Pilar

November 16, 2006

Bunga Kenangan dari Gereja Ortodoks

Filed under: potret — noviz @ 7:51 am

JUMAT (9/4) lalu, di sebuah sudut Jabotabek di kawasan Kalimalang, sebuah ritual yang telah dilakukan sejak abad III Masehi mulai berdenyut. Dentang lonceng gereja memberi isyarat bagi sekelompok pria dan wanita yang mengenakan baju hitam-hitam untuk masuk ke dalam gereja.

Yang perempuan merapatkan kerudung, membuat tanda salib dan mencium ikon gambar Yesus di atas altar kayu yang berhias kain ungu di depan pintu gereja. Mereka lalu mengambil tempat di sebelah kiri. Bagi jemaat Gereja Ortodoks, mengenakan kerudung adalah lambang kerendahan hati. Terutama bagi perempuan yang diharapkan tidak datang dengan menonjolkan kecantikan semata.

Para pria yang masuk ke dalam gedung gereja, dengan ritual yang sama, mengambil tempat di kursi-kursi kayu yang berada di sebelah kanan, terpisah dari kaum perempuan. “Tidak wajib sebenarnya, perempuan dan laki-laki duduk terpisah dalam ibadah,” kata Romo Gabriel yang menjadi presbiter atau imam malam itu.

Sejak Senin sebelumnya, rangkaian ritual sudah dimulai. Diawali dari peringatan kisah sengsara Yesus Kristus, perjamuan kudus, dan pembasuhan kaki, seluruh rangkaian ritual itu berpuncak pada perayaan Paskah, kebangkitan Yesus Kristus.

Satu per satu jemaat mengambil tempat sehingga sekitar tujuh puluh orang memenuhi gereja. Ruang gereja yang terbuat dari kayu dan batu-batu alam itu mulai dipenuhi asap dupa. Bayangan puluhan lentera lilin jatuh di lukisan ikon-ikon gereja membuat gambar santa, santo, dan rasul yang terpasang di dinding seperti bergerak-gerak. Masing-masing gambar itu berbicara tentang unsur religi yang hendak disampaikan. Seperti gambar Yesus dengan jubah merah yang dibungkus kain biru merupakan lambang keilahian yang diselubungi kemanusiaan. “Lambang Yesus sebagai Tuhan yang datang ke dunia sebagai manusia,” kata Romo Gabriel.

“KYRIE Eleison, Tuhan kasihanilah,” senandung presbiter atau imam kebaktian. Seluruh kalimat malam itu disenandungkan, baik dalam bahasa Indonesia, Inggris, maupun Yunani.

“Di sini memang gereja ortodoks Yunani,” kata Roy Marten. Artis yang sebagian halaman rumahnya dipakai untuk bangunan gereja itu, Jumat malam, duduk berdua dengan istrinya, Anna Maria. Dalam kebaktian tersebut juga terlihat budayawan Remy Sylado.

Sesekali jemaat membungkuk dan membuat tanda salib dengan tiga buah jari-lambang Tritunggal. Mereka menghadap ke sebuah tandu dengan meja yang dipenuhi kelopak bunga merah dan putih, kitab bersampul emas, dan lukisan ikon Yesus Kristus dengan kain kafan. Bagian atas tandu tersebut dihias empat buah kubah, ditambah kubah yang terbesar di bagian tengah bertuliskan “Alpha dan Omega”.

Malam itu mereka melakukan ritual penguburan Yesus. Berbeda dengan gereja-gereja pada umumnya yang hari Jumat itu memperingati wafatnya Yesus di salib, Gereja Ortodoks menggunakan sistem waktu Yahudi, di mana kematian Kristus diperingati Jumat pagi. “Sekarang penguburan tubuh Kristus, setelah tadi siang jenazahnya sudah diturunkan dari salib,” kata Romo Gabriel.

Upacara penguburan itu berpusat pada tandu yang menjadi lambang keranda Kristus. Diawali dengan pembacaan kitab suci yang menyebut Tuhan sebagai Yahwe, jemaat lalu menyenandungkan kidung yang berisi puji-pujian, seperti Kidung Kanon, Kidung Katavasia, Kidung Kathisma, Kidung Kontakion, dan Kidung Oikos. Tidak ada nyanyian yang disertai dengan iringan alat musik dalam ritual jemaat Ortodoks.

Kidung-kidung itu berpuncak pada kidung dukacita, di mana seluruh jemaat berdiri dan mengelilingi keranda sambil bersenandung. Selama lebih dari setengah jam, senandung ayat-ayat dukacita keluar dari mulut mereka dengan irama yang berganti. Kidung dukacita ini lalu diikuti kidung berkat dan kidung pujian, sebelum kidung Puja Mulia yang membawa jemaat masuk ke arak-arakan keranda.

Keranda dibawa keliling keluar gereja, sebagai perlambang Yesus menjadi raja gereja di seluruh dunia. Sepanjang jalan, jemaat yang mengikuti di belakang keranda berjalan dengan menyenandungkan Kidung Trisuci, “Allah Mahakudus, Sang Kuasa Mahakudus, Sang Baka Mahakudus, kasihanilah kami.” Setiap kali arak-arakan berhenti, presbiter membacakan litani berupa doa untuk para uskup dan biarawan.

Arak-arakan berakhir saat masuk kembali ke dalam gereja. Jemaat masuk kembali ke dalam gereja dengan melewati bawah keranda yang sengaja diangkat tinggi-tinggi. Presbiter yang masuk paling belakang terus masuk ke altar untuk mendupai tempat suci yang tidak boleh sembarang dimasuki orang. “Syaratnya harus umat Gereja Ortodoks yang ditunjuk dan tidak boleh perempuan,” kata Romo Gabriel.

Acara malam itu dilanjutkan dengan pembacaan surat rasul dan Injil. Pada akhir ritual yang berlangsung selama dua setengah jam ini, jemaat dipersilakan berbaris satu per satu untuk menghormat pada keranda. Masing-masing membuat tanda salib dan mencium ikon Epitafios yang bergambar Yesus tengah diberi kain kafan.

Presbiter akan memberikan segenggam bunga hiasan keranda untuk dibawa pulang umat. Tampak beberapa orang menggenggam bunga anggrek ungu, melati, atau kelopak mawar untuk dibungkus dan dibawa pulang. “Ini kenang-kenangan, tanda kasih Tuhan kepada manusia,” kata Romo Gabriel.

Hingga pagi tiba, umat bergantian membacakan seluruh kitab Mazmur yang di dalam kitab suci Gereja Ortodoks berjumlah 151 pasal, atau lebih satu pasal dibandingkan dengan kitab suci umat gereja lainnya. Pembacaan itu akan diikuti ritual pagi hari, di mana seluruh ruang gereja akan penuh dengan daun kayu putih yang merupakan lambang penyembuhan.

Di Indonesia, Gereja Ortodoks dimulai dari seorang yang menganut aliran ini pada tahun 1988. Kini sudah ada sembilan paroki Gereja Ortodoks. “Di Jakarta, di sini, kalau kota lain ada di Solo, Boyolali, Yogyakarta, Mojokerto, Cilacap, dan beberapa kota di Sumatera,” kata Roy Marten.

Dalam sejarah, terjadi perpisahan antara gereja Katolik di Barat dan gereja Ortodoks di Timur pada tahun 1054. Muncul beberapa gereja Ortodoks dengan yuridiksi atau daerah masing-masing, misalnya Gereja Ortodoks Syria, Gereja Ortodoks Rusia, dan Gereja Ortodoks Yunani. Seluruh ritual Gereja Ortodoks tidak berubah sejak abad III Masehi. “Gereja Ortodoks adalah gereja sejarah, semua bisa ditelusuri sampai ke zaman murid-murid Yesus,” kata Romo Gabriel. (EDN)

Sumber: http://www.kompas.com/

5 Komentar »

  1. Maaf OOT:

    Anda Pernah mendengar http://www.mediamuslim.info jika belum.. coba klik sekarang.

    Silahkan menyebarluaskan artikel di http://www.mediamuslim.info semoga berkenan menambahkan link http://www.mediamuslim.info di setiap Blogs dan Situs kesayangan anda

    Terima Kasih Banyak

    Komentar oleh jelajahdunia — November 29, 2006 @ 11:12 pm | Balas

  2. kebenaran iman nasrani klik di link ini http://imannasrani.blogspot.com

    Komentar oleh imannasrani — Desember 31, 2009 @ 3:09 am | Balas

  3. Salam dari Jemaat Gereja Orthodoks Rusia , St. Iona dari Mancuria, Surabaya. Kristos Anesti….

    Komentar oleh Raden Athanasius Gerasimos — April 21, 2012 @ 3:28 am | Balas

  4. pengen tahu alamat gereja ortodoks di Solo atau Semarang Jawa Tengah…
    terima kasih,,

    Komentar oleh Felix Chandra Geo Bisma — September 23, 2013 @ 6:08 am | Balas

  5. shalom

    Komentar oleh Erick Steven Sinaga — April 26, 2014 @ 5:03 am | Balas


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: