Pilar

November 1, 2006

Melacak Gnostisisme dan Feminisme Radikal Dalam Novel Da Vinci Code

Filed under: Wacana — noviz @ 3:34 am

Kebohongan Priority of SionImage
Dalam DVC Brown mengambil mentah-mentah legenda seputar Priority of Sion, dari buku-buku picisan yang sudah beredar sebelumnya, khususnya The Holy Blood, The Holy Grail, karya Michael Baigent, Richard Leight dan Henry Lincoln, yang terbit tahun 1982. Buku ini antara lain memuat dongeng mengenai Templar, yang mengaitkan para ksatria itu, dengan Freemansory. Mereka percaya bahwa Yesus memang menikahi Maria Magdalena, dan mempunyai keturunan yang hidup sampai sekarang, dan “fakta” disembunyikan oleh gereja berkat perlindungan Priority of Sion.
“Yang menjadi kekuatan Priority of Sion”, tulis Lynn Picknett dan Clive prince dalam The Templar Revolution, “ adalah mereka harus menjaga rahasia besar, yang apabila diumumkan akan mengguncangkan rahasia gereja dan negara”. Selanjutnya, mengenai Holy Grail, Brown merasa menemukan kunci untuk membuka kata-kata rahasia ini. Menurut Brown,kata holy grail berasal dari bahasa Perancis sangreal, yang ditulisnya Sang Real, “darah keturunan Raja”. Teori Brown ini jelas-jelas salah, pengejaan yang benar adalah San Greal yang artinya “Cawan Suci”. Sebab kata “darah keturunan raja” dalam bahasa Perancis le sang royal,bukan sang real.

Dalam legenda aslinya, Holy Grail bukanlah konsep rahasia. Legenda ini dikaitkan dengan penghormatan kepada ekaristi, yang digambarkan sebagai Cawan Kudus, yang muncul sebagai reaksi atas bidah-bidah yang tidak mempercayai Perjanjian Kudus pada abad ke-12 M dan ke-14 M. “Cawan Kudus” (Holy Grail) itu berisi seluruh tubuh Kristus yang bersifat ekaristi,yaitu Tubuh dan Darah-Nya. Karena itu “cawan suci” itu tidak lain adalah Santa Perawan Maria (Sayidatina Maryam al-Adzra’). Tetapi simbol ini dibelokkan oleh penulis The Holy Blood, The Holy Grail. “Cawan itu tidak berbicara tentang sesuatu”, tulis Brown dalam DVC, “tetapi berbicara mengenai seseorang”. Dan cawan suci itu adalah Maria Magdalena, sedangkan isi cawan adalah anak-anak keturunan Yesus dari hasil perkawinan-Nya dengan Maria Magdalena. Na’udzu bi Ilahi min dzalik.

Perlu ditegaskan, bahwa apa yang namanya Priority of Sion aslinya adalah sebuah Gereja St.Mary of Sion yang dibangun oleh para peserta perang salib pada tahun 1099 diatas reruntuhan Gereja Orthodoks Yunani yang dahulu bernama Hagia Sion. Tarekat-tarekat para rahib yang melayani di gereja tersebut disebut Prieure’ du Notre Dame de Sion. Tarekat ini sama sekali tidak kaitannya dengan legenda Priority of Sion yang tidak jelas “jluntrungan”-nya tersebut. Sedangkan Opus Dei yang disebut Brown sebagai “gereja” dan difitnahnya sebagai musuh Priority of Sion, juga bukanlah gereja, melainkan sebuah organisasi kerasulan awam yang anggota pasturnya tidak sampai 2% jumlahnya. Jadi, Opus Dei tidak mungkin memiliki seorang uskup, seperti disebut dalam buku DVC.

Mengenai fitnah Brown terhadap Gereja Katolik, yang dituduhnya “menyingkirkan Maria Magdalena dari Gereja, dan melarang keras namanya disebut”, sungguh-sungguh bertentangan dengan fakta sejarah. Perayaan Maria dilakukan setiap tanggal 21 Juli, bahkan dalam salah satu kotbahnya, Ambrosius, Uskup Milan, menghormatinya sebagai simbol ketaatan seorang hamba kepada Kristus, Sang Pohon Kehidupan. Pada abad ke-9 M, devosi kepada Maria Magdalena berkembang di Vezelay, di gereja Romannesque, Burgundy. Gereja ini didedikasi untuk menghormati St.Maria Magdalena. Sewaktu Gregorius menjabat sebagai abbas di biara tersebut (1037-1052), Maria Magdalena dikenal sebagai “santa pelindung” gereja tersebut, dibuktikan dengan surat Paus Leo, dalam sebuah buletin kepausan yang terbit tanggal 27 April 1050.

Memang ada tradisi abad pertentangan yang berkembang disana, bahwa setelah penyaliban Maria Magdalena, Marta dan Lazarus (disini Maria dari Betania dikaburkan dengan Maria Magdalena) diusir dari Palestina, dan tiba di Veselay. Setelah terapung-apung dalam perahu tanpa dayung, akhirnya tiba di Perancis Selatan. Beberapa legenda lain menggambarkan Maria Magdalena melewatkan akhir hayatnya dalam sebuah gua di Perancis sebagai petapa perempuan, yang hanya dibalut oleh rambutnya yang panjang. Semua legenda ini munculnya sekitar akhir abad ke-10 M, namun sama sekali tidak dijumpai cerita perkawinan Maria Magdalena dengan Yesus.

Dongeng perkawinan Maria Magdalena dengan Yesus, dimunculkan pertama kalinya pada abad modern ini oleh para teolog feminis radikal, yang selain menggunakan literatur gnostik yang ditafsirkan dengan membuang makna esoterisnya, kemudian oleh para penulis fiksi dihubungkan-hubungkan dengan legenda kedatangan Maria Magdalena ke Perancis Selatan, yang akhirnya “memelihara keturunan Yesus”. Bagi orang-orang yang serius menekuni penelitian ilmiah, sudah barang tentu kisah-kisah semacam ini tidak lebih dari “bualan orang sinting yang gila popularitas”, dan kriteria itu cocok untuk – siapa lagi kalau bukan- penulis fiksi semacam Dan Brown. Tapi setiap umat Tuhan yang cerdas pasti terpengaruh oleh bualan-bualan konyolnya. Akhirul kalam, saya ingin mengingatkan pesan yang sering saya sampaikan kepada anda: Ojo Gumunan, Ojo Kagetan, Ojo Goblok!
Penulis : Bambang Noorsena
Copy Rights 2006, pada penulis
Sumber http://www.iscs.or.id/do/index.php?option=com_content&task=view&id=23&Itemid=2

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: