Pilar

November 1, 2006

Makna Penemuan Injil Yudas Dalam Kajian Ilmu Heresiologi (Ilmu Bidat-bidat)

Filed under: Wacana — noviz @ 3:39 am

Yudas Iskariot: Pengkhianat ataukah Pahlawan?

Dalam logika Injil Yudas, Yudas Iskariot justru dianggap sebagai pahlawan, karena dia yang menolong Yesus agar segera disalibkan. Jadi, penyaliban itu adalah kehendak Yesus, karena “Yesus Gnostik” ini memandang bahwa tubuh itu kotor. Tubuh adalah penjara bagi Roh, karena itu tujuan spiritualitas tertinggi adalah pembebasan roh dari penjara tubuh. Dalam logika seperti ini, Yesus me-merintahkan kepada Yudas agar segera merealisasikan penyaliban itu.

Penyaliban tidak dipandang sebagai jalan keselamatan, tetapi sebagai pembebasan roh dari tubuh yang kotor tadi. Dan para pengikut Yesus, dalam perspektif kaum Gnostik, tidak diselaatkan oleh jalan penebusan yang dilakukan lewat engorbanan Yesus, melainkan oleh jalan meneladani Yesus, agar kita juga membebaskan roh agung dari tubuh kemanusiaan kita.

“Tetapi engkau lebih besar dari mereka semua”, kata Yesus kepada Yudas, “karena engkau akan mengorbankan wujud manusia yang meragai diriku”.[1] Yudas Iskariot dianggap orang yang paling mengerti rahasia kebenaran, karena pandangan Gnostik mempertentangkan roh dan tubuh. Dan tubuh Yesus itu dianggap tidak berguna, karena itu Roh Agung itu harus segera dibebaskan. “Lihat”, kata Yesus kepada Yudas, “segala sesuatu telah diberitahukan kepadamu. Angkatlah pandanganmu, dan lihatlah awan itu, serta cahaya yang ada didalamnya, maupun bintang-bintang yang mengelilinginya. Bintang yang mengarahkan jalan adalah bintangmu”.[2]

Seperti The Da Vinci Code disambut oleh para polemikus Muslim, begitu juga banyak dari mereka yang belum dewasa dalam dialog antariman, juga antusias menyambut Injil Yudas. Latarbelakang penyambutan itu, kira-nya jelas: ABG, “Asal Berbeda dengan Gereja”. Saya pernah ditanya oleh seorang tokoh Muslim, K.H. Arifin Assegaf di Manado, bagaimana pendapat saya mengenai Injil Yudas. Lebih khusus lagi, pertanyaannya: Apakah Yudas Iskariot itu pengkhianat atau Pahlawan? Saya teringat akan sebuah buku polemik karya J. Sumajien, Yudas Iskariot Pahlawan Kemanusiaan Menurut Logika Gereja (1969).
Menurut polemikus Muslim ini, Yudas mestinya dianggap pahlawan, sebab dengan menyerahkan Yesus untuk disalib, maka ia telah merealisasikan rencana Ilahi. Seandainya tidak ada Yudas, maka Yesus tidak jadi disalib, dan kalau Yesus tidak jadi disalib, maka tidak akan ada penebusan dosa. Meskipun tujuan penyaliban menurut Injil Yudas dan ajaran gereja berbeda, tetapi logika Injil Yudas yang mengangkat Yudas sebagai pahlawan ini sesung-uhnya sealur dengan logika polemik Sumajien. Kepada K.H. Arifin Assegaf, lalu saya ingatkan dengan siapakah Iblis menurut logika beberapa Sufi Muslim

Jangankan Yudas Iskariot”, kata saya dalam seminar tersebut, “sedangkan Iblis ‘alaihi la’nat saja, dalam perspektif Sufi bisa diagung-agungkan sebagai seorang monoteis (muwahid) sejati”. Kenapa tidak? Alasannya, Iblis diusir dari surga, justru karena ia menolak bersujud kepada Adam. Masalahnya, apakah benar motif penolakan Iblis bersujud kepada Adam itu benar-benar didasari atas kesadaran bahwa Allah satu-satunya yang berhak disembah dan Adam hanya makhluk belaka? Sebab alasan penolakan Iblis itu menurut Al-Qur’an, justru karena dilatarbelakangi oleh kesombongannya, bahwa ia merasa lebih tinggi dari Adam (Q.s. Al-A’râf/7:12). “Saya lebih baik ketimbang dia” (Anâ khairun minhu), jawab Iblis kepada Allah, “karena Engkau menicptakan saya dari api, sedangkan Adam Engkau ciptakan dari tanah” (khalaqtanî min nârin wa khalaq-tahu min thînin). Begitu juga, motivasi pengkhianatan Yudas menurut Perjanjian Baru bukan didasari atas reali-sasi rencana keselamatan Ilahi, melainkan karena mata duitan.

Kalau kita memahami ajaran Gnostik yang sebenarnya, maka mereka yang mendukung The Gospel of Judas harus mengubah total pandangan mereka selama ini mengenai dunia. Juga kepada rekan-rekan Muslim yang menyambut penerbitan buku ini, apakah mereka siap menerima ide-ide gnostik yang benar-benar nyeleneh dan asing, sehingga tidak hanya bertentangan dengan Iman Kristen, tetapi juga dengan agama Islam yang mereka anut selama ini.
5. Pandangan Gnostik mengenai Allah
Menurut ajaran kaum Gnostik, dunia yang kita huni ini adalah tempat yang jahat diciptakan oleh “Tuhan yang jahat”. Tuhan kejahatan itu adalah Yahweh (TUHAN), Pencipta langit dan bumi. Tuhan jahat yang menciptakan materi ini, bertentangan dengan Tuhan yang baik dan benar. Tuhan yang baik dan benar ini, tidak pernah menciptakan “dunia materi”. Itulah Tuhan yang menciptakan Roh Agung, yang juga dikenal sebagai Bapa Yesus Kristus. Jadi, Tuhan Perjanjian Lama adalah Tuhan yang lain dengan Tuhan Perjanjian Baru. Selanjutnya, kaum Gnostik menganggap diri mereka sebagai emanasi (mengaliran) dari Tuhan yang esa itu, dan sebagai percikan ilahi yang terkurung dalam dunia yang jahat ini. Menurut mereka, Yesus dikirim untuk mengingatkan pengikut Gnostik mengenai hakekat diri mereka yang sebenarnya. Kristus memberitakan rahasia (gnosis) pada para pengikut Gnostik agar mereka dapat melepaskan diri dari dunia yang jahat ini dan kembali kepada Tuhan yang benar. Itulah sebabnya tubuh Yesus tidak diperlukan, juga semua tubuh kita yang kita pakai di dunia ini. Untuk itulah, Yesus menyuruh Yudas untuk segera menyalibkan-Nya, agar secepatnya Ia terbebas dari penjara kedagingan. Tubuh material yang tidak lain hasil ciptaan Tuhan kejahatan. Inilah rahasia yang hanya diketahui Yudas Iskariot, sehingga Yesus menertawakan murid-murid-Nya yang lain. Mengapa? Karena murid-murid itu menyembah Saklas, Tuhan Allah yang jahat. Hanya Yudaslah satu-satunya murid yang mengerti asal-usul Yesus. “Saya tahu siapa engkau sesungguhnya”, kata Yudas menjawab pertanyaan Yesus, “dan aku tahu dari mana asalmu. Engkau berasal dari alam yang tak mengenal kematian, tempat kediaman Barbelo. Dan saya tidak pantas untuk mengucapkan nama dari Dia yang mengutusmu”.[1] Menurut Kasser, nama Barbelo berasal dari be arba lo (dengan empat nama El), tetapi hipotesis ini belum bisa dibuktikan. Sebab gambaran Allah dalam Perjanjian Lama sendiri di-tolak kaum Gnostik, jadi bagaimana mungkin mereka mengacu kepada tetagrammaton (keempat huruf suci, YHWH). Jelasnya, semua istilah seperti aeon, saklas, barbelo yang terdapat dalam Injil Yudas, — belum lagi menganalisis lebih dalam lagi pandangan teologisnya, — rasanya semuanya pemikiran-pemikiran asing yang tidak dijumpai di Israel pada zaman Yesus. Karena itu, penolakan terhadap Injil Yudas oleh Irenaeus, bukan sekedar karena ajaran mereka dianggap berbeda dengan gereja resmi, tetapi memang mereka tidak bisa membuktikan “mata rantai” ajaran mereka yang berasal dari para rasul, sebagaimana yang dimiliki oleh gereja yang kudus dan katolik (‘am atau universal). Masalahnya, bukan sekedar Irenaeus kontra Gnostik, tetapi juga siapakah Irenaeus dan siapakah kaum Gnostik. Irea-neus jelas-jelas murid dari Polikarpus, dan Polikarpus adalah murid Rasul Yohanes langsung. Jadi, jelas-jelas Irenaeus dan para bapa gereja dapat membuktikan asal-usul rasuli ajaran mereka. “Saya dapat memberikan daftar dari mereka yang diangkat sebagai uskup oleh rasul-rasul, begitu juga mereka yang menggantikannya hingga zaman ini” (Advesus Haereses III, 3:1). Asal-usul rasuli itu, yang dibuktikan melalui metode khilafah Rasuliyah (Suksesi Apostolik), telah membuktikan kesatuan ajaran Gereja Kristus. “Gereja, meskipun tersebar kemana-mana hingga ke ujung-ujung dunia, telah menerima dari para rasul serta murid-murid para rasul kepercayaan ini…” (Adversus Hereses I,10:1). Itulah kelemahan sejarah kaum Gnostik, karena mereka tidak mampu membuktikan secara historis asal-usul ajaran mereka dari salah satu rasul Kristus. Karena itu, mereka menempuh “jalan pintas” dengan mengatakan bahwa ajaran mereka itu telah disampaikan secara rahasia oleh Kristus kepada rasul tertentu yang dibajak namanya. Apakah itu “Injil Tomas”, atau “Injil Yudas”, sama saja. “Inilah perkataan rahasia yang disampaikan Yesus Kristus kepada Tomas Didimus, si Kembaran Kristus” (Injil Tomas, logia 1). Begitu juga, Injil Yudas dibuka dengan perkataan yang sama: “Inilah kisah rahasia mengenai pewahyuan yang diucapkan oleh Yesus dalam pembicaraannya dengan Yudas Iskariot selama seminggu, tiga hari sebelum dia merayakan Paskah”.[2]
Soal klaim ajaran rahasia inipun, dipatahkan oleh Ireneus dengan bukti kesinambungan ajaran rasuli: “Seandainya para rasul mengetahui rahasia-rahasia tersembunyi itu, dan memberitahukannya kepada “mereka yang sempurna” secara tersendiri dan secara rahasia, bukanlah lebih masuk akal kalau mereka memberitahukannya kepada orang-orang yang dipercayakannya untuk mengurusi gereja-gereja. Sebab mereka menghendaki agar pengganti-penggantinya sempurna tanpa cacat cela” (Adveses Hae-reses III, 3:1).¶

Penulis: Bambang Noorsena, SH
Copyright 2006, Pada penulis

The Gospel of Judas, hlm. 8.
[2]Ibid, hlm. 3-4.

[1]Rudolphe Kasser, Marvin Meyer dan Gregor Wurst, The Gospel of Judas. Alih Bahasa: Wandi S. Brata (Jakarta: Gramedia Purtaka Utama, 2006), hlm. 36.
[2]Ibid, hlm. 37.

Sumber: http://www.iscs.or.id/do/index.php?option=com_content&task=view&id=21&Itemid=2

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: