpa Tuhan.

Tuhan tanpa Tuhan?
Ya. Tanpa Tuhan (a-Dieu) kepada Tuhan (à-Dieu).
Karena esai ini sudah terlalu panjang, jadi saya ingin mengucapkan: adieu!

Jakarta, Agustus 2004

Trisno S. Sutanto

Catatan-catatan

(1) John D. Caputo, Agama Cinta, Agama Masa Depan, terj Martin L. Sinaga, Bandung; Penerbit Mizan, 2003. Seharusnya buku ini dibaca bersamaan dengan karya utama John D. Caputo, The Prayers and Tears of Jacques Derrida: Religion Without Religion, Indiana University Press 1997. Buku Agama Cinta merupakan ringkasan pikiran-pikiran Caputo dalam buku ini.

(2) Caputo membedakan dua modus masa depan. Pertama, masa depan sekarang (future present), yakni masa depan yang diarah oleh masa sekarang, yang kurang lebih dapat direncanakan sebelumnya dan karena itu bersifat relatif. Kedua, masa depan absolut (absolute future) yang selalu mrucut dari rengkuhan kita, masa depan yang tak (pernah) dapat diduga, apalagi direncanakan, sebelumnya. Saya memakai istilah Prancis l’avenir untuk merujuknya, karena l’avenir hanya mau mengatakan what-is-coming (“yang-akan-datang”) tanpa memberi spesifikasi, dan karena itu membuka semua kemungkinan yang-akan-datang.

(3) Versi Latin pertanyaan itu, Quid ergo amo, cum Deum meum amo?, dikutip Derrida, yang menyebut Augustinus sebagai “my compatriot”, dalam catatannya pada tahun 1981 yang kemudian diterbitkan dalam Geoffrey Bennington dan Jacques Derrida, Jacques Derrida, University of Chicago Press, 1993. Di situ Derrida menulis, “Dapatkah aku melakukan yang lain selain menerjemahkan kalimat S.A (St. Augustinus) ke dalam bahasaku …” Menurut Caputo, seluruh kehidupan Derrida merupakan komentar panjang atas pertanyaan ini. Dan buku Caputo, Prayers and Tears, merupakan usahanya untuk membuktikan hal ini!

(4) Bdk. Caputo, Prayers and Tears, 286 – 287: “Karena nama Tuhan adalah suatu cara untuk membiarkan segala sesuatu tetap terbuka, untuk membuka apa yang belum pernah dilihat mata dan didengar telinga, untuk berharap dan percaya pada segala yang-tak-mungkin, untuk berdoa dan menangis pada apa yang akan datang ― sekalipun nama itu sudah menjadi penutup yang penuh kekerasan, yang atas namanya kekejian yang paling keji terus menerus dilakukan.”

(5) Lihat Caputo, Prayers and Tears, xix. Dalam konteks esai ini, uraian Hent de Vries, Philosophy and the Turn to Religion, The John Hopkins University Press, 1999, sangat berguna. Lihat khususnya bab VI, “Apocalyptic and Enlightenment”, 359 dstnya.

Sumber: http://www.sttjakarta.ac.id/

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: