Pilar

November 1, 2006

The Da Vinci Code, Injil Yudas dan Kita

Filed under: Wacana — noviz @ 3:47 am

Makin banyak kritik, makin bagus! Itulah yang saya pikirkan ketika kekristenan dikritik oleh banyak pihak dewasa ini. Mulai dari film The last Temptation of Christ yang ”porno” karena menampilkan Yesus sebagai pria penuh hasrat seksual, sampai saat ini, novel dan film The Da Vinci Code yang laris , bahkan Injil Yudas yang dipopulerkan National Geograhic Society. Semua itu adalah sebagian kritik modern yang sebenarnya mendatangkan keuntungan selain kerugian (tentunya) bagi orang Kristen.

Berbicara mengenai keuntungan tampaknya kritik-kritik tersebut telah membangkitkan sebuah ”kesadaran berapologetika” yang baru di kalangan banyak orang Kristen. Mereka yang biasanya malas belajar doktrin apalagi sejarah gereja, mulai bergegas menuju ruang seminar dan kelas pembinaan untuk mengetahui bagaimana menyikapi kritik-kritik yang berkembang. Beberapa pimpinan gereja dan pengalaman pribadi saya menemukan bahwa akhir-akhir ini terjadi peningkatan jumlah yang cukup signifikan dari orang-orang Kristen yang tertarik belajar iman Kristen lebih dalam karena maraknya kritik yang berkembang. Betapa menyenangkannya melihat fakta ini! Tampaknya gereja harus berterima kasih kepada Dan Brown dan National Geographic Society yang getol mempopulerkan Injil Yudas.
Di sisi lain, tentu saja kekristenan ”dirugikan” karena sebuah kenyataan bahwa sebagian orang percaya menjadi ragu-ragu dan bahkan skeptis terhadap ajaran Kristen akibat meluasnya ajaran-ajaran yang tidak tepat ini.
The DaVinci Code misalnya, mengajarkan bahwa gereja pada dasarnya anti seks; Yesus menikah dengan Maria Magdalena dan memiliki keturunan; Kaisar Konstantin menjadikan kitab Matius, Markus, Lukas, Yohanes sebagai empat Injil yang baru dimasukkan sebagai Kitab Suci pada abad keempat masehi; Yesus baru dinobatkan sebagai Tuhan pada Konsili Nicea pada tahun 325 M melalui sebuah voting; dan kritik- kritik lainnya.
Selain itu, ketika membaca seluruh teks Injil Yudas (bahasa inggris hanya 7 halaman) maka jelas sekali bahwa Injil ini dipengaruhi aliran gnostik yang berkembang pada abad ke-1 hingga ke-4 Masehi. Di dalam Injil ini, Yesus menyebut Yudas sebagai ”roh yang ke-13” Aneh bukan? Mengapa Yudas, seorang manusia yang terdiri dari materi dan roh hanya disebut ”roh”? Yesus juga dicatat mentertawakan murid-muridnya karena berdoa sebelum makan. Hal ini disebabkan menurut Yesus, murid-muridnya telah mempermuliakan allah mereka melalui doa itu (perhatikan, disini Yesus seolah-olah menyatakan bahwa murid-murid menyembah allah yang salah dan berbeda dengan Allah Yesus). Yesus juga berkata kepada Yudas bahwa ia akan melampaui murid-murid yang lain. Ia berkata, ”But You will exceed all of them. For you will sacrifice the man that clothes me.” Kalimat ini secara implisit menyatakan bahwa Yesus adalah roh yang diselubungi dengan daging dan Yudas berjasa karena membantu Yesus melepaskan diri dari selubung kedagingan yang melekat pada dirinya.
Yah, itulah sekelumit kritik-kritik yang muncul akhir-akhir ini, sebuah perspektif ’kiri” terhadap ajaran kekristenan yang sudah mapan. Menjawab itu semua tentu saja bukan porsi tulisan singkat ini. Yang lebih penting adalah apakah kita sadar bahwa pembelaan iman Kristen adalah sesuatu yang relevan sepanjang jaman? Kekristenan tidak cukup hanya berisi puji-pujian dan meriahnya band di gereja. Orang Kristen perlu belajar apologetika- sebuah ilmu mempertahankan filsafat hidup Kristen dalam melawan berbagai bentuk filsafat hidup non Kristen (Van Til) yang kontekstual untuk zaman ini. Jika ada orang yang bertanya kepada Anda tentang perspektif iman Kristen dalam menghadapi kritik-kritik di atas, tentu Anda tidak akan sekedar merekomendasikan orang lain untuk menjawabnya bukan?
Secara pasti, Alkitab telah memberikan perintahnya dengan jelas kepada kita ”…Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab(Yunani:apologian) kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu…” (1 Petrus 3:15). Petrus menulis surat ini kepada jemaat umum, bukan sekelompok pendeta, penginjil atau teolog. Artinya, perintah untuk mempertanggungjawabkan iman Kristen terhadap semua pertanyaan dan kritik adalah tugas semua orang Kristen. Sesibuk apapun, pada umumnya kita masih sempat bersantai dan menyaksikan tayangan televisi. Mengapa kita tidak mengambil waktu untuk belajar mendalami iman kita dan menghadapi kritik-kritik yang ada? Bagi civitas akademika yang katanya adalah kaum intelektual, ”mengapa rela berjam-jam nonton film, bermain games, chatting, melihat wajah nampang di friendster, tetapi tidak rela belajar tentang keyakinan fundamental yaitu iman kita? Bagaimana kita tahu dan mampu berargumentasi bahwa iman Kristen memang berisi kebenaran dan bukan kebohongan seperti kata The Da Vinci Code? Bagaimana kita tahu dan mampu berargumentasi bahwa keempat Injil dalam Alkitab menyediakan perspektif yang benar dan bukan Injil Yudas?
Tentu saja, tidak ada jalan tol untuk tahu dan mampu berapologetika kecuali memiliki semangat untuk terus belajar dan mendalami apa yang kita percayai. Semoga kritik-kritik yang ada semakin menyadarkan kita untuk terus menjadi pembelajar-pembelajar kebenaran. Dalam kondisi apapun, kita harus siap sedia mempertanggung jawabkan iman kita!
Bedjo, S.E., M.Div.

Sumber: http://www.petra.ac.id/dwipekan/Content.php?Topic=Renungan&ID=27

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: